• News

  • Opini

Peranan Gereja di Papua Penting untuk Redam Kemarahan

Warga melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Kabupaten Nabire, Papua
foto: papua.bisnis.com
Warga melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Kabupaten Nabire, Papua

JAYAPURA, NETRALNEWS.COM – Di Papua, penduduk Kristiani (Kristen dan Katolik) sangat banyak dan mayoritas. Di tengah situasi kesimpangsiuran dan kesalahpahaman yang menimbulkan amarah masyarakat Papua, peran pemimpin umat Kristiani menjadi sangat penting.

Mereka yang biasa disebut sebagai “gembala umat” seperti Pendeta, Pastor, maupun tokoh agama lain di Papua, hendaknya proaktif meredakan gejolak amarah warga Papua. Bila mereka semua bersuara secara kompak, maka dipastikan kesalahpahaman tidak melebar ke mana-mana.

Istilah “kesalahpahaman” sepertinya cukup tepat. Walaupun begitu, aparat kepolisian wajib melakukan investigasi dan pengungkapan secara menyeluruh. Namun hingga tulisan ini dibuat, kecenderungan kesalahpahaman sebagai penyebab kerusuhan di sejumlah kota memang sangat menonjol.

Kesalahpahaman itu bertambah dengan unsur-unsur berbau rasisme. Seruan tidak sopan yang ditujukan kepada  mahasiswa Papua memang patut disesalkan. Seruan itu bernada melecehkan harkat martabat saudara kita sebangsa.

Dalam hal ini, penting agar ke depan, semua golongan, suku, agama, dan ras yang ada di Indonesia wajib untuk terus mempertajam kesadaran bahwa Indonesia adalah bangsa majemuk yang mutlak harus saling menghormati. Hentikan stereotip bernada melecehkan.

Lagipula, sikap dan pandangan rasisme sudah tak laku. Semua bangsa di dunia menolak rasisme. Manusia yang satu dengan yang lain adalah sama harkat dan martabatnya. Hanya sayangnya, paham itu masih saja sesekali muncul dan tentu saja sangatlah mengganggu harmonisme.

Mengenai pentingnya peran pemuka agama, hal ini juga senada dengan apa yang diserukan oleh Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Nabire, Papua, AKBP Sonny M Nugroho.

Ia mengatakan kepada awak media bahwa tokoh agama berperan penting dalam meredam suasana di wilayahnya, khususnya ketika akan terjadi unjuk rasa terkait isu rasis.

Kapolres Nabire AKBP Sonny kepada Antara di Jayapura, Kamis (22/8/2019), mengatakan pihaknya sangat terbantu dengan partisipasi para tokoh agama di wilayahnya yang juga dibantu oleh TNI dan Brimob.

"Kami sempat meminta bantuan tokoh agama untuk menenangkan suasana dan ini berhasil," katanya seperti dinukil Antara.

Menurut Kapolres AKBP Sonny, selain tokoh agama, TNI dan Brimob, jajaran Forkompimda di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nabire juga berperan penting.

"Jadi kami hanya bersifat mengamankan jalannya penyampaian aspirasi oleh warga ini, namun secara keseluruhan tokoh agama dan Forkompimda sangat memiliki peran yang penting," ujarnya.

Unjuk rasa di Nabire yang berlangsung pada hari Kamis sekitar pukul 06.30 WIT hingga 13.30 WIT dilakukan oleh warga Nabire dan dilaksanakan di depan Kantor DPRD Kabupaten Nabire.

Dalam unjuk rasa tersebut, sempat terjadi insiden kecil sehingga menyebabkan kaca bangunan Kantor DPRD Kabupaten Nabire pecah. Bahkan petugas keamanan juga sempat dilempari massa, sehingga polisi harus melemparkan gas air mata.

Namun, situasi kembali kondusif usai pelaksanaan unjuk rasa tersebut, dan tidak ada jatuh korban jiwa. Situasi ini menandakan bahwa gejolak kekecewaan warga Papua masih belum benar-benar padam. Dalam hal seperti ini, peran aktif para pemuka agama di sana ikut menentukan.

Editor : Taat Ujianto