• News

  • Opini

Ketika Kemeriahan 1 Muharam Mengalahkan 1 Januari

Pawai obor memeringati Tahun Baru Islam 1 Muharam 1438 di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat
foto: poskotanews.com
Pawai obor memeringati Tahun Baru Islam 1 Muharam 1438 di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Sudah sejak dahulu, banyak anggota masyarakat Indonesia, terutama umat muslim sering membandingkan antara perayaan 1 Muharam dengan 1 Januari atau malam tahun baru Masehi.

Umat Islam sering mengaku prihatin bilamana umat Islam justru lebih menyenangi acara malam tahun baru 1 Masehi ketimbang 1 Muharam. Pasalnya, umat Islam semestinya justru lebih menghargai hari penting menurut agamanya.

Keprihatinan itu kemudian diwujudkan dengan berbagai kampanye agar perayaan 1 Muharam diselenggarakan di berbagai tempat secara lebih meriah. Dan sepanjang dua tahun terakhir ini, menurut pemantauan penulis, bila dibuat grafik, maka menunjukkan gerak yang semakin meningkat (meriah).

Malam ini, Sabtu (31/8/2019) di Jakarta, ribuan peserta pawai obor elektrik sedang memeriahkan Jakarta Muharam Festival. Pawai obor dilakukan longmacrh dari Silang Monas menuju Bundaran Hotel Indonesia.

Seperti diberitakan sejumlah media massa, sekitar 4.000 peserta pawai obor mulai berjalan sejak pukul 19.15 WIB. Pawai diawali dari Jalan Medan Merdeka Barat, Silang Monas, menuju ke Bundaran HI.

Para peserta obor datang dari lima wilayah kota Jakarta ditambah Kepulauan Seribu. Para peserta laki-laki mengenakan pakaian koko sedangkan perempuan kebanyakan memakai gamis. Tampak masing-masing dari mereka memegang tongkat obor.

Api yang digunakan bukan api sungguhan, melainkan lampu elektrik. Sepanjang perjalanan para peserta mengumandangkan selawat. Nyanyian selawat diiringi tabuh gendang yang dibawa oleh sebagian peserta.

Pawai obor itu akan disambut oleh Gubernur Anies Baswedan. Pawai obor ini merupakan rangkaian acara Jakarta Muharam Festival. Pawai obor ini sekaligus menjadi kompetisi yang pemenangnya akan mendapatkan piala gubernur.

Tidak hanya di Jakarta. Kemeriahan 1 Muharam juga terjadi di berbagai daerah. Menurut pemantauan penulis, di wilayah perkampungan di Bogor, di berbagai jalan juga dimeriahkan pawai obor. Ini sebagai bukti bahwa kemeriahan perayaan 1 Muharam semakin meningkat.

Melongok hakikatnya, Tahun Baru Islam 1440 Hijriah atau 1 Muharam, awalnya sebenarnya merupakan peristiwa besar berupa hijrah Nabi Muhammad SAW dari kota Mekkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 Masehi.

Peristiwa itu kemudian dijadikan sebagai nama Kalender Islam yakni “Hijriah”. Hal ini juga membedakan era sebelumnya di mana masyarakat Arab belum menggunakan sistem kalender tahunan. Mereka hanya menggunakan sistem hari dan bulan.

Sistem kalender Islam dirumuskan bersama oleh para sahabat Rasul Allah, antara lain Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Thalhan bin Ubaidillah. Dari diskusi itu, terpilihlah usulan dari Ali bin Abi Thalib yang berpijak pada peristiwa hijrah Kanjeng Nabi, lalu dinamakan kalender Hijriah.

Berawal dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW, peristiwa itu kemudian dijadikan sebagai strategi dakwah. Situasi Arab saat itu sedang dalam kekacauan dan tidak kondusif. Hijrah dijadikan sebagai simbol perjuangan meninggalkan hal-hal buruk ke arah yang lebih baik.

Hingga kini pun, simbol tersebut juga tetap berlaku untuk mengajak setiap orang belajar pada masa lalu dan terus berusaha meraih menuju kebaikan untuk diri sendiri dan masyarakat.

Sedangkan “Muharam” menunjuk nama bulan pertama dalam kalender Hijriah. Dalam bahasa Arab, Muharam berasal dari kata yang artinya 'diharamkan' atau 'dipantang', yaitu dilarang melakukan peperangan atau pertumpahan darah.

Dengan semua pengertian  di atas, maka bukan hal buruk bila setiap 1 Muharam, rutin diadakan perayaan yang menarik dan penuh makna. Selain berlomba dalam kemeriahan, jangan lupa pesan spiritual yang di balik itu.

Kita semua, sebagai umat manusia, secara pribadi maupun kelompok, wajib selalu berusaha meninggalkan hal-hal buruk dan merubah diri pribadi dan kelompok menjadi semakin baik. Kita berlomba dalam kebaikan untuk Indonesia tercinta.

Selamat Tahun Baru 1441 Hijriah.

 

Penulis: Ahmad Suteja

Editor : Taat Ujianto