• News

  • Opini

Muatan Truk hingga Sogok Menyogok di Balik Kecelakaan Maut Tol Cipularang

Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan
Netralnews/Istimewa
Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kecelakaan maut kembali terjadi lagi KM 91 Purwakarta di Tol Cipularang, Jawa Barat pada Senin 2 September 2019 dari arah Bandung menuju Jakarta. 

Polda Jawa Barat menyatakan bahwa  ada 8 orang  korban meninggal dunia, 3 luka berat dan 25 orang luka ringan dalam kecelakaan maut Tol Cipularang KM 91 Purwakarta, Jawa Barat.

Kejadian kecelakaan itu bermula dari adanya truk pertama bermuatan pasir berlebihan terbalik. Akibatnya, kendaraan lainnya berhenti menunggu truk pertama dievakuasi oleh petugas jalan tol Cipularang.

Saat menunggu evakuasi itu kemudian datanglah truk kedua bermuatan tanah berlebihan dengan kecepatan tinggi menabrak mobil-mobil yang sedang berhenti tersebut dan terjadilah kecelakaan beruntun saat  itu.

Ada beberapa kemungkinan  penyebab terjadinya kecelakaan tabrakan beruntun di atas. Misalnya saja bisa kita uraikan satu per satu  adalah:
1. Kondisi kendaraan, dalam hal ini kedua  truk pengangkut tanah dan pasir dalam kondisi tidak laik jalan,
2. Pengemudi kedua truk ugal-ugalan dan
3. Kurangnya pengawasan kelaikan kendaraan yang masuk ke jalan tol.

Kendaraan yang menjadi pemicu kecelakaan pada hari Senin siang tersebut adalah truk pengangkut pasir. Kondisi muatan pasir truk diduga berlebih atau over loading sehingga mengakibatkan tidak laik kondisi kendaraan dengan muatannya.

Lebih lanjut juga perlu diselidiki bagaimana kondisi pisik truk.  Apakah masih  sesuai dengan standarnya atau sudah dimodifikasi untuk menambah kapasitas aslinya?

Modifikasi dan perubahan pisik kendaraan ini jelas akan membahayakan karena sudah tidak laik lagi kondisinya sebagai  kendaraan bermotor truk. Muatan lebih dan modifikasi kendaraan bermotor jelas akan menyulitkan untuk mengemudikan di jalan raya secara aman.

Begitu pula pengemudi kedua kendaraan truk bisa diduga mengemudikan dengan cara yang tidak aman atau ugal-ugalan. Pengemudi truk pertama yang terbalik jelas karena cara mengemudikan kendaraan yang sudah melebihi kapasitas muatannya biasanya akan cepat untuk menghindari pengawasan aparat polisi di jalan tol.

Mengemudikan dengan cara kecepatan melebihi aturan inilah yang memungkinkan terjadinya kecelakaan  truk terbalik di jalan tol. Ada 25 mobil menunggu truk pertama dievakuasi.

Selanjutnya saat menunggu evakuasi, datanglah truk kedua yang bermuatan tanah berkecepatan tinggi tidak terkendali menabrak mobil-mobil yang berhenti karena ada truk pertama yang terbalik tadi.

Akhirnya terjadilah kecelakaan beruntun dan mengakibatkan 8 orang meninggal dunia dan 28 orang luka-luka karena kendaraannya ditabrak beruntun oleh truk kedua.

Kedua faktor penyebab kecelakaan tersebut menjadi mungkin terjadi karena tidak adanya pengawasan awal di jalan tol terhadap kendaraan yang over muatan (over loading) dan tidak laik jalan yang masuk ke dalam jalan tol. 

Hingga saat ini dapat dikatakan bahwa jalan tol di Indonesia tidak memiliki pengawasan dan penegakan hukum terhadap kendaraan yang muatannya melebihi kapasitasnya. Mudah sekali kita dapati truk berlebihan muatan dan sudah berubah kondisi pisiknya di jalan tol.

Semua kendaraan truk seakan mudah dan dibiarkan masuk ke jalan tol, apa pun kondisi buruknya. Pengawasan terhadap kondisi kendaraan dan over muatan hanya ada di jalan negara atau jalan raya reguler.

Tetapi pengawasan tersebut lemah karena sering tertangkap petugas jembatan timbang yang mudah disogok agar kendaraan truk bisa bebas beroperasi walaupun kondisi muatannya berlebihan.

Nah, untuk menghindari pengawasan di jalan raya negara inilah truk-truk memilih Mauk ke jalan tol yang tidak ada pengawasannya. Seperti kita lihat dan alami seringkali terjadi kemacetan di jalan tol karena ada kecelakaan truk-truk yang berjalan sangat pelan atau terbalik di jalan tol karena modifikasi tidak laik serta over muatannya.

Selanjutnya memang pemerintah harus bersikap tegas menegakan aturan agar kecelakaan lalu lintas di jalan raya atau di jalan tol bisa dihindari.

Beberapa langkah yang harus segera dilakukan pemerintah untuk menyelesaikan masalah kecelakaan truk di jalan tol adalah:

Pertama, menegakan aturan dan membersihkan jalan tol dari kendaraan truk yang dimodifikasi tidak sesuai standar dan over kapasitas muatannya. Upaya penegakan itu harus dimulai  sejak di pintuk masuk tol setiap kali truk hendak memasuki jalan tol.

Kedua, memerintahkan kepada para operator jalan tol juga Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) agar memasang alat timbang dan penegakan bagi truk yang muatannya melebihi kapasitas untuk menurunkan muatannya di awal jalan tol atau melarang masuk ke jalan tol.

Artinya pihak operator dan BPJT memerintahkan semua gerbang masuk jalan tol harus disertai alat timbang dan pengawasan ketat terhadap kondisi kelaikan truk.

Untuk penegakan  peraturan ini mewajibkan operator jalan tol dan BPJT bekerja sama dengan pihak kepolisian dan kementrian Perhubungan untuk pengawasan serta penegakan hukum terhadap truk-truk yang melanggar aturan kelaikan kendaraan serta kapasitas muatan.


Penulis: Azas Tigor Nainggolan
Analis Kebijakan Transportasi dan  Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)

Editor : Taat Ujianto