• News

  • Opini

Tanpa Djarum Bukan Kiamat bagi Bulutangkis Indonesia

Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan
foto: FB Azas Tigor Nainggolan
Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dalam hal kritik KPAI terhadap adanya indikasi penggunaan anak-anak untuk promosi produk Djarum dalam Audisi Djarum ada salah pemahaman publik. Antara Audisi Djarum dan Djarum itu sendiri adalah dua entitas yang menjadi satu.

Audisi Djarum adalah kegiatan audisi bibit pemain bulutangkis yang di lakukan oleh PB Djarum. Sementara Djarum itu sendiri adalah salah satu perusahaan swasta industri rokok yang memproduksi merek rokok Djarum di Indonesia. Logo kata Djarum yang digunakan PT Djarum untuk semua produk rokoknya.

Kejadiannya adalah dalam Audisi Djarum pihak PB Djarum menggunakan logo tulisan Djarum yang biasa sejak lama dan menjadi umum dalam produk rokok PT Djarum.

Pihak KPAI mengkritisi bahwa dalam audisi umum Djarum menggunakan logo tulisan Djarum. Diduga penggunaan logo kata Djarum ini menimbulkan asumsi atau "penglihatan penggunaan" kata Djarum sebagai niatan sekaligus untuk promosi pada kaos anak-anak peserta audisi.

Atas kritik KPAI ini pihak PB Djarum katanya akan menghentikan kegiatan Audisi Djarum nanti di tahun 2020. Rencana penghentian audisi Djarum ini menimbulkan kritik balik terhadap KPAI.

Banyak kritik publik terhadap KPAI telah menghilangkan mimpi menjadi atlit bulutangkis. KPAI juga dikritik tidak mendukung pembinaan bulutangkis nasional.

Padahal yang dikritik KPAI adalah penggunaan logo kata Djarum bukan audisinya. Kok dilakukan PB Djarum penghentian audisi Djarum di tahun 2020.

Mengapa tidak mengganti logo kata Djarum misalnya menjadi Audisi Bulutangkis Indonesia? Jelas ada kesalahpahaman yang dibangun untuk memojokan KPAI. Ada pembelokan isu dalam perdebatan ini, isu penolakan penggunaan logo kata Djarum menjadi penolakan penghentian audisi.

KPAI tidak menolak audisi bulutangkisnya. Tetapi yang ditolak adalah penggunaan logo kata Djarum yang identik dengan produk rokok.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah berhentinya PB Djarum dan tidak melakukan lagi audisi bulutangkis menjadi kiamat bagi pembinaan bulutangkis nasional?

Pembinaan bibit atlet olah raga, termasuk bulutangkis adalah tanggung jawab pemerintah dalam hal ini oleh Kementerian Pemuda dan Olah Raga. Memang ada juga pernah pengalaman perusahaan swasta lain dalam audisi pembinaan atlet sejak usia dini.

Salah satunya adalah pernah ada audisi dan pembinaan atlet sepak bola yang dilakukan oleh Perusahaan Kelompok Gramedia Kompas (KGK) dan berjalan baik.

Soalnya produk yang dihasilkan KGK bukan produk yang mengandung zat adiktif atau rokok bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Tanpa Djarum tetap ada peluang perusahaan swasta lainnya melakukan audisi olah raga bagi pembinaan atlet bulutangkis sejak usia dini.

Misalnya saja bisa dilakukan perusahaan swasta lain seperti PT Benang menjadi Audisi Benang yang tidak ada kaitannya dengan produk yang dikendalikan produknya oleh UU seperti rokok.

Sekarang ada peluang bagi swasta lainnya untuk terlibat setelah Djarum berhenti. Saatnya juga pemerintah khususnya kementerian Pemuda dan Olah Raga lebih giat lagi mendukung serta melakukan pembinaan oleh raga secara baik.

Tidak fair apabila tanggung jawab kementerian Pemuda dan Olah Raga dibebankan kepada sektor swasta semata. Jadi kementerian Pemuda dan Olah Raga adalah yang paling bertanggung bertanggung jawab melanjutkan audisi - pembinaan bibit atlet bulutangkis yang dihentikan oleh PB Djarum.

Penulis: Azas Tigor Nainggolan
Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)

Editor : Taat Ujianto