• News

  • Opini

Jokowi pun Berdoa Mohon Hujan, Perlukah Mengawinkan Kodok?

Ritual mengawinkan kodok di India untuk mendatangkan hujan
Indian Photo Agency/Caters
Ritual mengawinkan kodok di India untuk mendatangkan hujan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Kondisi kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan semakin memprihatinkan. Bencana tahunan setiap kali musim kemarau tetap saja selalu berulang terjadi.

Dalam kondisi seperti itu, masyarakat mengharap segera tiba turun hujan (musim penghujan). Hujan dianggap bisa segera mengakhiri derita akibat tebalnya asap. Selain rentan mengakibatkan infeksi saluran pernafasan, kabut asap juga memberikan citra buruk Indonesia di mata asing.

Harapan segera turun hujan tercermin dari apa yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Saat ia tiba di Pekanbaru, Riau, ia segera melakukan Salat Istisqa (salat minta hujan), Selasa (17/9/2019).

Berdasarkan data BMKG pada Selasa pagi konsentrat polutan PM10 yang terkandung pada jerebu terpantau pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya di Kota Pekanbaru. Wilayah Riau masih diselimuti asap cukup pekat yang mempengaruhi jarak pandang.

“Jarak pandang di Pekanbaru mulai membaik yang terkini sekitar 1,2 kilometer. Itu membaik dibandingkan pada pukul tujuh pagi hanya 800 meter,” kata Staf Analisis BMKG Stasiun Pekanbaru, Agus.

Jarak pandang di daerah lainnya masih cukup buruk seperti di Kota Rengat kini 800 meter, Kota Dumai 900 meter dan Kabupaten Pelalawan 600 meter.

Dari data BMKG, pada pukul 06.00 WIB satelit Terra Aqua mendeteksi 498 titik panas yang jadi indikasi karhutla di Sumatera. Daerah paling banyak adalah Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 194 titik, Jambi 174 titik, sedangkan di Riau 60 titik.

Khusus di Riau, dari 60 titik panas tersebut paling banyak di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) dengan 27 titik, dan Pelalawan 11 titik, Kota Dumai delapan titik, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) enam titik, Indragiri Hilir (Inhil) empat titik, Bengkalis dua titik, dan Kuansing serta Kampar masing-masing satu titik panas.

Dari jumlah tersebut, ada 41 yang dikategorikan titik api. Lokasi paling banyak juga di Rohil dan Pelalawan yang masing-masing ada 23 titik dan tujuh titik.

Seruan melakukan Salat Istisqa juga keluar dari Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas. Ia menyerukan dan mengajak masyarakat muslim untuk melakukan Salat mohon hujan tersebut.

"Memohon pertolongan Allah SWT dengan melakukan salat 2 rakaat agar diturunkan hujan," kata Robikin dalam keterangan tertulisnya.

Ia juga mengingatkan akan perlunya melakukan berbagai pendekatan, termasuk penegakan hukum di bidang hukum pidana, lingkungan hidup dan administrasi, untuk mengatasi bencana kabut asap.

"Bilah hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas terhadap pembakar hutan juga harus dibuktikan sebagai sesuatu yang tidak benar. Cabut izin perusahaan pembakar hutan dan pidanakan penanggung jawabnya," tegas Robikin.

Mengawinkan kodok

Harapan akan segera turun hujan, ternyata tidak hanya dilakukan oleh umat Islam. Di berbagai daerah lain, harapan agar segera turun hujan juga dilakukan melalui berbagai ritual tergantung agama dan budaya yang dianut.

Di daerah Takhatpur, sebuah desa pedalaman di Negara Bagian Chhattisgarh, India, mempunyai ritual unik demi mendatangkan hujan yakni dengan “menikahkan” seekor katak jantan dan betina.

Dilansir The Daily Mail, selain katak, beberapa desa wilayah berbeda di India juga menikahkan sepasang kerbau atau keledai untuk “mengemis” hujan. Pernikahan tak biasa ini dipercaya akan mendatangkan hujan yang bisa menyelamatkan mereka dari kekeringan parah.

Pernikahan ini diselenggarakan oleh seluruh penduduk desa. Kedua katak melakukan serangkaian upacara seperti perkawinan pengantin Hindu. Acara itu ditutup dengan ciuman kedua katak.

Di beberapa bagian India, katak dianggap memiliki kekuatan khusus sebab mereka bisa merasakan kedatangan hujan. Mereka membuat suara aneh setiap langit berubah mendung.

Setelah upacara khidmat, merapal doa, dan tari-tarian untuk Dewa Hujan, pengantin baru itu dilepas ke sungai terdekat buat menikmati bulan madu mereka.

Kodok pemanggil hujan di Nusantara

Sebenarnya, di Indonesia pun ada sejarah tentang ritual memanggil hujan dengan menempatkan kodok atau katak sebagai simbol penting. Hal ini tercermin misalnya dalam artefak berupa nekara peninggalan zaman perundagian yang ditemukan di berbagai daerah.

Salah satunya adalah nekara yang ditemukan di Tuban dan Pulau Alor dengan type Heger. Pada nekara tersebut terdapat hiasan katak. Ini menandakan bahwa alat yang biasa digunakan untuk upacara sakral, kuat dugaan digunakan saat masyarakat praaksara memohon berkah turun hujan.

Di beberapa daerah, nekara juga dianggap sebagai barang suci, genderang perang, menghormat roh nenek moyang, dan sebagainya. Di Alor, ada juga jenis nekara dengan bentuk kecil tapi memanjang dan biasa disebut moko.

Benda-benda kuno yang digunakan manusia purba di Nusantara membuktikan bahwa bencana kemarau, kesulitan air, dan mengharap hujan sudah merupakan kejadian yang berulang sejak zaman dahulu. Persoalannya, hingga kini, antisipasi belum mampu dilakukan secara tuntas.

Bahkan di era modern, abad milenium, kemarau di Indonesia identik dengan bencana kabut asap. Sayangnya, keberulangan tersebut tetap saja menjadi momok yang memusingkan seluruh elite politik di persada Nusantara.

Editor : Taat Ujianto