• News

  • Opini

Hasil ‘Memperkosa Alam’ Itu Bernama Hujan Buatan, Dampaknya?

Ilustrasi proses pembuatan hujan buatan
foto: istimewa
Ilustrasi proses pembuatan hujan buatan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Operasi teknologi modifikasi cuaca untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan telah berhasil menurunkan hujan buatan di Kota Dumai, Riau, Kamis (19/9/2019).

Sehari sebelumnya, Pesawat Hercules C-130 telah melakukan penyemaian garam NaCl sebanyak 3,4 ton di daerah Kota Dumai, Kabupaten Rokan Hilir, dan Kota Padang Sidempuan.

Hujan pun berhasil dipetik dan mengguyur Kota Dumai, tepatnya di Kelurahan Batu Teritip selama sekitar 30 menit dengan intensitas sedang. Operasi yang sama juga telah dilakukan di di wilayah Kalimantan Tengah.

Pesawat CN295 menyemai garam NaCl sebanyak 1.500 kilogram pada Rabu (18/9/2019) pukul 13.30 WIB hingga 15.45 WIB di wilayah Kabupaten Katingan, Utara Kota Palangkaraya, dan Kabupaten Kapuas pada ketinggian 8.000 kaki.

Konon, operasi teknologi modifikasi cuaca untuk turunkan hujan buatan tersebut akan terus dilakukan dalam beberapa hari ke depan untuk mempercepat pemadaman kebakaran hutan dan lahan gambut.

Dampak hujan buatan

Setiap upaya manusia selalu memberikan dampak positif dan negatif. Dengan berhasilnya hujan buatan, tentu ikut membantu proses mengakhiri bencana kabut asap yang beberapa hari terakhir menjadi sorotan khalayak maupun masyarakat asing.

Namun, patut diperhatikan pula dampak negatif yang bisa jadi akan dirasakan bukan dalam waktu dekat. Ini bisa diprediksi dari proses pembuatan hujan buatan yang bisa diistilahkan sebagai upaya “memperkosa alam”.

Artinya, hujan sebagai proses alamiah, direkayasa dan diintervensi oleh manusia. Dalam hal ini, manusia tidak hanya berdoa memohon berkah hujan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, tetapi dengan teknologi manusia menjadikan manusia sebagai “pencipta” hujan.

Hujan buatan yang dibuat manusa mengandung campuran bahan kimia yang bisa tentu menimbulkan kandungan hujan tidak lagi alamiah namun juga akan mengandung bahan kimia.

Bahan kimia itu bisa jadi menimbulkan efek buruk bagi keseimbangan alam, misalnya hujan asam yang berbahaya bagi makhluk hidup. Belum ada penyelidikan yang menyeluruh terkait dampak panjang dari hujan buatan.

Namun, yang namanya bukan proses alamiah, tetap ada dampak buruknya di masa mendatang. Garam yang ditaburkan berton-ton jumlahnya dapat menyebabkan air hujan bersifat asin dan juga membuat tanah yang terguyur bersifat asin.

Lahan pertanian dan hutan akan terganggu. Padahal, kita tahu di Sumatera dan Kalimantan terdapat hutan yang diharapkan bisa lestari sebagai paru-paru dunia.

Selain itu, hujan buatan dikhawatirkan juga akan menimbulkan ketidakstabilan siklus hidrologi. Saat musim kemarau diintervensi mendatangkan hujan tapi tak diperhitungkan bagaimana dampak sistem pasokan air di daerah lain dan di musim berikutnya.

Apalagi, hujan buatan yang terjadi saat ini langsung bersamaan dengan banyaknya asap kebakaran hutan. Percampuran CO2 dengan uap akan dapat menghasilkan gas CO3 yang berbahaya bagi jantung dan paru-paru, ditambah dengan adanya HCL dan NaOH di udara.

Proses kimiawi itu dikhawatirkan akan menimbulkan dampak penyakit yang tak terduga. Terakhir adalah bahwa hujan buatan juga dikhawatirkan ikut mempercepat proses pemanasan global.

Dalam konteks ini, hujan buatan sebagai model “memperkosa alam” sama saja sedang menabur malapetaka yang tak dikehendaki di rahim ibu pertiwi.

 

Penulis: Ahmad Suteja

Editor : Taat Ujianto