• News

  • Opini

Menakar Demo yang Dibodohi oleh Aktor Belakang Layar Lewat Telepon Pintar

Pelajar ikut demonstrasi dan berulangkali bertindak anarkis
foto: ayobandung.com
Pelajar ikut demonstrasi dan berulangkali bertindak anarkis

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Maraknya demosntrasi yang diwarnai aksi anarkis beberapa hari terakhir tak lepas dari pertemuan berbagai kepentingan yang saling berkelindan. Tak mudah menakarnya hanya berdasarkan ini atau karena itu saja.

Tulisan ini hanya menyoroti kecenderungan munculnya massa yang berhasil dipengaruhi dan digerakkan oleh “aktor belakang layar”. Para aktor itu menggunakan media sosial yang disebar melalui telepon pintar atau gawai.  Pertanyaannya, mengapa massa mudah digerakkan?

Penyebaran berita baik berupa tulisan, gambar, maupun video melalui media massa berlangsung sangat cepat, secepat munculnya respon dari penerimanya. Terkadang, belum sempat dicerna, belum dikonfirmasikan dengan sumber lain, muncul reaksi emosional yang spontan.

Bentuk reaksinya beragam, bisa mengumpat, langsung menyebarkan ke orang lain, tertawa, marah, dan sebagainya. Keberadaan telepon pintar atau gawai dengan demikian rentan membuat kita “dibodohi”.

Kondisi tersebut seringkali dimanfaatkan oknum atau pihak tertentu untuk menggiring, mengarahkan, bahkan menggerakkan orang lain. Mereka ini adalah produsen informasi, untuk tujuan tertentu.

Keberadaan aneka gawai dengan berbagai fasilitas di dalamnya berhasil membuat orang malas berpikir rumit. Akibatnya, seseorang bisa dengan mudah dikendalikan pihak lain.

Contoh misalnya, rekaman ajakan melakukan kerusuhan yang dalam dua hari ini beredar luas dengan sangat cepat. Dalam rekaman itu disebutkan bahwa bila ingin menjatuhkan rezim, maka arahkan pengrusakan ke titik-titik tertentu.

Contoh lain adalah banyaknya pelajar sekolah (bahkan tak sedikit dari anak SMP) usah menerima ajakan turun ke jalan yang tersebar melalui media sosial. Padahal, dipastikan, para pelajar itu tak tahu apa isi RUU-RUU yang dipermasalahkan.

Tak sedikit, ajakan turun ke jalan dibumbui dengan seruan berbau agama. Bagi orang yang memiliki sentimen tertentu, otomatis akan memberikan respons tertentu. Bagi yang menolak, mungkin karena ia memiliki latar belakang sebagai “lawan” dari si produsen berita.

Namun, bila si penerima rekaman adalah pihak “satu kubu”, maka ajakan itu bisa menjadi petunjuk arah untuk bergerak. Bila benar, aksinya adalah menanggapi dan ikut melakukan aksi.

Ketika orang itu benar-benar melakukan aksi bahkan ikut bertindak anarkis, maka secara tidak sadar, sebenarnya sedang dibodohi oleh pihak produsen berita lewat telepon pintar.

Pakar komunikasi dari STIKOM Semarang Gunawan Witjaksana mengatakan bahwa salah satu faktor penyebab seseorang bisa mudah “dibodohi” oleh telepon pintar adalah karena tidak beimbangnya antara pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dibanding tingkat literasi di pihak penggunanya.

Seorang pengguna telepon pintar, semestinya memiliki kesadaran bahwa dalam media sosial berlaku hukum “tidak jelas” siapa penanggung jawabnya.

“Makin celaka lagi, bila seseorang atau sekelompok orang menerima informasi tidak memiliki informasi pembanding, mereka cenderung percaya meskipun informasi tersebut menyesatkan," kata Drs. Gunawan Witjaksana, M.Si. di Semarang..

Ahli antropologi budaya, Koentjaraningrat, suatu kali pernah mengatakan bahwa manusia memiliki mentalitet menerabas atau ingin cepat, praktis, tak mau repot. Dengan demikian, kecenderungan ini dimanfaatkan dengan sukses oleh telepon pintar.

Maka, kemampuan pengguna telepon pintar menyaring informasi sehingga tidak mudah terprovokasi, mutlak diperlukan.

Drs. Gunawan Witjaksana  menduga bahwa tak sedikit orang (tanpa memungkiri adanya gerakan murni dari mahasiswa) yang  merespon merespons gerakan massa di sejumlah daerah karena menolak pengesahan UU KPK, RUU KUHP, RUU Pertanahan, dan sejumlah rancangan undang-undang lainnya, tapi tak paham isinya.

Dalam hal ini, menurut Gunawan, yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Semarang, gerakan massa seperti itu sebenarnya tidaklah berlangsung secara spontan, tetapi ada pemicu dan yang menggerakkannya.

"Yang menggerakkan tentu mempunyai bermacam kepentingan, dan enggak mungkin tunggal. Ini tampak dari beraneka ragamnya isu dan tuntutan," kata Gunawan.

Agenda terselubung itu sebenarnya sudah mulai telanjang yakni terkait dengan pelantikan pasangan calon terpilih pada Pemilu Presiden, dan Wakil Presiden 2019, Joko Widodo dan K.H. Ma'ruf Amin, yang dijadwalkan pada tanggal 20 Oktober mendatang.

"Solusinya, dalam jangka pendek, perlu ada pembatasan media sosial (medsos) dan pemberian sanksi tegas yang terpublikasi sehingga membuat jera," kata pakar komunikasi ini.

Dalam jangka panjang, melalui literasi komunikasi dan media, menurut dia, masyarakat awam akan menjadi cerdas. Ketua STIKOM ini juga berharap para elite berpolitik sesuai dengan konstitusi, undang-undang, dan berbagai peraturan yang berlaku.

Bagi siapapun, penting untuk menyadari bagaimana memperlakukan keberadaan telepon pintar. Malas mengkritisi bereda yang beredar berarti  mudah dibodohi oleh aktor-aktor di belakang layar, sekalipun dengan slogan-slogan atau dikemas dengan bungkusan agama.

 

Penulis: Ahmad Suteja

Pengamat Sosial Politik tinggal di Bogor

Editor : Taat Ujianto