• News

  • Opini

Kongkow Pagi, Supir DAMRI Saja Dengarkan Kritik

Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan
Netralnews/Istimewa
Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kongkow dan berdiskusi soal layanan publik tetap menarik buat saya. Pagi ini saya berkesempatan kongkow dan diskusi tentang layanan Bus DAMRI dengan petugas atau pengemudinya langsung.

Kebetulan saat menunggu keberangkatan dari Stasiun Gambir ke Bandara Soekarno Hatta (Soeta) saya disapa oleh Pak Yongki, pengemudi bus DAMRI.

"Pak Tigor, ya?" Sapa Pak Yongki.

"Iya pak," saya jawab sambil tersenyum.

"Boleh saya ngobrol sama Bapak?" Pinta Pak Yongki.

"Oh boleh dong, Pak. Masalah apa, Pak?" lanjut saya.

"Iya Pak Tigor, ini tentang pelayanan kami DAMRI, terkait tulisan Pak Tigor beberapa waktu lalu. Saat ini, saya dan teman-teman petugas DAMRI terus berusaha memperbaiki pelayanan kepada penumpang dengan segala keterbatasan kami. Kami terus mau memperbaiki layanan agar DAMRI menjadi alat angkutan umum pilihan masyarakat," tutur Pak Yongki.

Menurutnya, sistem perbaikan yang dilakukan tetap diusahakan agar berjalan baik. Kontrol perjalanan dan penumpang sudah bisa dilakukan. Tetapi memang masih ada masalah pada jaringan alat sistem kontrol online di bus masih sering error atau tidak bisa terhubung baik karena digunakan dalam layanan yang bergerak di atas bus.

"Perlu dipilih operator jaringan yang lebih baik sehingga berjalan baik digunakan di lapangan. Tetapi kami tetap melakukan kontrol dan laporan penumpang  dengan setengah merobek tiket penumpang," imbuh Pak Yongki. 

Kepada saya pak Yongki bercerita bahwa kontrol dengan mesin tap tiket sering terhambat karena jaringan yang kerap error atau tidak terhubung baik. Sistem kontrol online tiket menurut Pak Yongki membantu dan memudahkan para driver dan pengawas lapangan.

Harapan Pak Yongki ke depan ada perbaikan sistem jaringan online agar meringankan kerja pengawasan terhadap perjalanan dan penumpang.

Pengalaman kongkow dengan Pak Yongki sangat mengesankan saya. Bayangkan, seorang pengemudi DAMRI  menanggapi dengan baik dan mengajak diskusi bersama secara nyaman.

Saya merasa Pak Yongki bisa menerima kritik dan mau memperbaiki kinerja layanan kepada penumpang dan perusahaan DAMRI. Saya rasakan juga bahwa kritik dalam tulisan saya dijadikan masukan bagi Pak Yongki untuk membangun layanan DAMRI yang lebih baik.

Walau ada kesulitan, Pak Yongki tetap berusaha menjalankan perbaikan sistem dan harapan perusahaan agar dapat memberi layanan terbaik kepada penggunanya DAMRI.

Ya, kritik dan sikap kritis pengguna ditempatkan sebagai informasi dan alat bantu peningkatan layanan. "Tidak anti kritik" itu yang saya lihat ada dalam sikap Pak Yongki sebagai pengemudi DAMRI.

Luar biasa, saya merasakan sikap positifnya Pak Yongki. Saat saya coba katakan tentang tarif DAMRI bandara Soeta yang perlu dinaikan, Pak Yongki menanggapi bahwa perlu menghitung peluang di lapangan lebih dulu.

Sebab, di lapangan sering kali para kompetitor DAMRI bersikap curang dalam mendapatkan penumpang. Kondisi ini membuat sulit jika DAMRI ingin menaikan tarif.  

Sebagai pengemudi sadar betul tanggung jawab terdepan bagi kinerja pelayanan perusahaan. Etos atau semangat tanggung jawab sebagai petugas pelayanan publik ini luar biasa hingga hidup di garis terdepan layanan DAMRI, di pengemudinya.

Artinya adalah perbaikan sistem yang dibangun oleh manajemen mampu ditangkap dan  menggerakkan sampai lini atau garis paling depan, dekat dengan penggunanya di lapangan.

Pesan perbaikan yang bisa diterima dan menggerakkan semua yang ada dalam satu sistem adalah penting dalam memberi kepuasaan bagi pengguna  pelayanan publik.

Perbaikan sistem layanan akan membuat pengguna layanan publik DAMRI menjadi persembahan terbaik hingga pengguna bisa menikmati layanannya secara maksimal.


Penulis: Azas Tigor Nainggolan
Analis Kebijakan Transportasi dan Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)

Editor : Taat Ujianto