• News

  • Opini

Karma Ahok Bertuah Lagi, Kali Ini di Kasus Ninoy Karundeng

Birgaldo Sinaga
Facebook/Birgaldo
Birgaldo Sinaga

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Saya tidak akan mungkin lupa kata-kata Ahok di dalam pengadilan usai divonis dua tahun penjara pada Rabu, 9 Mei 2017. Saat itu saya menanti harap-harap cemas di atas mobil komando Auditorium Kementan Ragunan tempat Ahok di sidang.

Kata Ahok bergetar, "Percayalah. Sebagai penutup, kalau anda menzolimi saya, yang anda lawan adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Esa. Saya akan buktikan satu persatu dipermalukan. Terima kasih."

Aksi 411 2016 awal gelombang FPI menyeret Ahok ke jeruji besi. Aksi 411 itu membesar menjadi GNPF MUI 212. Tiada hari mereka FPI dan pentolan 212 mencaci maki, menyumpah serapah Ahok.

Sumpah serapah dan gelombang protes memuncak pada aksi 212 yang akhirnya membuat Ahok jadi pesakitan. Kalah pilgub. Masuk penjara.

6 November 2017, dari Saudi Arabia HRS diberitakan diperiksa Polisi KSA karena HRS diduga mengibarkan bendera hitam yang mirip bendera HTI. Nasib HRS di negeri seberang memang bikin miris. Di sini HRS dielu-elukan pengikutnya, di sana jauh berbeda.

Satu persatu orang-orang yang mengutuki dan menyumpah serapah Ahok kena karma Ahok.

Gubernur Jambi Zumi Zola yang ikut aksi 212 akhirnya masuk jeruji besi KPK.

Ratna Sarumpaet juga kena karma masuk penjara dipermalukan dengan kebohongan muka bonyoknya.

Ahmad Dhani juga kena karma masuk penjara karena terbukti bersalah melakukan penghinaan.

Juga nama-nama seperti Habib Bahar Smith, Jonru, Buni Yani, adik Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan kena karma Ahok juga.

Ada banyak orang-orang yang dulu begitu membenci Ahok akhirnya dipermalukan.

Dan puncaknya, hari ini kita terperanjat. Kaget bin tak percaya.

Pentolan PA 212 dan FPI diduga terlibat dalam penyekapan, penyiksaan, pengeroyokan disertai pengancaman Ninoy Karundeng.

Nama Sekjen PA 212 Ustad Bernard Abdul Jabar santer terdengar namanya diduga masuk dan terlibat mengintimidasi Ninoy. Novel Bakmunin juga dipanggil untuk diperiksa pada 10 Oktober nanti.

Nama Sekum FPI Munarman juga setali tiga uang diduga punya peran dalam kasus Ninoy.

Kekerasan verbal yang dulu mereka pakai menyeret Ahok kali ini menjadi bumerang. Senjata makan tuan.

Benarlah kalimat bijak yang mengatakan orang yang hidupnya dengan pedang, akan mati dengan pedang juga.

Orang yang hidupnya penuh kekerasan kebencian, akan jatuh dengan kekerasan dan kebencian yang dibuatnya sendiri. Hanya menunggu waktu saja.

Hari ini, Ahok berada di suatu tempat yang indah. Ia sedang berbahagia menanti kelahiran bayinya. Ia sering wara wiri jalan-jalan ke luar negeri. Pun juga di dalam negeri Ahok keliling Indonesia untuk memajukan negerinya.

Hari ini, di tempat ruang penyidik Polda Metro Jaya, kertak gigi dan jantung berdebar kencang terlihat dari para pentolan ormas FPI dan PA 212.

Mereka akan diminta pertanggungjawabannya atas apa yang mereka lakukan pada malam 30 September hingga subuh 1 Oktober di Mesjid Al Falah Pejompongan.

Karma menemukan jalannya sendiri. Siapa yang menabur angin akan menuai badai. Siapa yang menzolimi orang tidak bersalah akan menerima karmanya.

Pada akhirnya kebenaran akan mencari jalannya sendiri.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto