• News

  • Opini

Reshuffle Kabinet Indonesia Maju

Kabinet Indonesia Maju
foto: wikipedia
Kabinet Indonesia Maju

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Meskipun pelantikan susunan anggota kabinet Jokowi Jilid II atau Kabinet Indonesia Maju sudah berlangsung sepekan, namun membahas komposisi dan hakikat di balik kabinet tersebut tetap menjadi bahasan menarik.

Salah satunya dikaitkan dengan pertanyaan, berapa lama kabinet tersebut mampu bertahan?  Apakah akan terjadi reshuffle kabinet dan kapan itu dilakukan?

Saat pengumuman anggota kabinet, Presiden Jokowi sempat melontarkan pernyataan bahwa jika ada menteri yang tidak cakap akan dicopot di tengah jalan.

Pernyataan tersebut memberi pertanda bahwa reshuffle adalah keniscayaan. Cepat atau lambat akan terjadi. Pertanyaannya, apakah semua menteri memiliki peluang yang sama untuk bisa diganti?

Bagaimana dengan Menhan Prabowo Subianto? Beranikah Jokowi menggantinya di tengah jalan jika terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki? Apa akibatnya jika Prabowo tak sampai menjabat hingga lima tahun?

Beragam pertanyaan tersebut tentu belum ada jawabannya. Setidaknya bisa menjadi bahan permenungan semua pihak bahwa ada banyak kemungkinan menarik selama lima tahun mendatang jika kita melihat komposisi susunan anggota Kabinet Jokowi Jilid II secara lebih seksama.

Prabowo selaku Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra diberikan kepercayaan Presiden Jokowi sebagai Menteri Pertahanan. Sementara  di pihak Partai Demokrat, walaupun juga telah melakukan lobi-lobi intens dengan Jokowi, ternyata tak mendapat jatah menteri.

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang digadang-gadang dan berpeluang menjabat, ternyata namanya tidak muncul. Ada sas-sus, konon Jokowi sebenarnya memperjuangkan AHY bisa dapatkan “kue” kabinet. Namun ada bisikan lain dari sesepuh PDIP sehingga  telunjuk Jokowi berpindah arah.

Ciri menarik berikutnya dapat dilihat dari personil Kabinet yang merupakan mantan petinggi TNI-Polri. Ada enam jenderal di dalamnya yakni Mendagri adalah Tito Karnavian, Menhan Prabowo Subianto (TNI), Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan, Menag Fachrul Razi, Kastaf Kepresidenan Moeldoko, dan Menkes dr Terawan yang baru naik pangkat jadi Letjen.

Ini menjadi simbol bahwa Jokowi ingin agar pemerintahannya selama lima tahun ke depan benar-benar didukung oleh kekuatan yang kuat lengkap dengan strategi dan pengaman berlapis dan bekerja sama dengan para menteri dari kalangan sipil.

Berikutnya tentang kalangan muda yang dilibatkan dalam kabinet. Ini tercermin dari munculnya nama Mendikbud Nadiem Makarim (35), Menparekraf Wishnutama (49), Kepala BKPM Bahlil Lahadalia (43), Mensos Juliari Batubara (47), Menteri KKP Edhy Prabowo (47), dan Menteri BUMN Erick Thohir (49).

Mereka semua diharapkan mampu memberikan gebrakan berarti bagi pembangunan ekonomi dan SDM yang kreatif, bisa diterima kaum milenial, gesit, dan sebagainya.

Terakhir, bahwa Jokowi merancang komposisi Kabinet Indonesia Maju, tentu tidak asal-asalan. Ia memiliki beberapa agenda penting di antaranya keseriusannya dalam menghadapi ancaman pihak-pihak yang menggunakan isu SARA, separatisme, politisasi agama, radikalisme, anarkisme, dan sebagainya.

Pembangunan di bidang SDM juga tak kalah serius. Ia ingin Indonesia benar-benar mengalami lompatan menuju negara maju. Di pundak para menteri itulah impiannya ingin diwujudkan. Bila ada menteri gagal mewujudkan, reshuffle jawabannya. Kita lihat bagaimana jadinya.

 

Penulis: Ahmad Suteja

 

Editor : Taat Ujianto