• News

  • Opini

Pewaris Surga dan Ahli Waris Neraka, Selamat Natal Haram dan Tak Haram

Birgaldo Sinaga
foto: istimewa
Birgaldo Sinaga

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Suatu hari saya berada di sebuah rumah sakit Katolik. Ramai para ibu dan anaknya antri menunggu giliran diperiksa dokter.

Pandanganku tertuju pada salib Yesus Kristus berukuran besar menggantung tepat di depan apotek.

Di depan apotek RS berjejer kursi tunggu yang terbuat dari besi. Ada lima baris kursi berjajar. Hampir semua kursi terisi. Pagi ini RS ramai pasien. Ada yang pake BPJS ada yang umum.

Tepat di depan saya menunggu giliran, ada sekitar lima orang ibu-ibu berkerudung duduk menunggu panggilan.

Di sayap kiri depan ruang praktik dokter juga ada lima orang ibu berhijab duduk sabar menunggu antrian.

Sambil menunggu panggilan, saya melihat sekeliling. Mengamati dengan seksama. Apakah ada diskiriminasi perawat pada pasien karena berbeda agama, suku, ras?

Apakah ada perlakuan tidak sepantasnya di luar profesionalisme etika kedokteran dan pelayanan medis?

Saya melihat dan merekam dalam ingatan saya semua aktifitas di rumah sakit itu. Para Ibu muslim yang berhijab tetap tenang dan nyaman menunggu pelayanan perobatan anaknya.

Di kepingan ruang lain, pikiran saya menerawang pada realitas kebangsaan kita yang bak bara dalam sekam.

Relasi persaudaraan sesama anak bangsa semakin terdesak oleh pembelahan kau dan kami. Kafir dan tidak kafir. Pewaris surga dan ahli waris neraka.

Saya membaca di medsos, merasakan, melihat dan mendengar begitu banyak seruan kebencian menyeruak kencang masuk ke jiwa pikiran kita.

Mengucapkan selamat Natal saja sudah jadi polemik haram dan tak haram yang terasa menjengkelkan membacanya.

Beberapa waktu lalu saya menulis kritikan panjang tentang tausiah UAS. Kritikan tentang pesan kebencian yang terlempar dari pikiran UAS yang jujur harus saya katakan sangat menyakiti hati.

Saya tidak berdebat atau berargumen soal teologia Islam soal diksi kafir dalam ayat suci Alquran. Bukan menantang kata kafir itu.

Pemahaman teologi Islam oleh sahabat muslim tidak seorang pun bisa menggugatnya. Itu wilayah teologi.

Saya hanya menggugat bahwa ucapan UAS ketika terlempar ke ruang publik sungguh menyakiti.

Apalah artinya kita mengaku bersaudara dalam satu bangsa, bertanah air satu, bertumpah darah satu jika kita menganggap yang berbeda iman dengan kita adalah najis kafir yang kelak menjadi kayu bakar neraka.

Silahkan genggam keras ayat itu sebagai lambang kesalehan pada kalam Ilahi Anda. Namun membombardir kata penuh kebencian itu di ruang publik tentu mengoyak hubungan.

Orang botak meski faktanya botak tentu marah jika kita panggil si botak. Orang pincang meski kakinya pincang tentu marah jika kita panggil si pincang. Apalagi di ruang umum.

Apalagi mengolok-olok orang kafir dari persfektif yang berbeda iman. Padahal orang kafir itu percaya Tuhan. Tuhan Yang Maha Esa. Soal aqidah, syariah, tauhid, para nabi, ritual atau dogma agama yang berbeda itu lain soal.

Saya percaya iman Kristiani saya mengajar saya untuk mencintai sesama manusia tanpa diskriminasi. Saya percaya iman Kristiani saya itu penuh kasih. Saya percaya iman Kristiani saya harus ada aksi.

Semua hukum Allah bertumpu pada dua hal paling dasar. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap akal budimu dan dengan segenap pikiranmu. Itu yang pertama.

Dan yang kedua yang sama nilainya adalah kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.

Pada dua hukum inilah tiang kemanusiaan kita tergambar. Apakah kita seturut dan segambar dengan Allah Yang Maha Pengasih?

Apakah kita secitra dan segambar dengan sifat Allah Yang Maha Penyayang?

Atau jangan-jangan kita keliru mengartikan kalam Allah lalu mengklaim diri kita manusia suci sementara manusia ciptaannya yang lain yang sama dengan kita adalah manusia yang menjijikkan penuh dosa dan noda.

Siapalah kita ini yang terbuat dari debu dan akan kembali menjadi debu. Terus mengapa kita sombong takabur seakan kita berjalan di atas debu dan mengibaskannya?

Di rumah sakit Katolik itu saya belajar bahwa merawat welas asih kemanusiaan tanpa syarat sejatinya merefleksikan bahwa kasih sayang Tuhan itu juga mengalir kepada kita tanpa satu syarat apapun.

Seperti udara yang kita hirup hingga kita bisa hidup bernafas ini. Adakah udara itu hanya mengalir pada hidung orang kafir atau tidak kafir? Tidak ada bukan?

Seperti langit di atas sana, adakah langit itu memayungi kita dengan warna berbeda berdasar agama? Bahwa kafir itu musuh Allah sehingga langitnya kelabu sedangkan yang merasa tidak kafir langitnya biru?

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto