• News

  • Opini

Bom Koyak Gereja, Saya Maafkan Teroris Itu tapi Tak Bisa Lupakan Kematian Anakku

Birgaldo Sinaga saat mengunjungi Ibu Intan (paling kiri) dan foto mendiang Intan
Facebook/Birgaldo
Birgaldo Sinaga saat mengunjungi Ibu Intan (paling kiri) dan foto mendiang Intan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kemarin sore (Kamis, 12/12/2019), saat menemani Trinity ganti perban di RS Sun Yat Sen Guangzhou, saya keceplosan cerita sama Ibu Trinity soal Intan Olivia. Trinity yang menguping spontan menyela omongan saya.

"Intan tidak mati, Tulang. Intan di kampung sama opungnya. Iya kan, Mak," ujar Trinity memotong omongan saya.

Ibu Trinity langsung kasih kode kedipan mata. Saya mengerti. Ibu Trinity menjelaskan pakai bahasa Batak agar putrinya tidak tahu apa yang kami bicarakan.

Trinity sampai saat ini tidak diberitahu kawan paling akrabnya itu telah meninggal dunia pada 14 November 2016. Intan (2.5) hanya bertahan 14 jam di rumah sakit AW Sahranie Samarinda.

Mengenang Minggu kelabu

Senin, 2 Desember 2019, saya mengunjungi keluarga Intan Olivia di rumahnya di bilangan Loa Janan Ilir Samarinda. Saya datang untuk mendengarkan dan melihat seperti apa keadaan para keluarga korban bom Samarinda sekarang.

"Waktu saya mengubur anakku Intan, saat itu saya merasa bukan sedang mengubur Intan. Wajahnya bukan Intan. Itu orang lain," ujar mama Intan lirih dengan air mata menetes di kedua pipinya.

Hari nahas itu, ayah-ibu Intan tidak punya firasat buruk sedikit pun. Mereka dengan tenang mengikuti prosesi ibadah gereja.

Intan putri semata wayangnya minta izin turun dari gendongan ayahnya. Trinity (3) teman Intan datang dari depan mengajak Intan keluar bermain. Intan dan Trinity sebaya. Rumah mereka bertetangga. Mereka sangat dekat.

Intan turun dari gendongan ayahnya. Ayahnya memberi izin. Ia dan Trinity berjalan ke halaman gereja. Bermain dekat dua tiang penyangga teras gereja.

Di dalam gereja Pendeta Rumahhorbo sudah menutup ibadah dengan doa penutup. Ia dan Ibu Trinity yang bertugas sebagai pemimpin ibadah baru melangkah 3 langkah ke arah pintu masuk.

Minggu pagi 13 November 2016 itu di dalam Gereja Ouikumene Samarinda suasana hening masih terasa. Hanya terdengar suara pendeta sedang mengucapkan doa pengharapan dan pemberkatan.

Puluhan jemaat tampak kihdmat menutup mata mendengarkan doa penutup ibadah minggu. Kedua orang tua Intan tampak khidmat berdoa. Ibu Trinity penatua gereja berdiri di bawah altar memimpin liturgi. Ia sedang bertugas pagi itu.

Sementara itu, di depan halaman gereja tampak bocah-bocah kecil sedang bermain. Mereka adalah anak-anak sekolah minggu yang dibawa orangtuanya ikut ke gereja.

Hal biasa saat orang tua sedang beribadah, anak-anak kecil ini bermain di halaman gereja. Mereka adalah anak-anak sekolah minggu yang sebelumnya telah selesai beribadah sekolah minggu.

Intan Olivia (2,5), Anita Kristobel (2), Alvaro Aurelius Tristan (4), dan Trinity (3) bersama anak-anak sekolah minggu lainnya senang sekali pagi itu. Ada juga Talita, Gilbert, Prisila dan Rachel yang sedang bermain petak umpet.

Mereka senang karena di sekolah minggu mereka bisa bernyanyi dan bermain. Bertepuk tangan sambil menggoyangkan pinggang dan kepala. Bagi anak-anak kecil itu sekolah minggu adalah tempat favorit mereka bergembira.

Mereka bisa bergembira karena di sanalah mereka bisa bertemu dengan guru-guru sekolah minggu yang mengajar tentang betapa baiknya Tuhan. Guru-guru sekolah minggu yang mengajar mereka bernyanyi dan berdoa.

Sementara itu, di luar pagar teras gereja, seorang pria kurus berkaos oblong hitam nampak masuk halaman gereja dengan sepeda motor.

Usai memarkirkan motornya, pria kurus bernama Juhanda itu berjalan tergesa-gesa sambil menenteng tas ransel hitam di punggungnya.

Juhanda tampak berhenti sebentar. Mengamati sekelilingnya. Clingak-clinguk sekejap. Setelah pasti, ia berjalan masuk ke halaman gereja mendekati anak-anak sekolah minggu yang sedang bermain di halaman depan.

Anak-anak kecil itu tidak menaruh curiga dengan kehadiran pria berkaos oblong itu. Dengan polos tanpa curiga mereka tetap bermain. Tidak ada rasa takut.

Anak-anak kecil sekolah minggu itu hanya tahu bahwa gereja adalah Rumah Tuhan. Rumah berkat. Rumah di mana kebaikan dan kasih sayang diajarkan. Tidak mungkin ada bahaya disana.

Pria berkaos oblong hitam itu berjalan semakin mendekat. Ia berhenti lalu menatap anak-anak kecil itu. Entah apa yang dipikirkannya. Wajahnya mengeras dan dingin.

Ia sepertinya tidak melihat ada anak-anak di halaman depan gereja itu. Ia sepertinya tidak mendengar suara anak-anak nan polos sedang bermain. Ia sepertinya tidak mendengar suara anak-anak itu sedang bernyanyi.

Pria berkaos oblong hitam itu hanya melihat musuh yang harus dihabisinya. Kebenciannya begitu membuncah. Kalian harus mati. Begitu pikirnya.

Anak-anak kecil itu malah tertawa riang. Lalu melanjutkan permainan mereka. Bocah-bocah kecil itu tidak tahu sebentar lagi api akan melahap mereka. Mereka tidak tahu sedetik lagi pria berkaos oblong hitam itu akan melemparkan bom api molotov.

Setelah tiba waktunya, pria berkaos oblong hitam itu lalu menarik nafas dalam. Ia melihat anak-anak kecil itu sebagai target untuk dihabisi. Ia melihat kegembiraan anak-anak kecil itu harus dihentikan. Keriangan anak-anak kecil itu tidak boleh ada. Ia mendengus.

Lalu, pria berkaos oblong hitam itu melepas tas punggungnya. Mengeluarkan sumbu lalu mengambil korek api. Ia membakar sumbu tas punggung itu.

Dengan sekuat tenaga pria berkaos oblong itu melempar tas berisi bensin menyala api.

Brakkkk..bummm...bummm..bummmm..

Tas punggung berisi bensin dan berapi itu menghantam kerumunan anak-anak kecil itu.

Api membumbung tinggi. Asap hitam mengepul. Pria berkaos oblong itu tersenyum lalu lari kencang menjauh dari halaman gereja itu. Melompat ke tepian sungai Mahakam. Berenang menjauh dari kejaran massa.

Intan Olivia bocah berumur 2.5 tahun itu menjerit tangis. Api membakar sekujur wajah dan tubuhnya. Intan berguling-guling menangis memanggil nama mamanya.

"Ma...mamak..makkkk..panas makkk..sakittt makkkk...," teriaknya perih.

Sekujur badannya melepuh, mengalami luka bakar serius. Teman-teman Intan lainnya Anita Kristobel, Alvaro Aurelius Tristan, dan Trinity juga menjerit menangis.

Api menyambar tubuh mungil mereka. Membakar baju mereka. Keempat bocah malang itu berlari berguling-guling di tanah mencoba memadamkan api yang melahap tubuh mungil mereka. Intan dan Trinity yang terkena paling parah.

Prisila, Talita, Gilbert dan Rachel beruntung lolos dari api. Mereka sedang di belakang gereja bersembunyi main petak umpet. Talita dan Gilbert kebetulan bersembunyi di samping mobil yang parkir.

Suasana gereja yang damai teduh berubah menjadi neraka. Teriakkan pilu perih anak-anak sekolah minggu membuat seisi gereja panik.

Para orang tua berhamburan keluar. Mereka mencari tahu apa yang terjadi. Mereka menjerit histeris melihat anak-anak mereka meraung-raung terbakar.

Berguling-guling menahan panas membakar kulit dan dagingnya. Para orang tua itu berusaha memadamkan api. Sebagian berteriak histeris melihat anaknya dilalap api.

"Saya panik dan syok. Saya pun langsung mencari anak-anak saya, biarpun apa mereka semua anak-anak kami," ujar Mirna sedih.

Mirna salah seorang jemaat gereja yang saat itu ikut menyaksikan tubuh-tubuh mungil terbakar api.

"Anak-anak sedang bermain di luar gereja. Orangtua mereka sedang berdoa di dalam gereja. Tiba-tiba terdengar suara ledakan nyaring hingga tiga kali. Kami semua langsung panik, mencari perlindungan, dan mencari anak kami masing-masing," kata Mawarni yang juga keluarga Intan.

Ayah ibu Intan sadar. Anaknya tidak bersama mereka. Anggiat Marbun ayah Intan segera berlari ke arah halaman gereja. Firasatnya buruk.

Benar saja. Intan terkena bom. Seluruh tubuhnya terbakar. Intan bergulingan. Menjerit kepananasan. Ia memanggil papa mamanya.

Ayah Intan dengan refleks mencoba mematikan api dari sekujur tubuh anaknya. Ia begitu panik dan kalut saat melihat api membakar rambut dan baju anaknya. Dengan spontan ayah Intan mematikan api itu dengan kedua tangannya.

Ia tidak peduli api itu juga membakar telapak tangannya. Kedua tangannya melepuh. Baju Intan yang terbakar itu dikoyaknya meskipun api menyala. Sementara ibu Intan menjerit menangis melihat suami dan anaknya berjuang melawan api.

Api padam. Tapi wajah tubuh Intan sudah menghitam. Kulitnya melepuh. Ayah Intan tidak sanggup lagi. Kedua telapak tangannya melepuh. Ia terduduk dipojok. Dalam hitungan menit bayi Intan digendong ibunya. Dibawa ke dalam mobil jemaat. Langsung dilarikan ke rumah sakit Abdul Moeis.

"Saat di dalam mobil menuju RS Abdul Moeis itu, Intan diam saja. Matanya saja yang memandangi saya. Air mata saya jatuh membasahi wajahnya yang hitam gosong," ujar Ibu Intan terisak.

Di RS Abdul Moeis yang berjarak 3 kilometer dari Gereja Ouikumene itu Intan hanya bertahan sampai pukul 15.00 WIB. Rumah sakit itu tidak mampu menangani luka bakar Intan. Luka bakarnya lebih dari yang 80 persen.

Intan akhirnya dipindah ke RS AW Sahranie Samarinda. Alvaro, Trinity dan Annabele yang juga terkena bom ikut dipindah ke sana.

"Saya disuruh pulang malam itu. Suami saya dan kerabat meminta saya pulang saja. Mereka takut janin yang saya kandung keguguran. Saya hamil 4 bulan saat itu," ucap Ibu Intan sambil menyesalkan keputusannya pulang dan tidak menemani putrinya.

Intan tak terselamatkan

Pagi masih berkabut. Langit masih gelap. Suara azan subuh belum terdengar dari Mesjid dekat UGD RSUD AW Syahranie, Samarinda.

Lamat-lamat terdengar suara isak tangis lirih dari ruang ICU memecah keheningan subuh. Ayah Intan dengan mata sembab menatap tubuh mungil berbalut perban disekujur tubuh anaknya itu.

Di tepi ranjang PICU tampak ayah Intan tidak henti berdoa. Ibu Trinity dan Ibu Alvaro ikut berdoa. Mulut mereka komat-kamit berseru memohon mukjizat Tuhan untuk kesembuhan Intan dan anak mereka yang sedang berjuang lolos dari masa kritis.

Kedua bola mata ayah Intan nampak sembab. Ia tidak bisa tidur sejak malam. Ia menatap pilu putrinya yang tidak sadarkan diri. Sebuah selang berisi oksigen terpasang dimasukkan ke mulut bocah kecil itu.

Subuh beranjak merambat pagi. Anggiat Marbun terus berharap mukjizat. Grafik detak jantung di layar monitor mesin EKG terlihat semakin melemah.

Detak jantung Intan terus melemah. Perawat mendekat. Memberikan pertolongan medis. Suasana ruang ICU mendadak gaduh. Denyut nadi bocah malang itu berhenti. Intan meninggal sekitar pukul 03.30 WIB.

Sontak ayah Intan menjerit histeris. "Boru hasiannnn...Intannnn boru hasiankuu..jangan tinggalkan bapak nakkkk," isak ayah Intan.

Ibu Trinity mendekat. Menguatkan ayah Intan. Anggiat Marbun kehilangan keseimbangan. Tangisnya teredam dalam rongga dadanya. Dadanya bergetar. Anggiat Marbun terguncang. Tiba-tiba bumi serasa runtuh. Ia tidak peduli perih melepuh telapak tangannya.

Ibu Trinity menelepon kerabatnya subuh itu. Mengabarkan Intan telah meninggal dunia. Ibu Trinity meminta kerabatnya Opung Rido memberitahu Ibu Intan di rumah.

"Saya hancur. Hancur begitu tahu kabar Intan meninggal. Saya bahkan tidak mampu lagi mau bilang apa. Hanya menangis menjerit saja," ujar Ibu Intan sambil terisak.

Hampir gelap mata

"Kematian anakku ini membuat saya hampir gelap mata. Sampai terlontar saya mau membakar gereja," ucap ayah Intan dengan suara bergetar.

Kematian Intan benar-benar menggoyahkan Anggiat Marbun. Padahal seharusnya hari Minggu usai ibadah gereja, seluruh jemaat gereja akan berkunjung ke rumahnya.

Pasalnya ibu kandung ayah Intan akhir Oktober 2016 baru saja meninggal dunia. Yang bikin miris, kakak kandung Anggiat Marbun dijambret saat dalam becak motor menuju terminal Amplas.

Kakak kandung Anggiat sedang buru-buru mengejar waktu melihat ibunya yang sakit kritis. Malang baginya, jambret mengintai tasnya. Saat dalam becak berdua dengan adiknya penjambret menarik tasnya.

Kakak kandung Ayah Intan itu terjatuh. Kepalanya membentur aspal. Dilarikan ke rumah sakit. Tapi nyawanya tidak tertolong. Meninggal. Tidak berapa lama kemudian orang tua ayah Intan menyusul.

"Bak sudah jatuh tertimpa tangga tertimpa atap rumah saja rasanya," ujar ayah Intan dengan lirih.

Kehilangan ibu, kakak kandung dan putri semata wayangnya secara beruntun benar-benar menghancurkan perasaan mereka. Tak terkatakan.

"Saat Intan usai dikuburkan saya tidak begitu sedih. Saya merasa yang saya kuburkan itu bukan Intan. Wajahnya bukan Intan anakku," ujar Ibu Intan lirih.

Ibu Intan hamil 4 bulan saat anaknya Intan meninggal dunia. Memasuki kehamilan bulan ke sembilan Ibu Intan mulai merasa ada yang aneh.

"Intannnnnnn...anakkuuuu...Intannnnn...kemari kamu nakkkk," jerit Ibu Intan sesaat Vanya Magdalena adik Intan lahir melalui operasi caesar.

Adik Intan yang baru lahir itu diberi nama Vanya Magdalena. Vanya lahir di bulan April 2017. Saat melihat bayi keduanya itu, Ibu Intan menjerit histeris. Ia baru sadar anaknya Intan sudah tidak ada.

Selama ini Intan dipikirnya masih ada. Intan yang dikuburkannya itu bukan anaknya. Setelah bayi mungil Vanya lahir, barulah Ibu Intan sadar kakak Vanya tidak ada. Ia menangis sejadi-jadinya. Seharusnya ia sudah punya dua anak.

"Kalo saya lihat Vanya saya jadi ingat Intan. Intan seumuran Vanya sekarang saat terkena bom," isak Ibu Intan.

Memaaftkan

"Bagaimana perasaan ibu sekarang? Masih dendam dan marah sama pelaku teroris itu?" tanya saya.

Ibu Intan menatap langit-langit. Ia mencoba menahan air matanya tidak tumpah. Nafasnya diaturnya.

"Saya sudah memaafkan mereka. Tapi tidak bisa melupakan kejadian ini. Selalu ingat Intan," lirih Ibu Intan sambil menghapus air mata dengan punggung tangannya.

Saya terdiam. Tidak bertanya lagi.

Bayi Vanya mulai merengek ingin digendong ibunya. Ayah Intan tampak lebih banyak diam dengan mata membasah. Suaranya tertelan gemuruh sesak di dadanya. Kehilangan ibu kandung, kakak kandung, dan anaknya dalam waktu beruntun sangat memukul batin jiwanya.

Saya izin pamit. Menjabat tangan Ibu dan Ayah Intan. Memeluk mereka erat. Hanya bisa mengucapkan tetap kuat, sabar dan tabah.

Lamat-lamat saya mendengar suara lagu kesukaan Intan saat sekolah Minggu dari dalam rumah Intan.

"Kingkong Badannya Besar Tapi Kakinya Pendek, Lebih Aneh Binatang Bebek, Lehernya panjang kakinya pendek..Haleluya..Tuhan Maha Kuasa, Haleluya Tuhan Maha Kuasa."

Bernyanyilah Intan di surga..senandungkan lagu itu dari surga. Untuk kami yang gagal menjagamu di bumi Indonesia dari orang jahat pembenci kemanusiaan.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto