• News

  • Opini

Saya Bela Samirin, Pencuri Ini Membuat Akal Sehat Saya Ditempeleng Keras

Birgaldo Sinaga bersama Samirin
Facebook/Birgaldo
Birgaldo Sinaga bersama Samirin

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Mengapa Bang Bir membela Kakek Samirin? Mengapa membela seorang pencuri? Seorang pencuri tetaplah kriminal tak peduli besar kecil nilai barang yang dicurinya.

Saya menarik nafas dalam membaca banyak komentar tentang kakek Samirin ini. Rasanya akal sehat dan nurani saya ditempeleng keras.

Dua hari lalu saya membaca berita soal kasus kakek Samirin. Ramai di media mainstream memberitakan kasus kakek Samirin. Seorang petani di Desa Dolok Maraja, Simalungun yang dituduh mengambil getah karet milik PT Bridgestone pada 17 Juli 2019 lalu.

PT Bridgestone sebagai pemilik lahan wajar menjaga dan melindungi aset perusahaannya dari orang-orang yang mau mencuri.

Mereka mengawasi dengan merekrut sekuriti atau satpam. Biasanya di perkebunan besar mereka membayar aparat keamanan sebagai chief sekuriti. Hal yang biasa di lingkungan perkebunan.

Di banyak kasus pencurian, banyak ditemukan pencuri terorganisir. Mereka disebut ninja. Ninja beroperasi malam hari. Juga kerap di saat sepi.

Para ninja ini beroperasi dengan cepat. Skala pencuriannya juga besar. Mereka dua tiga orang mencuri dengan menggunakan kendaraan.

Biasanya satpam perkebunan sangat keras pada aksi pelaku ninja. Wajar karena mereka memang sindikat.

Bagaimana dengan Kakek Samirin?

Mengapa PT Bridgestone tega memenjarakan seorang kakek petani yang notabenenya mantan karyawannya? Apa yang ingin dicari perusahaan besar ini?

Kasus ini mencuri perhatian saya. Saya benar-benar tidak habis pikir ada pihak yang tega merampas kemerdekaan manusia gegara getah karet sisa yang nilainya itu seharga setengah bungkus rokok.

Kakek Samirin terbukti mengambil sisa getah karet milik perusahaan raksasa ini iya. Benar. Tapi apa pantas dan patut perbuatannya itu dihukum dengan dirampas kemerdekaannya selama 66 hari.

Pernahkah kalian merasakan pedih dan perihnya tinggal di dalam penjara? Berdesakan berhimpitan dengan puluhan orang dalam satu sel. Yang untuk tidur selonjor saja terkadang itu sebuah kemewahan?

Belum lagi beratnya kehidupan ekonomi dan tekanan sosial keluarga kakek Samirin? Dihina. Dinista. Diejek. Diolok. Dicap. Distempel.

Saya tidak habis mengerti bagaimana bisa pasal hukuman penjara ini keluar dalam UU Perkebunan No 39 tahun 2014.

Pasal ini saya pikir buatan kaum penjajah Belanda yang ingin melindungi kepentingan tuan tanah pemilik perkebunan. Rerata perkebunan di Sumut adalah peninggalan Belanda.

Bagaimana mungkin negara menjadi centeng para tuan pemilik perkebunan raksasa ini. Negara dipaksa menahan, memenjarakan seorang Kakek Samirin hanya gegara getah karet sisa yang dipungutnya saat ngangon lembu.

What the ***k!!

Untuk mengetahui duduk persoalannya, sehari selepas kakek Samirin bebas dari penjara, saya dan dua orang teman menyambangi ke tempat tinggalnya di Dolok Maraja. Dari Medan saya bergerak sejauh 130 km lebih.

Saya bertemu dengan Kakek Samirin, istrinya Nenek Suyanti dan cucunya pada 16 Januari 2020.

Kakek Samirin dan Nenek Suyanti itu tinggal di rumah anak laki-lakinya. Mereka punya 4 orang anak. 11 cucu dan 1 cicit. Sejak pensiun 14 tahun lalu dari PT Bridgestone kakek Samirin numpang di rumah anaknya itu.

Mereka merawat kedua cucunya yang masih kecil. Menantu atau ibu dari kedua cucu mereka telah meninggal dunia sejak 3 tahun lalu.

Sehari-hari pekerjaan kakek Samirin ngangon lembu. Ia bisa ngangon jauh sekitar 5-8 kilometer dari tempat tinggalnya.

Kakek Samirin bukanlah seorang pencuri seperti ninja yang kerjanya memang mencuri. Ia bukan anggota sindikat.

Apa yang dilakukan kakek Samirin itu kira-kira sama seperti di ladang pepohonan jambu, saat melintas ada banyak buah jambu jatuh. Si kakek mengambilnya. Beberapa jambu yang jatuh itu ditaruh dalam kantong kresek.

Saat memungut, si pemilik ladang memergokinya.

Pemilik yang kejam dan sadis tentu akan menangkap. Lalu mempersoalkan itu. Membawanya ke polisi.

Pemilik yang bijak dan berhati manusia tentu akan mencari tahu lebih dalam. Mungkin saja buah jambu itu hadiah buat cucunya yang merengek minta buah tapi tidak bisa dibelikan si kakek.

Saya melihat profile Kakek Samirin. Istrinya dan kehidupan mereka. Tidak sedikitpun saya melihat profile kakek Samirin seorang pencuri kelas kakap. Berwatak pencuri. Itu baru pertama kali dipungutnya. Saat pulang mengangon lembu.

Saya kira apa yang dilakukan manajemen Bridgestone sudah kebablasan. Perusahaan ini tak punya rasa welas asih. Tak punya kearifan. Tak punya kebijaksanaan.

Bagi saya, silahkan kakek Samirin dihukum. Tapi menghukumnya dengan cara merampas kemerdekaannya selama 66 hari dalam penjara sungguh perbuatan penjajah Belanda pada masa kolonial dulu. Keterlaluan.

Saya bermohon agar pasal UU No 39 tentang Perkebunan tahun 2014 ini harus direvisi. Janganlah UU ini dipakai untuk melindungi tuan tanah sebegitu sadisnya.

Mohon anggota DPR Komisi 3 DPR RI mengevaluasi pasal demi pasal yang aromanya bermental kolonial.

Kasus-kasus orang kecil yang tidak berdaya membela dirinya dari keangkuhan tuan tanah dan penguasa jangan ada lagi terjadi di republik ini. Cukup kali ini saja. Malu kita sebagai sebuah bangsa.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto