• News

  • Opini

Jika Boleh Memilih, Aku Ingin Menua, Selalu Berarti, lalu Mati

Birgaldo Sinaga saat menghibur Cik Gobun
Facebook/Birgaldo
Birgaldo Sinaga saat menghibur Cik Gobun

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Setahun lalu, saya bersama teman-teman menghibur orang tua lanjut usia di Panti Werda Melania.

Di kamar pojok bangsal ada seorang laki-laki tua sedang terbaring. Saya mendekati orang tua itu. Ia tidak bereaksi menyambut kedatangan saya. Diam. Mematung. Hanya suara lenguhan terdengar.

Saya menyapanya. Mencoba berkomunikasi. Memegang tangannya. Ia melenguh.

"Huuhh..huhhh..huhhh," erangnya.

Saya meminta seorang teman memberinya seikat bunga mawar merah putih. Ia menerimanya. Ia tersenyum dengan membuka mulutnya seperti huruf O. Dengan suara lenguhan.

Usai memberi bunga, saya ingin menghiburnya. Saya mengiringi pemberian bunga itu dengan menyanyikan lagu "Cinta Yang Tulus" yang dipopulerkan oleh Gito Rollies.

Saat mendengar lagu itu, laki-laki itu menangis keras. Tangisannya seperti jeritan "aaauuuuuuuuuu". Berkali-kali ia menjerit keras. Saat menjerit kencang, kedua tangannya mengepal. Terus-menerus ia menjerit.

Saya dekati laki-laki itu ke tepi tempat tidurnya. Sepertinya Ia ingin mendengar lagu itu sampai habis.

"Cinta yang tulus di dalam hatiku..telah bersemi karena mu... Hati yang suram kini tiada lagi..tlah bersinar karena mu.."

"Auuuuuuuu....aaaauuuuuu....," jeritnya lebih kencang.

Tangisnya memecah ruangan kamar itu. Saya terus menyanyikan lagu itu. Ia terus menjerit. Dari kelopak matanya, saya melihat air mata menetes. Lalu Ia diam. Mendengar lagi lagu itu dengan memeluk bunga mawar itu.

"Semua yang ada padamu..ohhh..membuat diriku..tiada berdaya..hanyalah bagimu..hanyalah untukmu..seluruh hidup dan cintaku..."

"Auuuuuuuu...aaauuuuuuu...", isak tangisnya lagi lebih panjang.

Saya memegang tangannya. Ia tampak tenang. Saya elus wajahnya. Sepertinya ada beban teramat berat menimpanya. Ia hanya menatap tajam mataku. Tanpa suara. Tanpa kata-kata.

Tatapannya begitu menyedihkan. Air matanya menetes perlahan. Saya ajak bicara. Hanya lenguhan yang terdengar. Ia memeluk mawar itu. Ia mendekap erat mawar itu.

Pak Cik Gobun. Itu namanya.

Dari pengurus panti saya tahu Pak Cik Gobun seorang lajang tua yang berjuang untuk sembuh. Ia tidak punya keluarga anak dan istri.

Ia hanya punya keponakan. Ia tidak bisa bicara. Ototnya kaku. Suka mengejang. Ia dikirim keponakannya di panti werda. Hari-harinya hanya tidur di ranjang dengan sepi menyergap jiwa raganya.

Saya tahu air mata yang menetes dari kedua bola matanya menceritakan begitu banyak kisah hidupnya. Entah apa itu. Mungkin patah hati. Mungkin pengkhianatan. Mungkin kesepian. Mungkin penderitaan.

Saya hanya bisa menebak-nebak saja.

Tapi yang saya tahu, ketika memeluk dan menyapa orang-orang yang sepi duka seperti Pak Cik Gobun, cinta yang tulus akan menyejukkan jiwanya yang merindu. Cinta yang tulus akan menyirami rasa dan asanya yang menanti. Menanti orang yang disayang dicintainya.

Saya merenung. Tua itu sepi. Tua itu sedih. Tua itu melelahkan.

Seperti apa masa tuaku kelak? Ketika kaki gemetar melangkah. Ketika tubuh tak berdaya berdiri tegak. Ketika kesendirian menjadi rutinitas menyambut mentari pagi dan matahari terbenam. Ketika bayang diri menjadi teman sejati.

Benarlah apa yang dikatakan Soh Hok Gie.

"Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda".

Atau juga seperti kata penyair Chairil Anwar.

"Hidup sekali, berarti, lalu mati".

Dari keduanya jika boleh saya memilih.

Aku ingin menua. Selalu berarti. Lalu mati.

Semoga.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto