• News

  • Opini

Wabah Corona, Mengapa Saya Hardik Pemimpin Gereja yang Keras Kepala?

Ilustrasi penyemprotan desinfektan di gereja
foto: istimewa
Ilustrasi penyemprotan desinfektan di gereja

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Bang Bir (Birgaldo Sinaga, red), kenapa hanya bersuara keras sama pemimpin gereja untuk stop ibadah?

Banyak pesan tidak terima atas tulisan saya yang keras mendesak agar ibadah dalam gereja dihentikan sementara di tengah pandemi Covid-19.

Ada yang bilang saya tak beriman. Ada yang bilang saya sudah lari dari jalur. Ada yang bilang saya ateis. Macam-macam nadanya.

Sejatinya saya menyuarakan suara publik. Suara publik itu disuarakan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu. Jokowi meminta agar ibadah di rumah saja. Jelas alasannya. Ada potensi penyebaran virus dalam pertemuan orang ramai.

Apa yang saya suarakan sejatinya gak perlu lagi saya suarakan andai semua pemimpin gereja taat dan patuh pada seruan Presiden Jokowi.

Masalahnya masih banyak yang jugul alias keras kepala alias ngeyel. Seruan Jokowi itu dianggap kalah dengan otoritas Ilahi yang dimiliki pemimpin gereja. Urusan liturgi ibadah gereja kekuasaannya berada di pemimpin gereja.

Saya juga punya banyak teman dokter. Keluarga saya ada perawat. Mereka ini adalah garda terdepan dalam perang melawan corona ini.

Suara lirih bernada cemas mereka itu selalu masuk ke inbox saya. Mereka seperti bekerja dengan tali tergantung di lehernya. Siap-siap juga terkena virus. Sebagian dari mereka banyak yang terinfeksi. Seperti dokter Handoko Gunawan itu.

Jika suara Jokowi lembut intonasinya tapi gagal melembutkan hati pemimpin gereja, maka kita sebagai anak bangsa harus ikut bersuara mengingatkan. Kalo gak bisa lembut menyadarkan mereka, ya keras. Gak bisa keras, ya hardik. Gak bisa juga hardik, ya lawanlah sekeras-kerasnya.

Pemimpin gereja yang keras kepala batu ini sejatinya tidak punya empati dan hati. Mereka tidak peduli satu orang yang terinfeksi itu bisa menjangkiti 1000 orang dalam satu pertemuan besar.

Lihat saja seminar di Bogor yang melibatkan gereja, berapa banyak akhirnya orang terkena virus? Bahkan ada yang sudah meninggal dunia.

Sayangnya banyak orang beriman tidak terima argumen saya. Pokoknya sama mereka saya dianggap tidak beriman. Musuh gereja.

Padahal yang saya suarakan adalah suara ponakan saya yang bekerja sebagai perawat. Yang saya suarakan adalah suara teman-teman saya yang bekerja menolong pasien positif Corona.

Saya tahu imanmu bilang ingin menyembah Tuhan. Ingin memuji Tuhan. Ingin bersekutu dengan Tuhan. Tujuannya apa? Menyenangkan hati Tuhan? Biar dapat satu kavling di surga?

Hellooo enak aja elo. Mau dapat kavling surga tapi menyengsarakan sesamamu yang lain. Membuat para tenaga kesehatan menderita. Membuat negara ambrol karena merawat lebih banyak lagi orang bebal sepertimu.

Dengan cara apa lagi negara meminta kalian pemimpin gereja utk mematuhi himbauan Presiden Jokowi?

Apa perlu cara Korut? Diseret satu persatu ke penjara? Dieksekusi.

Please deh, bapak ibu yang mulia ..., hentikanlah seruan beribadah dalam gedung gereja. Patuhlah. Taatilah. Hormatilah seruan pemimpin bangsa kita.

Sungguh lucu kedengaran doa syafaat yang dipanjatkan dalam gereja agar bangsa dan negara Indonesia terbebas dari Covid-19, tapi gak sadar kalian yang berdoa itulah penyebar virusnya lebih menular lagi.

Kita berkejaran dengan waktu. Waktu kita sempit. Dunia sudah masuk ke jurang depresi ekonomi yang dalam. Itu artinya tidak lama lagi pabrik2 berhenti berproduksi.

Pengangguran meningkat. Kelesuan ekonomi meluas. Dampaknya menyakitkan sekali. Sekarang belum terasa sakit sekali. Tapi jika Covid-19 ini tidak berhenti, bersiaplah kita menangis darah.

So, tidak ada jalan lain bagi kita yang waras untuk bekerja sama menuntaskan persoalan ini.

Caranya patuhi untuk ibadah di rumah masing-masing.

Hanya itu cara kita berkontribusi bagi bangsa dan negara. Itu saja sudah cukup.

Buat yang tidak gereja hari ini, upahmu besar di sorga.

Terimakasih.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto