• News

  • Opini

Tempat Jokowi Bersandar dari Musuh Telah Pergi, Mirisnya Justru Ada yang Tega Bersorak

Joko Widodo sedang sungkem ke mendiang ibu kandungnya
foto: istimewa
Joko Widodo sedang sungkem ke mendiang ibu kandungnya

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kemarin menjadi hari kelabu bagi bangsa Indonesia. Ibunda Presiden Jokowi Ibu Sujiatmi meninggal dunia. Kepergiannya menyentak kalbu bangsa Indonesia. Di tengah ujian maha berat serangan Covid 19, Jokowi kehilangan ibu tempatnya meminta doa restu.

Kita tahu, Jokowi pernah mengatakan hampir setiap saat menelepon ibundanya. Ibunda Sujiatmi menjadi tempatnya bersandar dari kerasnya gelombang hantaman lawan politiknya. Musuh dalam selimutnya.

Kini sosok penyejuk dan peneduh itu telah menghadap Sang Pencipta. Meninggalkan anak lelakinya Presiden RI.

Di lini masa kita membaca, ada banyak kadal gurun bersorak gembira atas meninggalnya Ibunda Jokowi. Para kadal gurun ini tanpa ada rasa malu memamerkan kebinatangannya.

Entah apa alasannya bersorak gembira mengutuki kematian seorang ibu. Seorang perempuan tua bersahaja. Seorang ibu yang tidak bersalah dan berdosa. Seorang ibu yang sama seperti ibu para kadal gurun ini.

Saya teringat dengan Jokowi saat menjenguk Ustad Arifin Ilham beberapa waktu lalu saat UAI sakit kanker di Jakarta.

Ustad Arifin Ilham. Siapa yang tidak mengenal Ustad yang punya ciri khas suara serak-serak basah ini? Jika ditanya sebutkan nama ustad kondang di tanah air pasti nama Ustad Arifin Ilham ini masuk lima besar yang disebut.

Sering wajahnya wara wiri di televisi. Ia lebih dikenal dengan acara zikir akbarnya. Saat menonton bersama jemaah zikirnya air mata jemaah banyak yang menetes.

Lantunan doa mohon ampunan Ustad Arifin mampu menyentuh kalbu orang yang mendengar doanya. Tidak banyak penzikir sekaliber Arifin Ilham bisa membuat orang merenungi dosa kejahatan masing-masing pribadi.

Saya beberapa kali menonton Ustad Arifin Ilham. Maklum panggung televisi memberi porsi besar buatnya. Ia seangkatan dengan Ustad kondang lainnya seperti Ustad Uje, Ustad Yusuf Mansur.

Dalam beberapa kali penampilannya, sering juga kening saya berkerut mendengar pilihan kata Ustad Arifin dalam menyampaikan pesan kenabian.

Resonansi suara Ustad Arifin Ilham yang terdengar bukan lagi tentang zikir mohon ampun pada Sang Khalik. Ia off side beberapa kali ketika memberi label kafir dalam beberapa tausiahnya. Tentu itu ruang private, umbar pendukungnya.

Jadi bebas-bebas saja bagi kalangan tersendiri penyebutan makna kafir itu. Ya, sah-sah saja memang. Tapi sah-sah juga jika yang mendengarnya sakit hati dan kecewa pada si pengucap itu krn disampaikan di ruang publik.

Dalam peristiwa aksi Bela Islam 212, Ustad Arifin Ilham memiliki peran menonjol dalam menekan pemerintah. Ucapan dan seruannya yang mengatakan Ahok sebagai orang yang berbahaya perusak toleransi dan perdamaian bak bensin menyiram api pengikut fanatiknya.

Api itu membesar lalu menjadi raksasa yang membunuh karir politik dan menyeret Ahok ke penjara. Sekalipun Ahok berkali-kali memohon ampun dan memohon beribu-ribu maaf vonis sebagai penista agama tidak menyurutkan gelombang kemarahan dan kebencian.

Di awal 2019 berita Ustad Arifin Ilham sedang diujung maut terbaring di RSCM akibat kena kanker kelenjar getah bening stadium 4. Banyak pejabat tinggi hingga pesohor menjenguk Ustad Arifin.

Harus saya akui Ustad Arifin Ilham adalah orang yang berseberangan dengan saya. Saya secara posisi berdiri berbeda dengannya. Ia ingin menyeret Ahok ke penjara, saya tidak.

Ia ingin Ahok dihukum, saya ingin Ahok bebas. Kemarahan saya terlihat jelas dalam 2 tahun saat dijalanan membela Ahok pun juga melalui tulisan-tulisan saya bahwa Ahok tidak bersalah.

Saat melihat itu UAI terbaring lemah, hati saya berdesir. Jujur tidak ada lagi kemarahan yang dulu begitu berkobar. Tidak ada lagi dendam yang dulu begitu membuncah. Seketika batin saya luruh dalam rasa seperasaan.

Saya pernah kehilangan kakak kandung akibat kanker payudara. Saya tahu bagaimana rasa sakit kanker. Kanker kelenjar getah bening ini kanker yang paling ganas dan sangat menyakitkan. Melebihi kanker lainnya. Saya yang membawa kakak ke RS Mahkota Melaka Malaysia.

Dalam lingkaran perjalanan hidup kita, kita boleh saja bertarung sebagai prajurit di medan laga saat berjuang memenangkan nilai yang kita yakini.

9 Januari 2019, Presiden Jokowi menjenguk Arifin Ilham. Selama ini Arifin Ilham menjadi ulama yang berseberangan dengan Jokowi. Ucapannya kerap kali menyindir Jokowi sebagai pemimpin yang jauh dari pemimpin yang baik.

Sebuah surat Arifin berjudul "Takutlah pada Allah" viral dan memantik ratusan ribu cemoohan pendukungnya pada Jokowi yang disindir mabuk kekuasaan.

Dalam suasana mengharukan itu kedua insan yang berbeda pilihan politik ini berhadap-hadapan muka. Tampak keduanya hanyalah dua manusia biasa sama seperti kita. Dalam pertemuan itu Jokowi ingin mendoakan dan memberi semangat pada Arifin Ilham.

Ustad Arifin Ilham dan Jokowi adalah dua manusia biasa yang sama seperti kita. Pernah sakit dan pernah terluka. Mereka dua manusia yang sejatinya bertaut rasa kemanusiaan dan cinta meskipun berseberangan dalam politik.

Dua manusia itu akhirnya meluruh dalam rasa welas asih sebagai insan biasa. Kemanusiaan adalah muara dari semua gerak laku dan nafas kita sebagai manusia.

Pada titik ini saya sadar bahwa apapun yang kita genggam tidak akan pernah kita genggam. Ia akan lepas seperti buah jatuh dari tangkainya ketika waktunya telah tiba. Popularitas, puja puji, ketenaran, kekuasaan, kegagahan dan semua emblem kefanaan lainnya akan hilang begitu saja.

22 Mei 2019, Ustad Arifin Ilham kembali ke haribaan Allah Sang Pencipta saat dirawat di Penang Malaysia. Ustad Arifin hanya sanggup bertahan selama 5 bulan sejak dijenguk Presiden Jokowi. Ia berjuang keras untuk sembuh. Tapi takdir berkata lain.

Saya dan banyak pendukung Ahok turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian Ustad Arifin Ilham. Ketika kematian menjemput, tiada yang bisa kita lakukan selain mendoakan kebaikan baginya.

Hari ini, bangsa Indonesia berduka. Presiden Jokowi kehilangan ibu yang sangat dicintainya.

Hari ini, kita menangis duka 3 kali. Pertama, kita menangis pada korban meninggal Covid 19.

Kedua, kita menangis karena kehilangan Ibu Sujiatmi.

Ketiga, kita menangis karena ada segelintir rakyat Indonesia berhati kelam. Berperilaku biadab. Mereka tega bersorak kegirangan atas kepergian Ibunda Jokowi Sujiatmi. Hujatannya mengerikan.

Saya percaya Presiden Jokowi punya kelapangan hati seluas samudera. Dalam dukacita mendalamnya, ia tetap teguh bak batu karang memaafkan kadal gurun biadab itu.

Tetap tegar dan kuat Bapak Presiden Jokowi. Tuhan menyertai bapak.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto