• News

  • Opini

dr Otto Bela Keadilan untuk Ahok, Kini Jadi Relawan di Wisma Atlet Lawan COVID-19

Birgaldo Sinaga (kiri) dandr Otto Rajasa (kanan)
foto: istimewa
Birgaldo Sinaga (kiri) dandr Otto Rajasa (kanan)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Awalnya seperti banyak orang yang berpendapat aksi demo berjilid-jilid adalah bentuk intimidasi pemaksaan supaya Ahok dipenjara.

Dokter Otto Rajasa yang akrab dipanggil Pot menyampaikan pikirannya. Ekspresi perasaannya atas apa yang menimpa Ahok. Om Pot melihat ketidakadilan menimpa Ahok.

Pot lalu menulis dengan bahasa satir pikirannya yang tidak sependapat dengan saudara-saudaranya seiman. Saudaranya sesama muslim.

Postingan Om Pot dipermasalahkan. Pot didemo. Pot dilaporkan ke polisi. Ia dipaksa mundur dari tempatnya mengobati orang sakit. Pot diperiksa polisi. Dijadikan tersangka. Ditahan kejaksaan. Dituntut.

Pot dituntut menista agama Islam dan disangka menyebarkan kebencian. Dari dakwaan itu akhirnya Pot dihukum oleh Hakim 2 tahun penjara subsider 1 bulan penjara denda 50 juta rupiah.

Hakim mewakili Tuhan Yang Maha Esa menilai Pot telah melukai kemahasucian Tuhan dengan mengolok-olok keberadaan Tuhan.

Siapakah Pot? Jejak keluhuran hidupnya begitu jelas penuh cinta dan welas asih. Hari harinya dipenuhi dengan menolong sesama. Hidup untuk merawat kehidupan. Hidup untuk menghidupi kehidupan. Ia memilih menjadi dokter. Mengabdi tulus.

Penghasilannya sebagian diberikan untuk anak asuh yang disekolahkannya. Ia membiayai banyak anak asuh yang dibiayai kuliahnya.

Lukisan jiwa Pot begitu jelas terpampang betapa kemanusiaan menjadi jantung kehidupannya. Mencintai kemanusiaan artinya membela keadilan bagi yg tertindas.

Pot mengambil garis tegas untuk membela keadilan untuk Ahok. Ia menulis dengan hatinya. Bukan untuk mengolok-olok Tuhan Yang Maha Pengasih, namun menangisi nama Tuhan digunakan untuk menzalimi orang baik.

26 Juli 2017, para hakim mewakili Tuhan Yang Maha Esa memutus bersalah Pot. Hakim merasa Pot mengolok-olok kebesaran Tuhan seperti caci maki pendemo Pot sebelumnya. Mereka seakan perwakilan Tuhan yang menentukan apakah nama Tuhan dicoreng, dinista apa tidak.

Hakim menafsirkan postingan Pot melukai nama Agung dan Kebesaran Tuhan sama seperti teriakkan pendemo yang memaksa Pot diadili. Tuhan Yang Maha Baik dicoreng wajah kemurahan hatiNYA oleh postingan Pot.

Pot merasakan status baru dalam riwayat hidupnya. Terpidana karena merusak cahaya keagungan Tuhan. Padahal karena begitu besarnya cinta Pot kepada Tuhan yang diimaninya Pot memilih menjadi dokter.

Pot memberikan gajinya buat anak didik yang tidak punya biaya disekolahkannya. Pot meyakini berbuat baik bagi kemanusiaan adalah inti dari iman percayanya kepada Allah Yang Maha Pengasih. Bermanfaat bagi sesama.

Hari itu, Pot menatap nanar kekuasaan dunia. Kekuasaan yang meringkus cinta dan welas asihnya pada Alia Shahnaz istrinya dan Raul putra semata wayangnya.

Dalam getir lirih melalui hari hari selama 2 tahun pengapnya jeruji besi, Pot percaya bahwa manusia yang punya kuasa bukanlah refleksi sejati dari Allah Yang Maha Baik yang disembah Pot setiap hari.

Pot tahu bahwa sekalipun Ia dipenjara kasih dan penyertaan Tuhan Maha Baik tidak menjauh dari jiwanya. Pot tahu di mana ada kebaikan dan keadilan di sanalah bersemayam sinar kemuliaan Tuhan. Dan Pot sedang memperjuangkan itu semua.

****

Beberapa waktu lalu dokter Alia istri Pot mengirim pesan pada saya. Mereka berencana ke Jakarta. Sudah lama kami ingin bertemu. Sayang saya sedang di luar Jakarta kala itu.

Sebenarnya, sehari sebelum vonis penjara Pot, saya sudah bersiap menjenguk Pot.

Saya sudah membeli tiket ke Balikpapan. Sayang, malang tak dapat ditolak mujur tak dapat diraih. Mama saya meninggal dunia di hari keberangkatan ke Balikpapan.

Hari ini, dokter Alia Shahnaz mengabarkan suaminya dokter Pot diterima menjadi relawan kemanusiaan sebagai dokter pasien Covid 19. Dokter Pot akan bergabung dengan para dokter lain dari seluruh Indonesia di Wisma Atlet.

Dari video yang diposting Mba Alia, dengan jujur dokter Pot berkata ada rasa takut juga pada dirinya. Usianya sudah 44 tahun. Tidak muda lagi. Pot menuturkan istrinya Mba Alia telah mengijinkannya berperang di garis depan pertempuran.

Saya menarik nafas panjang saat dokter Pot bicara. Ia menuangkan harapannya pada semua anak bangsa.

Pot bilang bahwa pahlawan sesungguhnya adalah rakyat Indonesia yang patuh untuk stay at home. Stay safe. Pake masker. Bukan dirinya atau para dokter.

Saya sampai 3 kali memutar video Pot. Dari garis wajahnya terlihat begitu nyata jiwa dokter dipenjara 2 tahun itu begitu tulus menolong sesama. Mengabdi bagi kemanusiaan.

Nasib Pot bisa saja berakhir tragis seperti puluhan rekan sejawatnya yang telah meninggal dunia karena menolong pasien Covid 19.

Tapi dokter Pot tahu, hidup yang terbaik adalah menjadi manfaat bagi sesama dan untuk kemanusiaan.

Dokter Pot memilih menjadi relawan garda depan melawan Covid 19. Hari ini, dokter Alia istri Pot memeluk erat untuk kedua kali. Dulu Mba Alia memeluk erat Pot melepasnya ke penjara. Kini memeluk erat melepasnya ke medan peperangan.

Terimakasih yang tulus Mba Put dan Om Pot. Tuhan mengasihi kalian.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto