• News

  • Opini

Konyol, Ajak Orang Sumbang Buddha Tzu Chi, sementara Saya Tidak

Birgaldo Sinaga
foto: istimewa
Birgaldo Sinaga

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Saya suka kata-kata Uncle Ben saat memberikan nasihat pada ponakannya Peter Parker Spiderman. Saat itu Peter sedang galau berat. Ia ingin lari dari tanggung jawab menyelamatkan banyak orang dari kejahatan. Ia merasa cape. Lelah. Kekuatan yang dimilikinya seolah menjadi kutukan baginya.

Saat-saat galau berat itu, pamannya Ben datang. Lalu berkata dengan lemah lembut, "Peter...listen to me. If you have great power, you have great responsibility". Jika kamu punya kekuatan besar, kamu punya tanggung jawab yang besar.

Saat mendengar itu, Peter tersadar. Ia terbangun. Ia bangkit. Ia dapat spirit baru. Ia dapat energi baru. Ia mengerti kekuatan yang dimilikinya itu tidak akan bermanfaat jika ia lari dari tanggung jawab. Tidak berguna jika ia hanya diam mendekam dalam kamar.

Apa yang disampaikan Paman Ben ini sejatinya sudah disampaikan oleh Yesus Kristus sekitar 2000 tahun yang lampau. Yesus berbicara tentang perumpaan talenta.

Dalam Matius 25:14–30 mengisahkan tentang seorang tuan yang meninggalkan rumahnya untuk pergi ke luar negeri, dan sebelum pergi ia memercayakan harta miliknya kepada para hambanya.

Berdasarkan "kesanggupan" masing-masing dari mereka, seorang hamba menerima lima talenta, hamba yang kedua menerima dua talenta, dan hamba yang ketiga menerima satu talenta.

Talenta dalam perumpamaan ini adalah sejumlah besar uang. Setelah sekian lama waktu berlalu, sang tuan kembali ke rumah dan menanyakan pertanggungjawaban ketiga hambanya atas harta milik yang ia percayakan kepada mereka.

Hamba yang pertama dan kedua menjelaskan bahwa mereka masing-masing berhasil melipatgandakan talenta yang dipercayakan kepada mereka; masing-masing hamba itu kemudian beroleh ganjaran:

Maka kata tuannya itu kepadanya: "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."

Namun, hamba yang ketiga hanya menyembunyikan talenta yang dipercayakan kepadanya, memendamnya "di dalam tanah", dan beroleh hukuman:

Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata:

"Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.

Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah:

"Ini, terimalah kepunyaan tuan!"

Maka jawab tuannya itu:

"Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?"

Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.

Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.

Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap tangis dan kertak gigi.

Cerita ini saya jadikan filosofi hidup saya. Menjadi dasar saya berpikir, bersikap dan bertindak.

Saya bukanlah orang bergelimang harta. Bukanlah orang tajir kaya raya. Bukanlah orang berkelimpahan.

Di Jakarta saat membela Ahok, saya naik busway. Naik KRL. Naik angkot. Naik ojek. Jalan kaki. Berpanas terik. Sampai gosong wajah saya. Saya lakukan senang-senang saja.

Itu bagian tanggung jawab orang berakal sehat saja. Kalo Ahok menang, banyak orang terselamatkan hidupnya. APBD akan menjadi manfaat bagi banyak orang. Terutama orang2 kecil.

Sekarang, saya hampir setiap hari turun ke jalan. Menyemprot desinfektan. Membagikan makan siang.

Ada yang bilang saya pamer. Riya. Keluar ayat kalo tangan kanan memberi tangan kiri gak boleh tahu. Macem-macem nada sumbang saya dengar.

Tapi saya tak peduli dengan omongan itu. Saya tahu apa yang saya lakukan.

Di akun FP saya ini ada 207ribu follower. Di akun FB ada 182 ribu follower. Di akun IG ada 80ribu follower.

Saya punya harapan, jika ada 10 persen saja dari follower di sini mau bergerak berperang melawan Covid 19, berarti ada 20ribu lebih prajurit tempur melawan Covid 19.

Ahhh itu mimpi. Gak mungkinlah. Oke. Never mind.

Saya turunkan menjadi 5 persen saja. Berarti ada 10 ribu orang prajurit. Wah ini sudah satu divisi dalam militer. Besar sekali.

Ahhh, gak mungkin bang Bir. Oke saya turunkan lagi jadi satu persen saja. Itu artinya ada 2000 orang prajurit tempur melawan Covid 19. Wah ini juga besar sekali. Ini dalam militer punya dua bataliyon tempur. Berarti ada 20 SSK Satuan setingkat kompi.

20 SSK itu berarti ada 60 peleton. Satu peleton sekitar 30-50 orang. Satu peleton ada 3 regu. Satu regu sekitar 10 orang. Satu regu jika dibagi 3 ada tiga sub regu kecil 3 orang. Artinya ada sekitar 700 pasukan kecil terdiri 3 orang. Ini sudah kekuatan besar sekali.

Dalam benak saya, saya tidak muluk-muluk berharap. Satu persen saja semua orang yang membaca pesan saya ini mau ikut bergerak itu sudah besar sekali dampaknya bagi bangsa dan negara kita.

Saya memiliki pengaruh untuk mengajak dan melakukan sesuatu. Untuk itu saya harus tunjukkan dulu.

Kan Lucu juga kalo saya mengajak turun ke jalan sementara saya ongkang-ongkang kaki nonton TV.

Kan konyol kalo saya mengajak orang menyumbang ke Yayasan Buddha Tzu Chi sementara saya tidak memberi sumbangan.

Dalam krisis sekarang ini, kesatuan pikiran dan tindakan itu harus sinkron. Berkata besar tapi tindakan tidak ada itu sama saja omong kosong. Tidak memberi manfaat sama sekali.

Dalam krisis peperangan melawan Covid 19 ini, semua kekuatan harus disumbangkan. Pikiran kita, tenaga kita harta kita. Yang penting ada kontribusi kita.

Nasihat Uncle Ben jadikan pegangan. Jika kamu punya pengaruh atau kekuatan besar, maka tanggung jawabmu juga besar.

So, teman-teman.., gunakan kekuatan dan pengaruh yang kita miliki untuk memenangkan pertempuran ini.

Gak usah muluk2.., jika kamu pemuda gereja, keluarlah untuk berbagi energimu. Jika engkau anak muda mahasiswa angkat senjatamu menjadi relawan garis depan.

Bergeraklah.., bergeraklah wahai pemuda pemudi. Pakai kaki dan tanganmu untuk berperang melawan musuh.

Terimakasih untuk semua cintamu pada kemanusiaan dan ibu pertiwi.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto