• News

  • Opini

Bagaimana Membangun Sistem Mendidik Masyarakat Menyikapi Pandemi Covid-19?

Desnaidi Aziz MBA., Dipl., OLT., Sert., ELT.
foto: istimewa
Desnaidi Aziz MBA., Dipl., OLT., Sert., ELT.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Propinsi Jawa Barat diberlakukan di beberapa lokasi. Bandung Raya berlaku Rabu, 22 April 2020.

PSBB ini meliputi wilayah Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan Kabupaten Sumedang. Kota Bogor, Bekasi dan Depok sudah berlaku, 15 April 2010. Sedangkan propinsi DKI Jakarta sudah memberlakukan PSBB sejak 10 April 2010.

Dari hasil pelaksanaan PSBB di Jakarta dan kota-kota lain ditemukan masih banyak pelanggaran dari peraturan PSBB tersebut. Yang sangat terlihat adalah ketidak-patuhan masyarakat dalam menjaga jarak (physical distancing) dan pemakaian masker ketika di luar rumah.

Kebijakan PSBB umumnya berupa pembatasan kehadiran fisik dari kegiatan perkantoran, pendidikan, peribadatan, kegiatan perdagangan, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Di mana inti dari kebijakan PSBB adalah untuk membatasi penularan Covid-19 dengan cara menjaga jarak dan menggunakan masker ketika di luar rumah.

Presiden menyakini pencegahan Covid-19 akan berhasil jika masyarakat disiplin. Faktanya, masyarakat kita bukanlah masyarakat yang memiliki budaya disiplin yang baik. Pelanggaran PSBB terjadi sejak kebijakan tersebut diberlakukan seperti di Jakarta.

Ada pekerjaan besar kita bersama untuk menanggulangi wabah Covid-19, yaitu mendisiplinkan masyarakat. Padahal mendidik masyarakat untuk menjadi masyarakat disiplin merupakan pekerjaan kita yang belum selesai.

Sehingga dengan wabah Covid-19 ini, beban tugas kita menjadi bertambah berat, mendidik masyarakat menjadi disiplin dan menanggulangi wabah Covid-19 itu sendiri dari berbagai aspek.

Meski pemerintah dan lembaga-lembaga lain termasuk komunitas telah melakukan komunikasi yang intensif tentang Covid-19 kepada masyarakat, namun faktanya di masyarakat masih melakukan pelanggaran terhadap kepatuhan dalam menjaga jarak dan memakai masker.

Termasuk tidak disiplinnya masyarakat dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan untuk selalu mencuci tangan dan membersihkan lingkungan.

Mendidik adalah proses menciptakan perubahan yang nyata. Perubahan dari aspek pengetahuan, kesadaran atau sikap dan tindakan. Jadi, pendidikan itu untuk menambah pengetahuan, membangun kesadaran, dan melakukannya.

Proses mendidik masyarakat tidak cukup hanya menyampaikan kata-kata dalam pidato, siaran pers, wawancara dan ceramah atau membuat gambar, poster, billboard, iklan layanan masyarakat atau tulisan cetak atau membuat video.

Pemegang tanggung jawab (pemilik otoritas) terhadap proses ini harus menjamin hingga tercapaikan tujuan ideal dari proses pendidikan tersebut.

Membangun sistem: mendidik masyarakat umum

Mendidik masyarakat dan berharap proses pendidikan tersebut memberi hasil yang diharapkan, bukanlah hal mudah dan sebentar. Diperlukan desain yang baik dan konsistensi dalam penerapannya.

Sebagai sebuah sistempPendidikan masyarakat, maka sistem ini harus didukung oleh sejumlah program-program yakni seperti program proses pendidikan itu sendiri, program penguatan hukum (law enforcerment), program administrasi, program sosial, program lainnya.

Khusus untuk program pendidikan, didesain dalam beberapa “kursus” yang terdiri dari sejumlah modul-modul atau pokok materi Pendidikan.

Dalam menjalankan khusus proses pendidikan, harus ditetapkan terlebih dulu tujuannya. Tujuan ini didapat dari hasil diagnostic, analisa, observasi, wawancara atau survei terhadap “pemilik” program dan target program pendidikan ini.

Yang jauh lebih paneting lagi adalah kejelasan dari eksekusi dari strategi proses pendidikan tersebut. Siapa yang menjadi pendidik, siapa targetnya, apa tujuanya, bagaimana melaksanakannya, media apa yang digunakan dan bagaimana mengukur hasilnya.

Ketika tujuan pendidikan adalah untuk menambah pengetahuan, maka pilihlah kata-kata, gambar atau ilustrasi yang mudah dimengerti dalam tingkat pengetahuan dan pengamalan mereka.

Gunakan bahasa mereka. Bahasa lokal dan simbol dan ilustrasi dalam kehidupan keseharian mereka. Gunakan juga penutur lokal yang dekat dengan mereka.

Tujuan pendidikan berikutnya adalah membangkitkan kesadaran atau sikap. Pada proses ini, kata-kata normatif dan informatif tidak akan efektif.

Dalam membangun kesadaran diperlukan upaya yang dapat menggugah kesadaran alam bawah sadar mereka. Gunakan bahasa yang menyentuh hati, story telling (kisah dan drama), testimoni/pengakuan atau audio visual yang dramatis.

Sedangkan dalam mendidik agar masyarakat mampu bertindak atau perilaku, maka  memberi fasilitas, penegakan sanksi dan sikap tegas adalah kuncinya. Ini akan memberi efek takut dan jera.

Contoh yang baik ketika Bupati Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara, Salim Landjar mendidik masyarakatnya dengan membawa peti mati.

Pendidikan yang disampaikan dalam bahasa sederhana dan langsung dimengerti masyarakat dan dibungkus dengan komunikasi visual “peti mati” yang menggugah kesadaran masyarakat.

Program Najwa Shihab yang mengangkat testimoni pengemudi mobil jenazah korban Covid-19 sangat bagus ditiru. Dimana sang supir memohon dengan linangan air mata yang meminta masyarakat tetap tinggal di rumah.

Pintanya sangat emosional dan mengharu-birukan perasaan kita. Di negara-negara eropa seperti Spanyol dan Perancis dan juga India, para aparat sangat tegas terhadap pelanggar “lockdown” berupa denda,  penangkapan, dan pemukulan.

Proses mendidik disebut efektif ketika terjadi perubahan tindakan yang nyata seperti tetap tinggal di rumah, menjaga kebersihan diri dan lingkungan dan menjaga jarak dan memakai masker di area publik.

Sayangnya, kita tidak dapat dengan jelas merasakan aspek pendidikan masyarakat tentang wabah Covid-19 didesain dalam satu kesisteman dengan dukungan program-program yang saling melengkapi.

Demikian juga dalam “program” khusus Pendidikan itu sendiri, kita tidak tahu siapa “pendidiknya”, apa tujuan atau target dan bagaimana desainnya itu dieksekusi.

Dengan tidak tertibnya dalam melakukan Pendidikan kepada masyarakat tentang wabah Covid-19 ini, maka tingkat perubahan perilaku masyarakat juga tidak terjadi secara signifikan.

Kita tidak menginginkan negara kita seperti Italia dimana anak mudanya tidak patuh terhadap peraturan pemerintah, sehingga memakan korban yang besar.

Kita juga tidak ingin seperti negara Ekuador di mana mayat-mayat tergeletak dan tidak tertangani dengan layak. Karena pendidikan masyarakat di sana gagal untuk memberikan efek “perilaku” pada masyarakatnya.

Menurut Worldmeterinfo, 22 April 2020, pukul 18.48, di seluruh dunia ada 2.576.099 kasus,  178.677 meninggal dan  704.142 sembuh. Dari data Covid19.go.id, tanggal 22 April 2020, di Indonesia ada 7.418 kasus, 5.870 dalam perawatan, 913 sembuh, 635 meninggal. Jawa Barat, 762 kasus, 79 sembuh, 71 meninggal. Kota Bandung, 157 kasus, 110 dirawat, 20 sembuh, 27 meninggal.

Sejak pasien pertama yang terinfeksi virus corona pada 17 November 2019, kini telah menyebar ke 213 negara dengan pertambahan kasus yang signifikan.

Kunci pencegahan penularan Covid-19 adalah kedisiplinan masyarakat. Kedisiplinan dalam mencuci tangan, membersihkan lingkungan, menjaga jarak, memakai masker dan meningkatkan imunitas diri. Kedisiplinan yang dihasilkan dari proses pendidikan yang tepat.

Syarat perubahan ada tiga: commitment, involvement, consistency, yakni dalam mendidik masyarakat.

Penulis: Desnaidi Aziz MBA, Dipl, OLT, Sert, ELT

Pemerhati Komunikasi dan Pendidikan

Editor : Taat Ujianto