• News

  • Opini

Wahai Preman Berjubah, Mengapa Kalian Ada Malah Menindas yang Lemah?

Birgaldo Sinaga
foto: istimewa
Birgaldo Sinaga

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Corona Virus-19 ini betul-betul mengubah cara hidup kita. Bukan saja cara kita bergaul, juga mengubah getaran welas asih kita pada sesama yang perlu ditolong.

Sebelum wabah Covid-19, jika ada orang terjatuh banyak orang mau menolong. Menggendongnya. Memapahnya. Membawanya ke rumah sakit.

Sekarang, melihat orang tiba-tiba jatuh pingsan, orang-orang di sekelilingnya dengan sigap langsung menjauh. Ketakutan. Jangan-jangan orang yang pingsan itu kena Corona Virus.

Tiada seorangp un mau mendekat. Semua berlari menjauh. Membiarkan orang pingsan itu sendirian. Sampai petugas medis dengan pakaian APD lengkap tiba.

Saya punya cerita soal itu.

Awal tahun 2017 lalu, saya hendak menjenguk seorang teman yang terkena sakit kanker di bilangan Bekasi. Saya tinggal di bilangan Kalideres. Saya naik ojek pangkalan menuju terminal busway Kalideres.

Baru lima menit duduk di motor, mata saya melihat sesosok tubuh renta tergeletak di trotoar jalan. Tubuhnya diam tak bergerak. Mulutnya menganga. Wajahnya menantang matahari.

Di samping kirinya ada sebuah karung goni plastik putih. Ada sebuah pengait besi di atas goni plastik putih itu.

Di atas perutnya ada uang kertas kumal senilai lima belas ribu. Mungkin seseorang lewat, lalu iba dan memberi sumbangan dengan menaruh uang di atas perutnya.

Siang itu jalanan kompleks perumahan tampak lengang. Hanya motor ojek yang saya tumpangi lewat di jalan itu. Matahari angkuh sekali. Panasnya menyengat hingga menembus ke daging.

"Bang, kita balik, Bang. Ada orang sepertinya pingsan atau meninggal di situ," ujarku sambil menepuk pundak Bang Ojek.

Kami memutar balik mendekati sosok tubuh yang tergeletak itu. Saya turun lalu berjalan mendekati sosok lelaki renta tua itu. Wajah hitamnya nampak pucat.

Rambutnya putih meski ditutupinya pakai topi. Aku menepuk pundaknya. Tidak ada respon. Aku pegang nadinya. Syukurlah masih ada denyut. Nadinya lemah. Nafasnya satu-satu.

"Uhhh..," lirihnya pelan. Ia merespon saat ku tekan perutnya. Matanya masih menutup.

"Bang bantu bopong ke sana, ya," pinta saya ke Bang Ojek.

Saya memanggil Bang Ojek untuk bantu membopong laki-laki tua itu berteduh di bawah pohon.

Saya bopong ketiaknya, Bang Ojek bopong kedua kakinya. Lalu kami menyandarkan punggungnya pada pohon peneduh di trotoar jalan itu.

Kelopak matanya masih tertutup. Tidak ada suara keluar dari mulutnya selain erangan lirih. Wajahnya pucat sekali.

Sepertinya kakek tua renta ini belum makan. Ia kehausan. Lalu pingsan jatuh tergeletak di trotoar itu. Panas terik tidak membuat kakek tua itu gelisah meski ia memakai jaket.

Saat bersandar, tubuhnya jatuh lunglai. Ia tidak mampu menahan beban tubuhnya. Nafasnya masih lemah. Saya turunkan badannya terlentang tidur di atas trotoar di bawah pohon rindang.

"Bang, belikan nasi bungkus dan minuman ya. Cepat, ya," pinta saya ke Bang Ojek sambil memberikan uang lima puluh ribu.

Bang Ojek bergegas menyalakan motornya. Ia pergi ke warung makan dekat kompleks perumahan itu.

Sekitar 10 menit, saya membangunkan kakek tua itu. Mengangkat punggungnya agar bisa bersandar di balik batang pohon peneduh jalan. Ia bangun. Matanya terbuka.

"Ayo Pak minum, ya," ujar saya sambil saya arahkan mulut botol air mineral ke bibirnya.

Kakek tua itu merespons. Ia membuka mulutnya. Ia meminum beberapa teguk saja. Lalu matanya terbuka. Ia melihatku.

Saya bertanya siapa namanya. Tapi masih nampak lemah sekali. Ia diam saja. Kedua bola matanya menatap sayu. Saya menuangkan air lagi ke mulutnya. Kali ini ia menengguk banyak.

Bang Ojek datang dengan sebungkus nasi. Saya menyuapin nasi ke mulut kakek tua itu. Tangan kakek tua itu belum sanggup diangkatnya. Tangannya dekil, hitam berdaki.

Kakek tua itu membuka mulutnya. Ia menerima suapan nasi, lauk telur dan tahu gulai. Giginya tidak lengkap lagi. Ompong. Ia mengunyah pelan. Lalu minta minum.

Orang-orang yang lewat melihat kami. Mereka turun, mungkin ingin tahu apa yang terjadi. Saya terus menyuapin kakek tua itu. Mukanya mulai berkeringat. Perlahan ia mulai bertenaga. Ia mulai mampu mengangkat tangannya.

"Ari... Ari..," jawabnya lirih saat saya tanya namanya. Usianya di atas 75 tahun.

Orang-orang yang merubungi kami mengenal kakek tua itu sebagai pemulung yang sering keliling kompleks.

Seorang ibu muda sepertinya kenal kakek tua itu. Mereka bicara pakai bahasa daerah. Tapi Kakek Ari itu banyak diam. Saya terus menyuapinya. Mungkin karena terlalu lapar tidak banyak nasi ditelannya. Hampir 30 menit saya menyuapi Kakek pemulung.

Perlahan tampak wajahnya mulai bersinar. Tidak pucat lagi. Ia sudah mampu duduk tegak. Ia meminum satu setengah botol air mineral 600 ml. Ia makan sebutir telur rebus dan dua potong tahu gulai.

Saya meminta Bang Ojek yang mengantar saya untuk mengantar Kakek Ari pulang ke rumahnya. Ia tinggal di tempat pemulung mangkal di lapangan Rawalele Kalideres.

Tetapi badannya belum sanggup dibonceng. Saat dinaikkan ke boncengan badannya miring ke kanan. Ia tidak bisa duduk tegak seperti orang normal.

Ibu muda yang satu daerah dengan Kakek Ari itu bersedia menemani pulang. Caranya, mereka bonceng tiga. Kakek Ari duduk di tengah. Ibu muda duduk di belakang. Kakek Ari diapit agar tidak jatuh saat dibonceng.

Karung goni berisi plastik hasil kerjanya ditaruh di tengah sadel motor. Saya menitipkan uang secukupnya buat Kakek Ari.

Akhirnya kakek Ari berhasil naik motor diapit Ibu muda itu. Bang Ojek mengantar dikawal Ibu muda itu.

Saat ini kita melihat banyak kegilaan yang dilakukan orang-orang yang menganggap dirinya paling beriman.

Di Batang Kuis ada preman berjubah menghina, mencaci maki, mengucapkan kata-kata kotor kepada seorang ibu yang sedang berjualan. Ibu Lamria Manullang pemilik kedai dibentak dengan kalimat kotor dan hina oleh manusia-manusia yang menganggap dirinya suci.

Miris membaca berita itu. Bagaimana mungkin manusia begitu angkuh dan sombong menistakan sesamanya?

Mengapa ada yang merasa diri suci dan benar sendiri menganggap orang lain najis dan pendosa?

Manusia sebagai makhluk yang mulia akan mengasihi sesamanya manusia.

Manusia yang mulia akan menghormati dan menyayangi sesamanya manusia.

Mengasihi sesama manusia tanpa syarat bukti bahwa manusia adalah makhluk mulia.

Berbeda dengan binatang. Berbeda dengan hewan. Binatang akan saling memangsa. Berlaku hukum rimba. Yang kuat memangsa yang lemah.

Meskipun terkadang manusia lebih brutal dan sadis dari binatang dalam catatan sejarah peradabannya.

Kakek Ari tidak saya kenal siapa dia. Agamanya apa. Sukunya apa. Pilihan politiknya apa. Ia yang tua renta bertarung hidup dengan bekerja dengan peluhnya. Tidak mencuri. Tidak merampok. Tidak korupsi. Tidak mengemis.

Sama seperti Ibu Lamria Manullang itu. Baginya mencari nafkah dengan halal adalah caranya bertanggung jawab menghidupi anak-anak yang dititipkan Tuhan padanya. Untuk dipelihara. Dirawat. Dijaga. Dididik.

Lalu mengapa kalian preman berjubah lebih ganas dari virus corona?

Mengapa kalian hadir di dunia malah menindas yang lemah?

"Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan" (Imam Ali bin Abi Thalib).

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto