• News

  • Opini

Ustaz Khalifah Sinaga, Belajarlah pada Kiai yang Teduh dan Berilmu Padi

Birgaldo Sinaga
foto: istimewa
Birgaldo Sinaga

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sejak kanak-kanak, saya sudah berbaur dengan  teman dari beragam suku dan agama berbeda.

Tetangga sebelah rumah saya  muslim Jawa. Setiap sore menjelang Mahgrib, Pak Sunarto menyetel radio tausiah dari Dai Sejuta Umat KH Zainudin MZ.

Saya  ikutan mendengarnya. Wong suara radionya kenceng, apalagi zaman dulu punya radio itu gak banyak yang punya. Rumah kami berdekatan.

Kenapa saya senang dengar tausiah Kyai Zainudin MZ? Enak aja. Ceramahnya penuh guyon. Enak didengar dan ringan mudah dimengerti.

Saban dengarnya kasih tausiah pasti saya tertawa terpingkal-pingkal. Soal sandal jepit yang hilang pas Jumatan misalnya.

Masa kecil saya banyak bersama kawan-kawan, saya yang muslim. Muslim Jawa. Di lingkungan kampung saya dari ratusan keluarga hanya 4 keluarga yang Kristen. Itupun berjauhan tinggalnya.

Tidak heran saya bisa mengerti seluk beluk kehidupan muslim terutama muslim NU.

Pak Sunarto tetangga saya sering bikin acara wirid di rumahnya. Dari sela-sela dinding rumah terdengar suara kalimat tauhid "Laa ilaaha illallah“

Saat menyebut kalimat itu kepala mereka seperti geleng-geleng ke kiri ke kanan. Saya sering melihatnya. Buat anak kecil seperti saya tentu ada rasa ingin tahu.

Cukup lama mereka mengucapkan kalimat itu. Saya tidak tahu jumlah zikirnya. Semakin di ujung semakin cepat ketukan zikirnya. Herannya, puluhan orang itu bisa serentak mengucapkannya dan bisa tepat menghitung jumlah zikirnya.

Selepas wirid, setiap orang dapat nasi. Kami juga kebagian. Di antar anak Pak Narto ke rumah kami.

Acara tahlilan orang yang meninggal dunia juga saya tahu. Acara 7 hari. Acara 40 hari. Acara 1000 hari. Sering saya dapat makanan dari keluarga yang bikin acara tahlilan. Saya duduk manis saja di tikar saat tahlilan berlangsung. Buku kecil Yasinan jadi bacaan doa saat tahlilan.

Nah, pas tiba bulan puasa, ini benar-benar rezeki nomplok buat saya. Kebayang sahur dan buka puasa. Biasanya, selepas sahur teman-teman saya keliling kampung. Bangunin warga dengan kentongan bambu. Anak-anak kampung gerilya pake sarung.

Selepas itu, kami ramai-ramai jalan kaki ke Pintu Gerbang Tol Tj Mulia Medan. Di sana ramai orang berkumpul. Orang menyebut asmara subuh. Banyak remaja selepas sahur nongkrong di sana. Akhirnya saling lirik, jadi deh pacaran. hehhee

Saat berbuka, ini bikin bertambah gizi saya. Semua jenis makanan menggugah selera ada. Dan hebatnya menu berbuka itu selalu istimewa. Ada kolang kaling. Cincau. Kolak dingin. Ahh lezatos nikmatoslah menu berbukanya.

Bulan puasa dianggap bulan berkah. Bulan ampunan. Bulan penuh pahala. Saya setuju, karena di bulan puasa anak-anak seperti saya selalu dapat berkah. Dapat makan enak.

Selepas sholat Tarawih, biasanya kami bermain di tanah lapang. Kadang main bola api yang ditendang berkejaran. Bola api ini dari batu apung yang dicelupkan minyak tanah. Kadang dilempar ditangkap

Jika bosan, kami bermain sambar elang. Seharian bulan puasa dari subuh sampai malam adalah bermain. Saya ingat sekali masa-masa puasa zaman saya kecil.

Ustad di kampung saya dulu sama seperti warga kebanyakan. Kalo berpapasan suka menegur ayah saya. "Pak Nagaaaa ", tegur Pak Ustad saat lewat depan rumah kami.

Guyub, rukun, damai dan tentram. Begitu suasana harmoni beragama waktu saya kecil.

Dua tahun lalu, saya berkunjung ke  Pondok Pesantren Motivasi Indonesia, Bekasi.

Saya diundang Kyai Enha, pengasuh pondok. Ada Halaqah Kebangsaan yang juga dihadiri tokoh besar Prof Dr Nadirsyah Hosen PhD, Guru Besar Monash University Australia. Beliau juga Ketua PCNU Australia.

Dan juga ada Rois Syuriah PBNU Kyai Haji Ahmad Ishomuddin. Kyai Ishom sosok pemikir utama NU.  Kyai Ishom bukan saja cerdas, namun punya keberanian yang sulit dicari tandingnya. 

Saat banyak ulama menolak menjadi saksi ahli untuk Ahok,  Kyai Ishom berani menerima beban itu. 

Ujungnya,  berbulan-bulan Kyai Ishom dihujat,  dinista,  diolok-olok. Disebut dajjal, PKI,  antek aseng sudah sarapan paginya.  Kyai Ishom juga menjadi saksi ahli melawan gugatan HTI di PTUN.  Saya beruntung bertemu dengan beliau. 

Halaqah Kebangsaan itu mengambil tema "Khilafnya Penyeru Khilafah."

Di joglo Pondok, Kyai Ishom dan Gus Nadir menjadi bintangnya. Kami duduk melingkar. Senangnya kalau duduk dengan Kyai NU itu pasti awet muda.

Dapat siraman rohani plus jasmani jadi bugar segar. Gimana gak segar bugar kalo tertawa sepanjang obrolan. Padahal yang disampaikan itu serius lho.

Saya membayangkan andai negeriku ini dipenuhi ulama cerdas namun rendah hati sekaliber Kyai Ishom dan Gus Nadir, alangkah bahagia dan damainya negeriku. Saya serasa seperti keluarga bersama dengan mereka.

Sore menjelang pulang, saya ditawari minum air zam zam oleh Kyai Enha.

"Bro Bir..kemari..ini teguk air zam zam biar sampeyan jadi mualaf," ledek Kyai Enha.

Saya melangkah mendekat. Secangkir kecil dituangkan dari teko berwarna keemasan. Lalu saya teguk. Glek..glek.

"Lho Kyai..kok tiba-tiba saya dapat bisikan jadi cawapres Jokowi ya..," guyon saya sambil memasang wajah serius seperti kemasukan roh halus.

Spontan semua tertawa mendengar saya membalas guyon mualaf Kyai Enha.

"Ya pantes ente jadi cawapres Jokowi bro..tapi musti muslim dulu," ledek Kyai Enha.

"Pak Kyai..satu mualaf Felix aja dah buat negeri ini rame..apalagi kalo saya mualaf," balas saya sambil ngakak.

"Saya ini ngucap sholawat udah sering, tinggal syahadad aja yang belum kyai," tambah saya sambil membetulkan peci hitam pemberian Kyai Enha.

Semua kami yang duduk lesehan di joglo Pondok Pesantren Motivasi ngakak pol. Benar2 cair guyub adem tentrem persaudaraan kami. Meski berbeda keyakinan tapi kami saudara dalam kemanusiaan.

Begitulah sejatinya manusia. Kita berbeda bukan untuk merasa benar sendiri, tapi saling melengkapi untuk tujuan hidup yang baik penuh kebajikan. Semuanya menjadi manusia yang manfaat bagi sesamanya. Menjadi rahmatan lil alamin.

Jadi buat kamu mualaf Ustad M Khalifah Sinaga, gak usah ngegas kali ngolok-olok agama dan leluhurmu ya.

Belajarlah sama orang-orang muslim yang berilmu padi. Makin berisi makin menunduk. Makin teduh. Menjadi rahmatan lil alamin. Bukan malah jadi provokator.

Bukan malah menjadi perusak relasi keberagaman.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : taat ujianto