• News

  • Opini

Mengapa Masyarakat Tumpah Ruah di Pasar Hari-Hari Ini di Masa PSBB?

Desnaidi Aziz MBA , Pemerhati Pendidikan dan Komunikasi)
foto: istimewa
Desnaidi Aziz MBA , Pemerhati Pendidikan dan Komunikasi)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di seluruh Propinsi di Indonesia masih berjalan. Kebijakan PSBB umumnya berupa pembatasan kehadiran pisik dari kegiatan perkantoran, pendidikan, peribadatan, kegiatan perdagangan, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Di mana inti dari kebijakan PSBB adalah untuk membatasi penularan Covid-19 dengan cara menghindari kerumunan, menjaga jarak, dan menggunakan masker ketika di luar rumah.

Sementara itu, dari data Covid19.go.id, tanggal 18 Mei 2020, di Indonesia ada 18.010 kasus, 4.324 sembuh, 1.191 meninggal. Belum ada tanda-tanda trend penurunan.

Tapi hari-hari ini, fenomena masyarakat berdesak-desakan di pasar. Dari video yang viral di media sosial, masyarakat setiap sore hari khususnya, sedang berdesak-desakan di pasar, di mal. Parkiran motor meluap hingga di jalan.

Apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran masyarakat kita, ketika wabah Covid-19 masih ada, mereka hanyut dalam nafsu berbelanja untuk persiapan hari raya?

Dari perspektif ilmu komunikasi menerangkan bahwa stimuli, fakta atau sesuatu peristiwa itu, tidak memberi makna apapun, tapi oranglah yang memberi makna.

Covid-19, PSBB, menjaga jarak, hari raya, pakaian baru, kue lebaran, pasar, mal itu hanyalah stimuli, fakta, kenyataan, sesuatu peristiwa, tapi itu semua baru akan memberi makna dari cara orang mempersepsikannya.

Apa yang kita saksikan sekarang. Pasar penuh. Mal sesak. Parkir meluber. Itulah makna yang dipertontonkan masyarakat dari stimuli sebuah tempat.

Pasar, ya pasar. Tempat bertemunya supply dan demand. Tempat bertemu penjual dan pembeli. Tempat dipertukarkannya barang dengan uang. Bukan tempat untuk dihindari.

Sementara Covid-19 hanyalah “penyakit”. Mereka yang tertular dan mati, itu karena sudah waktunya saja. Jaga jarak itu hanya slogan. Kalau tidak ada yang menghukum untuk apa dipatuhi.

Kenapa masyarakat kita sampai begitu?

Pemberian makna pada stimuli, fakta, tempat atau sesuatu peristiwa disebut persepsi. Covid-19 dipersepsi hanyalah penyakit. Korban Covid-19 dipersepsi sudah takdirnya. Jaga jarak dipersepsi hanya peraturan yang hanya perlu ditakuti bila ada hukuman dan jika ada petugas yang menindak.

Persepsi erat sekali kaitannya dari proses “sensing” yakni proses “menginderai” stimuli, fakta, sesuatu peristiwa. Yaitu proses bagaimana indera-indera kita menangkap stimuli. Kepekaan indera-indera manusia seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan, peraba mempengaruhi persepsi.

Bisa jadi video tentang pasien Covid-19 yang kesusahan bernapas tidak ditangkap oleh penglihatan dan pendengaran masyarakat dengan baik. Tidak peduli.

Video saat kerabat korban Covid-19 menangis merelakan anggota keluarganya. Isak tangis mereka tidak bermakna. Begitu juga video ketika mayat korban dalam peti dimakamkan yang hanya diantar petugas, itu tidak menggugah indera penglihatan dan pendengaran tentang “tragisnya” peristiwa itu.

Kita menyadari satu stimuli telah melahirkan tanggapan yang beragam. Walau peristiwanya sama, orang akan menanggapinya berbeda-beda, sesuai dengan keadaan dirinya sebagai bagian dari masyarakat.

Setiap orang mempersepsi stimuli sesuai dengan karakteristik personalnya. Sebuah pesan akan diberi makna berbeda oleh orang yang berbeda. Words don’t mean; people mean. Kata-kata tidak mempunyai makna; oranglah yang memberi makna.

Sensesi (proses indera menangkap stimuli) pada diri seseorang akan berbeda dengan orang lain. Ini disebabkan oleh perbedaan pengalaman atau lingkungan budaya dan kapasitas atau kualitas alat indera kita.

Menafsirkan makna sebagai persepsi (dari stimuli-sensasi) juga melibatkan aspek atensi, ekspektasi, motivasi dan memori.

Lalu apa yang dapat pemilik otoritas, pemerintah, aparat atau petugas  lakukan terhadap kondisi ini?

Lakukan kembali penegakan disiplin dan hukuman. Beri pengalaman yang menggugah kesadaran masyarakat. Agar atensi atau perhatian masyarakat kembali kepada aturan.

Aktifkan petugas berpatroli. Lengkapi petugas dengan anjing yang menyalak, agar masyarakat menjadi perhatian tentang keberadaan petugas dan menghindari anjing. Persepsi masyarakat bisa diarahkan dengan memaksa atensi masyarakat terhadap pesan stimuli tentang bahayanya berkerumun.

Jika perlu untuk menarik perhatian (atensi) masyarakat dengan “memajang” mobil ambulan atau peti mati di pasar. Indera mata masyarakat akan terarah pada wujud mobil ambulan atau peti mati yang akan membantu proses mempersepsi tentang bahaya berkerumun. Penularan Covid-19 dan mati.

Lakukan patroli secara konsisten, terus menerus dan agar tidak ada celah untuk masyarakat keluar rumah apalagi berdesakan di pasar atau mal.

Alihkan dorongan nafsu kebutuhan biologis masyarakat terhadap pakaian baru dan kue lebaran ke hal yang religius. Cegah sikap, kebiasaan dan kemauan masyarakat dari persoalan material ke hal lain.

Karena mayoritas pembeli kita mudah terpengaruh promosi dan suka terhadap promo diskon, maka dilarang pasar atau mal melakukan program promosi.

Untuk mengurangi jumlah kendaraan yang parkir, naikkan tarif parkir. Tutup saja mal dan toko yang tidak menjual kebutuhan pokok. Larang mal menyalakan udara pendingin.

Tata pasar yang menjamin terjadinya jaga jarak. Buat pasar menjadi tempat yang hanya untuk membeli kebutuhan pokok dan bukan tempat yang nyaman untuk berkerumun. Ciptakan kebutuhan masyarakat untuk berbelanja online. Diskon atau bebas ongkos kirim.

Persepsi bersifat selektif secara fungsional. Biasanya obyek yang memenuhi tujuan kita akan mendapat perhatian. Pastikan saja “pasar” hanya tempat untuk membeli kebutuhan pokok saja.

Terus siarkan berita-berita dan kisah-kisah korban Covid-19 agar masyarakat punya referensi terhadap akibat Covid-19. Lakukan berulang-ulang agar tertanam dalam memori masyarakat tentang akibat Covid-19.

Akhirnya, masyarakat diajak untuk berpikir bahwa pasar dan mal bukannya tempat yang nyaman untuk didatangi hanya untuk memenuhi nafsu biologis dan materialistis.

Ajarkan mereka berpikir sebab akibat. Karena sebab berkerumun, Covid-19 menular ke orang lain. Berpikir deduktif-induktif-evaluatif-analogis-kreatif.

Kita memang menyadari bahwa berpikir logis bukanlah kebiasaan masyarakat kita. Pada kondisi ideal, kita semua dapat berpikir seperti ahli logika; tapi dalam kondisi buruk, ahli logika semua berpikir seperti kita.

Tapi ini menjadi pekerjaan besar kita. Mendidik masyarakat. Dengan bekal pendidikan yang baik, masyarakat memiliki bekal referensi yang baik untuk mengarahkan persepsi masyarakat yang lebih tepat lagi tentang wabah Covid-19 yang sedang terjadi di negeri ini. Menjaga jarak, menghindari kerumunan dan menghindari pasar. (DA)

Editor : Taat Ujianto