• News

  • Opini

Webinar Pemakzulan Presiden Umbar Syahwat Kekuasaan di Tengah Pandemi

Flyer Webinar dengan Tema Konstitusionalitas Pemakzulan Presiden di Era Pandemi Covid-19.
foto: istimewa
Flyer Webinar dengan Tema Konstitusionalitas Pemakzulan Presiden di Era Pandemi Covid-19.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Hari ini adalah hari lahirnya Pancasila.  Pukul 10.00 WIB nanti beberapa profesor akan berbicara di webinar nasional dengan Tema Konstitusionalitas Pemakzulan Presiden di Era Pandemi Covid-19.

Ada 10 orang narasumber yang ikut di webinar itu. Tapi saya hanya familiar dengan tiga nama yaitu Din Samsudin, Refly Harun dan Denny Indrayana.  Tiga nama ini adalah pesohor intelektual politikus.

Din Samsudin mantan Utusan Khusus Presiden Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban. Din mundur pada awal Februari 2019.

Refly Harun baru saja dipecat dari jabatannya Komisaris Utama Jasa Marga.

Denny Indrayana dikenal sebagai Wamen Menhunkam jaman SBY. Terakhir Denny ikut dalam tim lawyer menggugat kemenangan Jokowi Amin di MK bersama Bambang Wijayanto.

Apa yang keliru dari kehadiran tiga narsum dalam webinar yang temanya menusuk ke tulang ini?

Secara hukum tidak ada yang salah. Konstitusi kita menjamin kebebasan berpendapat. Apalagi kebebasan akademik di kalangan akademisi kampus.

Pikiran jernih, kritis dari kalangan akademisi diperlukan untuk  menjawab banyak persoalan bangsa. Setidaknya itu pandangan kalangan rakyat jelata seperti saya.

Sayangnya tema webinar Konstitusionalitas Pemakzulan Presiden di Era Pandemi Covid-19 jauh panggang dari api. Jauh dari harapan rakyat.

Alih-alih ingin memberikan solusi bagi kepentingan rakyat. Yang tampak malah nafsu syahwat membincangkan peralihan kekuasaan.

Apa yang ada di benak kepala pesohor intelektual politik ini sebenarnya?

Sejak Maret hingga Juni ini, energi, pikiran, konsentrasi dan uang benar-benar dicurahkan seluruh komponen bangsa untuk mengalahkan Covid-19 ini.

Tidak terhitung berapa trilyun uang negara digelontorkan untuk menangani Covid-19 ini.

Donasi masyarakat juga tidak kalah gede. Trilyunan uang dari kantong masyarakat mengalir membeli APD untuk nakes.

Belum lagi gotong royong masyarakat yang turun menjadi relawan. Menjadi penyangga warga miskin dan susah dengan membagikan nasi bungkus dan sembako.

Jujur saja saya sampai tarik nafas panjang membaca flyer webinar ini.

Rasanya seperti ada seorang yang sedang berduka kehilangan suami.  Lalu ada segerombolan keluarga berbicara kencang soal pembagian harta  warisan.

Bagaimana merebut harta warisan orang yang meninggal itu.

Ketidakpekaan. Kehilangan hati. Saya kira tepat disematkan kepada orang-orang yang masih sanggup berbicara pemakzulan presiden saat kondisi negara kita berdarah-darah sekarang ini.

Kebebasan itu penting. Tapi lebih penting lagi keadaban. Kebebasan yang tak beradab akan merontokkan konsentrasi bangsa kita dalam memenangkan perang melawan Covid-19 ini.

Memenangkan perang artinya memenangkan ekonomi bangsa bangkit lagi. Yang notabenenya menyelamatkan kepentingan umum. Bonnum commune.

Saya tidak tahu, orang-orang tak punya perasaan ini bicara untuk siapa. Untuk kepentingan umumkah? Atau untuk syahwat kekuasaan mereka yang tertunda pelampiasannya?

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto