• News

  • Opini

Hadapi Demo 212, Jokowi Salat Jumat di Monas, Trump Hadapi Demo Antirasis?

Ilustrasi bagaimana Jokowi dan Trump hadapi demonstrasi
Facebook/Birgaldo
Ilustrasi bagaimana Jokowi dan Trump hadapi demonstrasi

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Hari-hari belakangan ini dunia dikejutkan dengan aksi demo besar-besaran warga Amerika Serikat. Hampir semua kota di Amerika bergolak.

Mereka marah atas terbunuhnya George Floyd oleh polisi. George tewas tidak bisa bernafas akibat lehernya ditekuk dengkul Derek Chauvin disaksikan 3 polisi rekan Chauvin.

Kematian Floyd di Minnesota itu menghentak emosi rakyat Amerika. Kematian yang sangat mengguncang perasaan rakyat Amerika. Bagaimana mungkin polisi yang punya slogan to serve and to protect malah menghabisi nyawa warga sipil yang sudah tidak berdaya?

Floyd mati karena kulitnya hitam. Polisi telah bertindak rasis. Floyd sudah mengiba tidak bisa bernafas. Hampir 8 menit Floyd mengiba memohon agar diberikan kelonggaran. Tapi 4 polisi itu tidak peduli. Karena Floyd berkulit hitam.

Protes dan kemarahan rakyat Amerika berujung rusuh. Kerusuhan, penjarahan dan aksi perusakan terjadi di mana-mana.

Bahkan di belahan dunia lain seperti Paris, Selandia Baru, German, Australia aksi damai dengan hastag #BlackLiveMatter menggaung kencang.

Dunia ikut bersimpati pada orang kulit hitam yang masih mendapat serangan rasis.

Di Washington DC, ibukota Amerika Serikat, ribuan pendemo mendekati Gedung Putih. Mereka ingin menemui Donald Trump. Menyuarakan protes atas cara Trump yang mengancam akan menurunkan tentara melawan rakyatnya sendiri.

Bagaimana cara Trump menghadapi para pendemo yang berunjuk rasa dekat istananya Gedung Putih?

Saya ingat 4 tahun lalu. Tepatnya hari Jumat, 2 Desember 2016. Hari yang selalu dikenang oleh Umat 212 sebagai hari paling indah.

Saat itu, ratusan ribu orang tumplek blek di Monas. Klaim HRS dan punggawanya jumlah massa sekitar 7 juta orang. Berjubel hingga seperti lautan manusia.

Mereka menuntut agar Ahok dipenjara. Jika tidak, istana akan dikepung.

Tidak jauh dari Monas, di Istana Negara, Presiden Jokowi tampak tenang2 saja. Ia dikelilingi orang-orang kepercayaannya.

"Bagaimana situasi di Monas? Apakah aman untuk saya ke sana?" tanya Jokowi.

Semua punggawa penanggung jawab keamanan dan pertahanan negara geleng kepala.  Kepala BIN, Komandan Paspampres,  Kapolri,  Panglima TNI,  Menkopolhukam memberi kode merah buat Presiden.  Negatif.

Alih-alih menuruti nasihat punggawanya,  Jokowi ternyata punya hitungan sendiri.

Kebetulan saya pernah berbuka puasa bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Bogor pada Juni 2018.

Jokowi bercerita.

Pukul 09.00 Wib pagi,  Jokowi sudah memerintahkan pasukan paspampres menghitung langkah dari pagar istana ke panggung aksi 212. Prajurit melaporkan sekitar 7 menit jalan kaki. Jokowi hanya manggut-manggut mendapat laporan itu.

Pukul 11.30 wib,  Jokowi mengumpulkan menteri. Dengan tenang Jokowi mengajak pembantunya ikut sholat di Monas.  Bergabung dengan ratusan ribu massa 212. Para pembantu presiden saling pandang. Mereka tidak percaya keputusan nekad Jokowi.

"Maaf Bapak Presiden, risikonya terlalu besar.  Kita tidak tahu siapa di kerumunan besar itu," potong salah satu pembantunya.

"Ya sudah..., Kita jalan sekarang.  Ini perintah," tegas Jokowi.

Di depan istana, Jokowi berpapasan dengan Wapres Jusuf Kalla. Jusuf Kalla kebetulan mau sholat Jumat di mesjid dekat istana. Spontan Jokowi mengajak wakilnya itu ikut ke Monas. Jusuf Kalla setuju.

Hujan yang mengguyur Monas pada Jumat siang , 2 Desember 2016 itu tidak menyurutkan langkah Jokowi menuju Monas.  Jokowi dengan langkah tenang dan ringan berjalan diapit pembantunya.

Kerumunan massa begitu padat di Monas terutama di sekeliling panggung utama . Paspampres bahkan tidak bisa menerobos panggung depan karena terhalang padatnya massa.

Akhirnya Paspampres membuka jalan dari sisi samping panggung. Puluhan personel Paspampres berbaju loreng baret biru muda terlihat lugas membuka jalan dan membuat pagar hidup. Menerobos lautan massa yang berjubel agar Presiden Jokowi bisa lewat.

Dari panggung belakang,  Jokowi digendong naik. Tanpa alas kaki,  Jokowi naik ke panggung.  Kecemasan tingkat tinggi terjadi. 

Seluruh rakyat Indonesia menonton melalui siaran langsung tanpa berkedip mata.  Para pasukan paspampres keringat dingin.  Semua dalam kondisi siap kokang senjata.

Semua menanti momen berisiko penuh bahaya ini.  Bagaimana jika Jokowi dilempar sepatu?  Bagaimana jika Jokowi diamuk massa?  Bagaimana jika Jokowi disoraki massa? Dipaksa turun?

Sesampai di panggung,  tangga untuk naik tidak ada. Tidak mungkin memutar ke depan panggung.

Tidak ada jalan lain selain menandu Presiden Jokowi naik ke atas panggung yang cukup tinggi itu.

Untung saja tubuh Jokowi ringan dan gesit. Cukup mudah baginya naik ke atas panggung dengan bantuan Paspampres.

Sebelum naik ke atas panggung utama, Presiden Jokowi melepas sepatunya.

"Mengapa dilepas Pak Presiden? Dipakai saja Pak ?" ujar ajudan yang was-was kaki Presiden bisa terinjak kerumunan banyak orang di panggung.

"Panggung ini telah dipakai tempat sholat Jumat", balas Presiden Jokowi sambil tersenyum.

"Siiiappp Pak!!", ujar ajudan bergetar melihat kesahajaan pemimpinnya.

Ajudan tidak menyangka dalam suasana tegang di tengah kepungan  ratusan ribu orang, Presiden Jokowi masih mengingat bahwa kesucian tempat ibadah tidak boleh ternoda.

Di atas panggung, tanpa alas kaki,  dengan baju basah terkena hujan Presiden Jokowi menyapa hangat peserta demo dengan takbir.

HRS yang berdiri di samping Menkopolhukam Wiranto terdiam. Ia tak menduga Presiden Jokowi yang selalu dilecehkannya sebagai presiden planga plongo mengucapkan takbir Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar dengan percaya diri.

Jokowi hanya minta bicara 2 menit.  Tidak banyak tapi Jokowi berhasil menenggelamkan yang punya panggung. Rizieq Sihab tenggelam dalam pidato 2 menit Jokowi.

Hitungan Jokowi ternyata tepat. 

"Kita tidak siap, di sana juga tidak siap.  Karena sama-sama tidak siap, ya saya pikir semua akan baik-baik saja", ujar Jokowi penuh percaya diri.

Tidak lama kemudian setelah aksi 212 yang layu sebelum berkembang itu,  Rizieq Shihab pergi ke Arab Saudi. Sudah hampir 4 tahun Rizieq bersemayam di sana. Tidak pulang-pulang. 

Tokoh sentral aksi 212 itu terkena karma. Mengolok-olok Jokowi penakut planga plongo, tapi ia sendiri tak berani pulang ke tanah air. Menurut kabar karena takut chat mesumnya terbongkar.

Bagaimana Presiden Donald Trump? Bagaimana caranya menghadapi para pendemo?

Saat para pendemo mendekati Gedung Putih, tersiar kabar Donald Trump dilarikan ke bunker bawah tanah. Trump diamankan ke tempat perlindungan paling aman sedunia. Bunker yang tahan dari ledakan bom besar.

Saya tertawa geli membaca berita itu. Bagaimana mungkin Trump yang suka mengancam di Twitter itu malah ketakutan sama rakyatnya sendiri?

Ahhh..ternyata nyali Presiden negara super power itu gak ada apa2nya dibanding Presiden Jokowi. Presiden kurus yang selalu tenang dan kalem pembawaannya itu.

"Makanya badan gede belum tentu punya nyali gede".

"Ehhh..elo nyindir gua ya.."

"Sorry brurrr..bukan elo...tapi gak enak kalo gue sebut namanya...takut dosa," ujar seorang teman sambil nyengir.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto