• News

  • Opini

Skandal Seksual Kaum Klerus, Tolong Jangan Hanya Salahkan Perempuan

Paus minta maaf kepada korban pelecehan seksual yang dilakukan imam
foto: pena katolik
Paus minta maaf kepada korban pelecehan seksual yang dilakukan imam

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Suatu saat, saya bertemu dengan seorang perempuan yang sedang berduka. Ia begitu sedih saat menceritakan bahwa salah satu romo (Pastor atau Imam dalam Gereja Katolik, red) yang melayani parokinya akan pindah tugas, untuk melakukan pelayanan di daerah lain yang jauh dari jangkauannya.

Awalnya, saya berpikir bahwa betapa baiknya, betapa dekatnya romo ini dengan umat yang dilayaninya, sehingga kepindahannya meninggalkan duka yang mendalam di hati umat parokinya.

Tapi belakangan setelah perempuan ini bercerita panjang lebar tentang hubungannya dengan romo tersebut, sebuah hubungan spesial layaknya dua insan yang tengah dimabuk asmara, saya terkejut dan spontan berkata: “Kamu kok lucu sih Mbak, sudah tau romo kok dipacari, dianggap kekasih, dilayani pula kebutuhan biologisnya. Ini romo lo Mbak, apa yang bisa Mbak harapkan dari seorang romo seperti beliau?”

“Iya saya tahu saya salah, tapi saya begitu mencintai beliau. Dan saya melayani beliau karena saya tahu beliau seorang romo, tidak mungkin memenuhi kebutuhan biologisnya dari seorang istri, karena dilarang gereja untuk menikah.”

Sampai di situ saya diam, blas ngga mampu berkata apa-apa lagi. Isi kepala saya mampet, ndak mampu menjelaskan logika macam apa yang ada di pikiran mbaknya ini.

Tidak, di sini saya tidak sedang berusaha menghakimi perempuan tersebut bahwa apa yang dilakukannya itu berdosa, bukan?

Saya hanya sedang berusaha menelaah logika yang perempuan tersebut pakai karena ia berani menembus garis batas antara "romo dan umat", dan ia paham betul bahwa apa yang ia lakukan itu bersalah, tapi hatinya yang tengah dimabuk cinta lebih punya kuasa timbang logikanya.

Yesus dan perempuan yang berzinah

Ada salah satu kisah dalam Alkitab yang membuat saya yakin bahwa Yesus itu sebenarnya seorang feminis.

Ia memandang perempuan setara kedudukannya dengan laki-laki. Dan Ia ada di sana, mengulurkan tangan kepada perempuan yang membutuhkan bantuan, bukan menghakimi, atau menghina atau memanipulasi mereka, siapapun dia.

Kisah yang saya maksud adalah kisah Yesus yang tengah berada di Bait Allah, saat seluruh rakyat ada di dekat-Nya mendengarkan ajaran-Nya, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang perempuan yang kedapatan berbuat zina kepada-Nya.

Mereka menempatkan perempuan tersebut di hadapan Yesus, dan mencobai Dia agar menemukan sesuatu untuk disalahkan kepada-Nya.

Mereka berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”

Dalam kisah yang dicatat di Injil Yohanes ini, Yesus hanya membungkuk dan menulis dengan jari-Nya di tanah. Ketika mereka terus menerus bertanya kepada-Nya, Ia kemudian bangkit berdiri dan berkata kepada mereka: ”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Setelah mendengar perkataan-Nya, mereka akhirnya pergi satu persatu meninggalkan Ia dan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Setelah semua pergi, Yesus berkata pada perempuan itu: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Pantaskah menghakimi perempuan korban kaum klerus?

Dalam berbagai catatan gelap skandal kaum klerus, perempuan menjadi korban terbanyak kedua setelah anak-anak. Dan kisah perempuan yang berhubungan dengan seorang romo kemudian berbuah anak itu bukan kisah baru di lingkungan gereja.

Hanya saja seringkali kisah-kisah semacam itu berakhir menjadi rumor belaka di lingkungan gereja. Pun romo-romo yang menyalahi kaul kekalnya seringkali mendapat permakluman dari umat. Alasannya, namanya juga lelaki, jadi ya wajar saja kalau sesekali terlibat dengan perempuan.

Dan ironisnya, perempuan-perempuan yang menjadi korban inilah yang justru mendapat kecaman dari umat lainnya. Mereka dianggap sebagai perempuan penggoda. Perempuan tak tahu diri yang terlalu berani menggoda para romo ini agar terjebak dalam dosa.

Hal ini juga yang membuat para perempuan penyintas kejahatan kaum klerus ini lebih banyak memilih untuk diam, menyimpan kisah kelamnya untuk dirinya sendiri. Jangankan berani bercerita tentang kisahnya kepada orang lain, kepada keluarganya sendiri pun belum tentu mereka mau terbuka.

Luka itu disimpan sendiri, dikubur dalam-dalam tanpa adanya pertolongan, bahkan sekedar telinga untuk mendengarkan. Duh....

Padahal yang namanya seorang romo/pastur yang menerima janji imamat dan berkaul kekal hidup selibat, pasti tahu persis bagaimana Hukum Kanonik berlaku tentang hubungan dengan lawan jenis.

Dan seseorang yang sudah menerima janji imamat pastilah seorang dewasa yang paham betul bahwa ia tak boleh berhubungan khusus dengan para perempuan.

Mereka orang dewasa yang bisa memakai logika dan akal sehat, bukan anak kecil yang mudah dipengaruhi oleh sesuatu.

Salah satu Bab dalam Kitab Hukum Kanonik 1983 ada pembahasan mengenai klerus yang bisa kehilangan status klerikalnya.

Penjelasan Kanon 290, ada salah satu poin penyebab klerus dikeluarkan/dipecat dari status klerikalnya yang berhubungan dengan perempuan yang berbunyi:

”Imam yang dalam melayani atau dalam atau dalam kesempatan melayani atau pura-pura melayani sakramen pengakuan dosa mengajak peniten untuk berbuat dosa melawan perintah keenam dari sepuluh perintah Allah, terkena hukuman dan dalam kasus yang lebih berat hendaknya dikeluarkan dari status klerikal.”

Jelas sekali disebutkan tentang perintah keenam dari sepuluh perintah Allah, kan?

Itulah mengapa saya masih belum mampu paham, bagaimana judulnya kok malah para perempuan yang menjadi penyintas ini disalahkan dan mendapat tekanan dari umat lainnya yang merasa bahwa romo-romo mereka tak mungkin bisa berbuat zina kecuali digoda terlebih dahulu.

Celakanya, victim blaming semacam ini, yang menyalahkan para korban kekerasan seksual memang sudah menjadi rape culture di masyarakat kita. Itu mengapa para korban kejahatan seksual kaum klerus ini enggan membuka lukanya untuk sekedar melaporkan kepada pihak yang berwajib.

Ini Indonesia bung, di mana hukum sosial berlaku lebih kejam timbang hukum positif. Masyarakat kita juga cenderung bias dalam menghadapi kasus-kasus kekerasan seksual. Masih banyak yang menganggap bahwa kecerobohan korbanlah yang membuat kejahatan seksual bisa terjadi.

Padahal pola hubungan yang terjadi antara kaum klerus dengan para perempuan ini semacam gaslighting dalam hubungan asmara. Dimana si korban dimanipulasi mentalnya sedemikian rupa hingga mereka mempertanyakan kebenaran dan kewarasan mereka sendiri.

Seorang gashlighter akan membuat korbannya menuruti semua perkataannya, bahkan si korban tak merasa bahwa hidupnya dimanipulasi, ia merasa bahwa apa yang ia lakukan adalah sebentuk cinta dan keikhlasan dalam sebuah hubungan.

Dan hubungan seperti itu, bahkan dalam sebuah hubungan asmara yang terjadi di masyarakat kebanyakan adalah bukan sebuah hubungan yang sehat, atau yang lebih kita kenal dengan toxic relationship. Apalagi hubungan terlarang yang terjalin antara romo dengan umatnya.

Kita semua memang patut merefleksi diri kembali, dimanakah posisi kita saat menghadapi kasus-kasus seperti ini. Karena bahkan, Yesus saja berlaku feminis, dengan mengulurkan tangan kepada perempuan yang membutuhkan, masa kita umatnya justru berlaku sebaliknya.

Malah menjadi bagian dari kaum misoginis, yang sibuk menyalahkan korban, dan membenarkan perilaku pelaku kekerasan seksual.

Penulis: Margaretha Diana

Editor : Taat Ujianto