• News

  • Opini

Almarhum dr Andhika Pejuang Covid-19, Dengarkanlah Suara Hati Anakmu!

Birgaldo Sinaga
Istimewa
Birgaldo Sinaga

MEDAN, NETRALNEWS.COM - Lelaki muda berperawakan ramping itu menghentikan sepeda motor bebeknya. Persis di depan pagar sekolah dasar tempat putri semata wayangnya sekolah.

Sang putri yang masih kelas 2 SD itu turun dari boncengan. Berdiri di samping ayahnya.

Dari atas motor lelaki muda itu memegang kepala buah hatinya. Ia menatap dengan senyum membuncah wajah putri kesayangannya itu.

Kedua tangan perkasanya memegang wajah putrinya itu. Seperti mendekap erat. Jari jempol  menyentuh dua  bola mata putrinya. Sang putri menutup kedua matanya. Ada doa terpancar dari si ayah. Doa untuk putri kesayangannya.

"Da..da..da..ayah...," ujar putri kesayangan tersenyum manis.

Lelaki itu membalas senyum bocah perempuan kesayangannya itu. Ia berbalik pulang ke rumah.

Di rumah, istrinya menunggu. Menyiapkan keperluan sang suami. Untuk bersiap bekerja menjadi dokter spesialis di RS Columbia Medan. Lelaki muda itu adalah dokter Andhika Kesuma Putra, Sp.P, FCCP.

Dokter Andhika adalah dokter yang lemah lembut dan baik hati. Ia dokter cerdas. Usianya masih sangat muda. Di usia mudanya, ia berhasil menjadi dokter spesialis yang mumpuni. Rekan sejawatnya sangat menghormatinya. Para perawat menyayanginya.

Hari ini, putri kesayangannya tidak akan pernah lagi diantar ke sekolah. Putri semata wayang dokter Andhika tidak akan pernah lagi menerima dekapan tangan perkasa ayahnya.

Dua hari lalu, ayahnya meninggal dunia. Setelah berjuang beberapa minggu karena kena Covid-19, dokter Andhika menyerah. Dokter Andhika meninggal dunia. Meninggalkan putri semata wayang yang masih kecil. Juga meninggalkan seorang istri yang juga kena Covid-19 dan masih kritis.

Hari ini, putri semata wayang Andhika belajar di sekolah. Memandang laptop dalam kesedihan. Tiada lagi ayah kesayangan yang menemaninya. Yang memanjakannya. Yang memeluknya. Yang mendekapnya.

Ayahnya  telah pergi meninggalkannya. Kembali kepada Sang Pencipta. Di surga.

Lamat-lamat terdengar alunan lagu sendu Ayah dari jauh. Alunan jiwa lara putri semata wayang dokter Andhika.

"Di mana, akan ku cari...aku menangis seorang diri...

Hatiku slalu ingin bertemu ...untukmu aku bernyayi...

Untuk ayah tercinta...Aku ingin bernyanyi..

Walau air mata ...di pipiku...

Ayah dengarkanlah...aku ingin berjumpa..

Walau hanya dalam...mimpi..."

Selamat jalan pahlawan kemanusiaan
Dokter Andhika...

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto