• News

  • Opini

Aliran Kristen Radikal Tak Berakal Itu Ada

Birgaldo Sinaga
FB/Birgaldo
Birgaldo Sinaga

MEDAN, NETRALNEWS.COM - Siapa bilang dalam aliran agama Kristen tidak ada yang radikal dan berakal?

Dulu, di Tanah Batak ketika agama Kristen masuk melalui misionaris Nomensen, agama dan budaya bisa berdampingan. Agama baru di Tanah Batak ini tidak meniadakan budaya Batak.

Agama leluhur orang Batak sebelum masuknya agama Kristen Protestan dikenal dengan nama Parmalim.

Orang Batak yang menjadi Kristen umumnya saat itu bergabung dalam gereja HKBP.

Dekade 80an, aliran baru yang disebut Kharismatik masuk ke tanah air. Gelombang aliran karismatik ini kerapkali mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani  di kota-kota besar. Di Medan sering diadakan di Stadion Teladan. Saya pernah mengikutinya sekitar dekade 1990-an.

Aliran karismatik ini pun terpecah beberapa mazhab. Ada yang sangat radikal ekstrim. Ada juga yang moderat.

Ajaran ekstrim radikal tak berakal ini persis sama dengan aliran ekstrim di agama non Kristen yang mengharamkan musik. Gitar dibakar. Keris dihancurkan. Batik dibakar.

Dalil yang digunakan Kristen radikal ini sama persis dengan non Kristen yang membakar gitar dan keris itu. Dalilnya musyrik. Menyekutukan Tuhan.

Sejatinya orang-orang yang merusak budaya ini adalah hama peradaban. Musuh peradaban.

Manusia sejak lahir punya  daya kreasi, budi, daya cipta dan inovasi. Peradaban dibangun dari kemampuan manusia berpikir dan berakal.

Untuk melindungi tubuh dari dingin dan panas, manusia di Tanah Batak sejak abad ke 13 membuat alat tenun. Alat tenun ini sangat sederhana. Satu ulos ditenun bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Ulos menjadi barang yang sangat berharga dan mahal. Ulos itu menjadi simbol kehangatan, perlindungan, harapan dari orang tua pada anaknya atau paman bagi keponakannya. Hanya orang yang kedudukan terhormat yang bisa mengulosi.

Itulah sebabnya saat bayi lahir pasti diulosi. Saat orang menikah pasti diulosi. Saat meninggal dunia juga diulosi.

Lahir diulosi. Menikah diulosi. Punya anak diulosi. Meninggal dunia diulosi. Datang dan pergi diulosi. Ulos menjadi simbol budaya Batak yang penuh dengan kearifan dan keagungan.

Sialnya, orang-orang tak berakal dan bodoh yang membakar ulos ini masuk ke Indonesia. Mereka dicuci otaknya oleh aliran yang merasa paling benar sendiri. Paling suci sendiri. Paling pemilik surga sendiri.

Di luar dari mereka adalah penyembah iblis. Murid Lucifer  si Kepala Iblis.

Hama-hama peradaban ini tidak punya sedikit pun kontribusi memajukan peradaban. Mereka tahunya halal haram. Prinsipnya kalo haram dibakar. Dimusnahkan. Dihilangkan.

Padahal itu karena nalar dan akal mereka dibutakan oleh orang-orang yang tujuannya mau menghancurkan peradaban budaya adi luhung kita.

Peradaban budaya kita mau dimusnahkan oleh penjahat-penjahat peradaban ini. Mereka memakai dalil ayat2 suci yang ditafsirkan mereka sesuai nafsu mereka.

Orang-orang seperti dalam video ini jelas korban cuci otak aliran pengajaran Kristen radikal tak berakal. Dan ini jelas lawan dan musuh kita. Mereka mau memusnahkan warisan leluhur suku Batak. Dan tak ada jalan lain, kita lawan aliran2 penghancur peradaban ini.

Jangan kasih tempat sama orang-orang radikal tak berakal ini. Jika tidak, warisan luhur dari leluhur kita akan musnah. Akibatnya, keturunan kita  akan kehilangan jati diri. Kita akan kehilangan karakter sebagai sebuah bangsa.

Jika pemusnahan budaya itu berhasil, tinggal gampang saja mereka menaklukkan kita. Tinggal menunggu waktu saja kita diperbudak sama mereka. Mereka akan menjadi penentu hitam putihnya nasib kita. Sabda mereka akan menjadi arah hidup kita.

Saya berharap perempuan yang membakar ulos ini ditangkap dan dipenjarakan. Dia sudah mencoba menghancurkan warisan budaya bangsa. Mencoba memprovokasi. Agar diikuti oleh orang banyak.

LAWAN.

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto