• News

  • Opini

Kesungguhan Pembenahan Pendidikan Nasional

Prof Asep Saefuddin, Rektor Untri Jakarta (Dok. Pribadi)
Prof Asep Saefuddin, Rektor Untri Jakarta (Dok. Pribadi)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Suatu waktu saya ketemu seorang guru yang membangun SMK di Garut. Dia sempat mengeluh karena semangat anak-anak Kabupaten dimana saya dilahirkan itu lemah sekali. Di awal-awal guru itu mendirikan sekolah, murid-muridnya dicari sampai ke pelosok-pelosok desa di Garut Selatan, seperti Pameungpeuk, Cikelet, Cikajang, dan Bungbulang. Guru mendapat kesulitan ganda, karena selain anaknya yang malas, juga orang tuanya tidak mendukung. Seingat saya, dari daerah-daerah itu sempat diceritakan nenek, banyak sekali pemuda yang belajar sampai ke Bandung. Akhirnya, banyak yang jadi ‘orang’. Itu dulu.

Menurut guru tersebut, orang tua mereka meragukan manfaat sekolah. Untuk apa sekolah sampai SMA/K atau bahkan PT, menghabiskan uang, lalu anak-anak kembali ke kampung hanya begitu-begitu saja. Paling bertani, berkebun, atau menjadi kuli batu di sungai untuk sekedar hidup pas-pasan. Di dalam benak mereka, sekolah adalah upaya untuk mendongkrak kehidupan ekonomi keluarga. Mereka berharap anak-anak bekerja di kantor, jauh dari kotor-kotoran dengan tanah, serta hidup lebih dari cukup. Bila semakin tinggi sekolah ini tidak menolong ekonomi, wajar bila mereka menganggap sekolah cukup SD saja. Itulah sebabnya tenaga kerja kita didominasi oleh lulusan atau bahkan tidak lulus SD (ada sekitar 60%). 

Saya pikir anggapan orang tua tentang pendidikan ini tidak terlalu salah. Karena model itulah yang dijadikan tujuan pendidikan kita, yakni untuk mendapatkan pekerjaan. Pendidikan kita terlalu linier dihubungkan dengan dunia pekerjaan formal. Sehingga guru-guru sejak SD (bahkan TK/PAUD) diberi target untuk menuntaskan pelajaran-pelajaran yang cenderung hapalan. Mereka menjejali anak-anak dengan materi-materi “seola-olah” berguna untuk bekal masa depan anak-anak. Tidak terasa pola ini telah mengurangi proses kreatifitas anak-anak, bahkan sifat-sifat kemanusiaan yang hakiki, termasuk tolong menolong.

Pada saat Garut Kota terkena musibah banjir bandang, kami dari Universitas Trilogi berkunjung ke sekolah tempat beberapa anak yang terkena musibah. Kami saat itu melakukan program-program berusaha menghibur anak-anak SD. Dosen-dosen Prodi Guru PAUD memang ahlinya untuk upaya memberi semangat. Sehingga mereka membaur dengan anak-anak SD dari kelas satu sampai enam.

Saya berusaha mengamati apa yang mereka lakukan. Anak-anak terlihat gembira bernyanyi, menari, tebak-tebakan, dan kegiatan menarik lainnya. Mereka terlihat antusias ketika bertanya, menjawab, dan disuruh ke depan untuk bernyanyi, menari, atau berdeklamasi.  Ketika kami meminta beberapa anak untuk maju ke depan, serentak mereka angkat tangan siap disuruh. Itu semua mereka lakukan tanpa tekanan, tanpa paksaan.  Sungguh suatu hal yang membahagiakan. 

Keceriaan anak-anak itu sangat terlihat apa adanya, rileks, tanpa beban, terutama mereka yang masih duduk di kelas satu, dua, dan tiga SD. Sisanya sudah mulai terlihat malu-malu dan sedikit saling tunjuk. Berbeda dengan adik kelasnya yang spontan, lincah, sambil tertawa “renyah”.

Saya perhatikan sepertinya unsur kreatifitas, keceriaan,  keberanian, dan spontanitas itu berbanding terbalik dengan level kelas. Semakin tinggi kelas semakin berkurang keceriaan anak-anak dan tergantikan dengan wajah stress, murung, dan sayu. Hal ini terus merembet sampai ke tingkat berikutnya, yakni SMP dan SMA/K. Wajah-wajah “tulus” di level ini semakin pudar. Anak-anak sudah mulai bosan dengan dunia sekolah. Sehingga, wajar bila guru yang membangun SMK itu kesulitan untuk mendapatkan siswa. Dia terpaksa harus membebaskan uang pangkal, SPP, danb biaya pendidikan lainnya supaya tidak ada alasan enggan sekolah. 

Saya khawatir sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh para guru sehingga keceriaan anak-anak memudar sejalan dengan kenaikan kelas. Guru juga demikian, walaupun ada, tidak banyak mereka yang menjalankan tugas dengan penuh kebahagiaan. Mereka juga dibebani dengan target-target pelajaran yang harus diberikan kepada anak didiknya. Di lain pihak juga mereka harus memikirkan kehidupan ekonomi yang cukup berat. Belum lagi tekanan beberapa orang tua murid. Akhirnya guru menjadi pragmatis. Pekerjaan kelas yang paling mudah ialah menjejalkan pelajaran. Tidak ada bedanya dengan “drill” kursus-kursus, bukan pendidikan. 

Di waktu ujian nasional (UN) tiba, beban guru semakin bertambah. Mereka sangat takut bila murid-muridnya tidak lulus UN. Target Pemda untuk lulus 100% bukan membawa berkah, tetapi membuat guru semakin stress. Tidak sedikit akhirnya jalan pintas yang justru keluar dari makna pendidikan, seperti memberikan jawaban ujian, terpaksa dilakukan. Para orang tua murid pun sering berkolaborasi dalam ketidakberesan pendidikan ini. Mereka hanya mengharapkan anaknya lulus, bagaimana caranya, itu bukan masalah. Apakah ini pendidikan? Saya pikir inilah yang menyumbangkan negara kita terus-terusan terbelit dengan masalah korupsi, jual beli jabatan, pungli. Serta di kalangan sekolah juga masih sulit menyetop kekerasan dan tawuran antar sekolah. Di universitas mulai dengan radikalisme. Inilah lingkaran setan persoalan pendidikan yang tidak pernah diputus. Bahkan dirasakan semakin kompleks.

Disiplin

Tidak sedikit kita menerjemahkan kedisiplinan ini dalam arti tekanan untuk melakukan atau menjauhi sesuatu agar mencapai keberhasilan. Aspek “tekanan” menjadi utama. Murid diminta konsentrasi belajar dan menyampingkan hal lainnya. Anak-anak menjadi tidak peka lagi dengan alam. Mereka tidak sadar bahwa di kelas ada cikcak berjalan di tembok. Mereka tidak menikmati bagaimana indahnya pohon-pohon bergerak tertiup angin. Tidak merasakan hijaunya rumput dan semak-semak di halaman sekolah. Juga suara ayam di sekitar sekolah. Semua itu dikalahkan dengan kewajiban konsentrasi belajar. Akhirnya anak-anak SD yang tadinya ceria, kemudian memudar seiring dengan semakin banyaknya pelajaran yang harus ditelan. Lembaga sekolah seperti telah mencabut akar kehidupan yang mestinya dapat menjadi modal pembenahan pendidikan.

Sebenarnya ada pengertian lain dari disiplin, yakni belajar dan memahami (learning, comprehend, understanding) yang berkaitan dengan perhatian atau atensi (attention), bukan konsentrasi. Dalam konteks ini, guru yang berdisiplin adalah mereka yang memahami hakekat pendidikan serta bagaimana agar murid-murid mencintai belajar. Di sinilah pentingnya seorang guru yang punya “passion”, yakni kesungguhan dan kecintaan terhadap proses pembelajaran, bukan sekedar profesi untuk mendapatkan nafkah. 

Guru model inilah yang bisa membuat suasana belajar bukan dalam tekanan, lebih mengarahkan pada atensi daripada konsentrasi. Atensi lebih bersifat holistik menyatu dengan lingkungan sekitar. Sehingga murid-murid bisa menikmati suara cicak, gerakan daun-daun tertiup angin sambil mendiskusikan isi buku dengan teman-temannya. Lembaga sekolah harus membuat ekosistem pendidikan yang ramah, bersih, tenang, dan bersahabat dengan lingkungan. Bukan bagai penjara yang lengkap dengan jerujinya.

Suasana sekolah dan perilaku guru harus mampu membangkitkan rasa cinta anak untuk belajar. Rasa ini sebagai makhluk Tuhan tentu sudah ada secara genetik. Bila anak didik sejak dini sudah bisa dan biasa mencintai belajar maka tidak perlu lagi tekanan-tekanan berupa “reward and punishment” untuk mencapai sesuatu. Suasana dan model “delivery” lebih penting daripada materi pelajaran itu sendiri. Pemaksaan dan penjejalan materi justru akan membuat murid muak terhadap materi itu. Mereka menjadi malas dan tidak peduli. Alhasil, untuk kebiasaan membaca saja, murid-murid kita jauh di bawah negara-negara ASEAN. Apalagi bila dibandingkan dengan negara-negara maju yang anak-anak SD sudah terbiasa membaca buku setidaknya 25 buku per tahun di luar buku pelajaran. Anak-anak SD kita paling-paling satu buku per tahun. Sangat jauh. Padahal, kemampuan membaca itu sangat fital dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Tanpa itu, negara akan terus menjadi konsumen dengan teknologi impor atau “franchising” dari negara lain.

Dengan pola kecintaan terhadap belajar ini, semakin tinggi pendidikan akan semakin bergairah. Bahkan murid-murid akan mencari sendiri tambahan informasi selain yang ada di buku pelajaran. Pada level mahasiswa, bila mereka memahami pentingnya suatu teknologi, tentu mereka akan mempelajari atau bahkan membuat teknologi baru. Artinya guru (dosen) sama-sama belajar dan terus memperbaiki kemampuan keterampilan mereka. Di sinilah letak pentingnya riset dan kerjasama antara dunia usaha/industri dengan pendidikan. Bukan entitas yang sangat terpisah dan bergerak sendiri-sendiri. Lalu saling menyalahkan.

Totalitas pendidikan dari dasar (TK/PAUD, SD), menengah, sampai tinggi di negeri ini harus dibenahi secara sungguh. Bukan pembenahan sepotong-sepotong, ribut soal perlu tidaknya UN, akreditasi yang sangat administratif, dan saling lempar tanggung jawab antar pemerintah. Cobalah pikirkan bersama bagaimana nasib masa depan anak-anak kita bila pemerintah dan legislatif hanya ramai soal pembahasan anggaran dan hal-hal “trivial” yang sama sekali tidak esensial. Esensi pendidikan terabaikan. Padahal waktu terus berjalan, usia terus bertambah, tidak bisa distop karena kita masih membahas anggaran, UN, serta bagi-bagi kewenangan pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Korban langsung adalah anak-anak sekolah. Dan ujung-ujungnya kualitas SDM Indonesia. Apa mau?

Penulis adalah Rektor Universitas Trilogi/Guru Besar Statistika FMIPA IPB.

 

Penulis : Prof Asep Saefuddin
Editor : Farida Denura