• News

  • Opini

Salah Kaprah Mudiknya Orang-orang Udik

Ilustrasi: Mudik Lebaran (Kompasiana)
Ilustrasi: Mudik Lebaran (Kompasiana)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Mudik, secara harafiah menurut Umar Kayam, berarti pergi ke udik atau kembali ke udik. Dan perjalanan mudik adalah sebuah prosesi kehidupan atau sebuah perjalanan besar dan ramai dari orang-orang udik ke tempat yang paling dasar dari kehidupannya, yang disebut udik. 

Udik, menurut Umar Kayam, berarti bagian yang paling hulu dari sungai, nun jauh di dalam, di daerah pegunungan sono, tempat dusun-dusun atau desa-desa kecil para petani tinggal dan berkebun sambil memelihara ternak, kambing, sampi, ayam dan lain-lain. 

Dalam pandangan kita tentang udik, itu adalah dusun-dusun kecil yang belum tersentuh aliran listrik, dan hingar-bingarnya pembangunan yang disesaki kemajuan teknologi fisik, terutama teknologi informasi. Yang terdengar hanyalah kokok ayam bersahut-sahutan, kicauan burung di pepohonan, dan suara ternak di sana-sini serta gemercik air di sungai.

Suasana desa yang udik di pegungunan dalam bayangkan kita adalah hawa dan udara yang sejuk, jauh dari kontaminasi polusi udara ang kotor seperti di kota-kota. Rumah-rumah di dusun-dusun itu dalam bayangan kita, masih bertiangkan kayu bulat berdinding rumbia, bambu dan kayu serta beratapkan daun-daun kelapa dan ilalang. 

Dalam bayangan sosok udik seperti itulah orang-orang kota kaum urban saat ini, jika disebut atau dipanggil sebagai orang udik, pasti kurang menerimanya. Karena rasa gengsi sebagai orang kota sudah menyulut pikiran orang-orang udik di kota-kota besar seperti Jakarta. Sehingga, tidak mau lagi disebut atau dipanggil sebagai orang udik.

Tempat nenek-moyang beranak pinak

Dalam suasana udik seperti yang digambarkan itulah, tempat segala aktivitas dimulai. Tempat nenek-moyang eyang putra-eyang putri, kakek-nenek suami istri pemula beranak pinak. Anak pinaknya alias cucu-cicitnya sudah banyak yang menyebar ke mana-mana, ada yang nun jauh di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung Surabaya, dan lain-lain. 

Orang-orang udik yang di kota-kota tidak lagi bersosok orang udik dan sudah hilang identitas petaninya. Apalagi mereka pergi jauh ke kota-kota untuk mengenyam pendidikan tinggi, hingga keluar negeri lalu menetap di kota-kota besar itu. Mereka bergesekan dengan situasi kehidupan kota yang modern, dengan kehidupan birokrasi yang rumit. 

Meskipun mereka seperti dikatakan di atas, tidak mau lagi atau malu dikatakan, disebut atau dipanggil sebagai orang udik. Mereka orang-orang udik itu telah mengalami transformasi sosok. Tetapi, hati dan bathin mereka sebenarnya masih udik dan sangat udik. Sehingga, tatkala “sapaan” dan “panggilan alam udik” untuk mudik di saat Lebaran itu tiba, serta merta hati mereka tergerak dan bathin mereka bergelora ingin segera mudik alias kambali ke udik itu. 

Sapaan akan udik itu begitu kuat menerpa kalbu mereka dan menggetarkan bathin mereka, bahkan menjadi magnet yang begitu kuat membius, maka di kala mudik, mereka tidak peduli dengan kemacetan yang mengerikan dengan berbagai risiko yang tidak ringan di perjalanan menuju udik, kampung halamannya tersebut.  

Makna esensial mudik

Mudik, sebuah perjalanan panjang pulang kampung atau kembali ke udik di hari Lebaran setelah sebulan penuh mengalami pendadaran puasa yang cukup berat, kaum muslimin dan muslimat mengalami dan merasakan itu sebagai momentum indah untuk bersilaturahmi dengan orang tua, kakek-nenek, sanak keluarga di kampung halamannya yang nun jauh di udik itu. 

Oleh karena itulah, mudik di hari Lebaran itu sungguh sebuah ritus budaya yang sakral. Orang mungkin bisa saja merayakan Idul Fitri di mana pun, namun ia tidak akan menemukan dimensi simbolis yang menghadirkan makna yang paling dalam nan sacral itu ketimbang mudik ke  kampung halaman yang sekedar jalan pulang itu sendiri. 

Di situlah prosesi mudik memiliki makna dan simbolisnya yang paling esensial dan sangat intim, yaitu kembali ke sumber kehidupan awal sebagai makhluk yang terus berziarah dalam kehidupan ini. Dan di udik, tempat yang belum terlalu terkontaminasi oleh hiruk-pikuk kemodernan seperti di kota-kota itulah para pemudik menimba kembali spirit kekuatan bathin mereka. Spirit kekuatan bathin itulah yang kemudian dijadikan modal untuk kembali mengarungi kehidupan di kota yang sangat keras dengan aneka persaingan yang berat di semua dimensi kehidupan.

Karena harus jujur dikatakan bahwa dari sisi “sosialisasi” hakikatnya kaum urbanis memiliki kerapuhan spirit, lantaran ikatan-ikatan interaksi timbal balik yang tercipta di antara para urbanis hakikatnya hanya sementara. Karena kaum urbanis dalam berelasi sehari-hari lebih berkaitan dengan relasi profsionalisme kerja, bukan atas dasar spirit-spirit kemanusiaan nan humanistik.

Seperti dikatakan Doyle Paul Johson, bahwa orang yang bekerja di kota tidak memiliki perekat bathin yang sama dan kuat, karena kebersamaan yang ada pada orang-orang urban di kota didasari oleh kepentingan material yang sama dan berlangsung secara pragmatis. 

Sehingga, dikatakan kalau orang-orang urban di kota, itu selalu mengalami krisis sosiabilitas, yang oleh Erich Fromm disebut sebagai akibat dari kekeringan humanistik. Maka mudik sebagai cambukan untuk meraih kunci menuju psikoanalisis humanistik yang salah satunya dengan menghidupkan kembali “kultur keberakaran” yang dalam Islam disebut silaturahmi.

Salah kaprah mudik

Sayang bahwa momentum mudik pada hari Lembaran kurang dimaknai secara positif oleh mungkin sebagian besar dari para pemudik sebagai momentum untuk merajut nilai-nilai spiritual di balik aksi silaturahmi, juga ada nilai ekonomi yang direngkuh. Misalnya, pada saat mudik, terjadi aliran dana atau uang dari kota ke desa-desa. Sehingga, kehadiran pemudik memberi berkah bagi orang-orang desa. 

Namun, yang menjadi masalah tatkala para pemudik itu hanya menjadikan mudik itu sebagai momentum untuk pamer keberhasilan di kota. Mudik sebagai hajatan untuk menjual citra sukses dan pamer gengsi. Handphone baru, motor baru, mobil baru, dan lain-lain adalah contoh bagi para pemudik yang menjadikan peristiwa mudik sebagai momentum hunjuk kehebatan bekerja di kota.

Jika itu yang terjadi, maka bukan saja merusak citra mudik, tetapi mudik menjadi salah kaprah, yang disalahgunakan untuk hal-hal yang dangkal manfaatnya, alias sekedar artifisial belaka. Sehingga, yang terjadi pasca mudik adalah penemuan kembali kekosongan spiritual dan kekeringan gairah hidup, yang membuatnya mudah rapuh secara mental dan gampang stress dan sakit hati.

Semoga tidak!

Penulis adalah seorang esais  

 

 

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Farida Denura