• News

  • Opini

Jakarta, Segenggam Gula-gula, Seribu Janji, Sejuta Mimpi

Suasana kota Jakarta (Istimewa)
Suasana kota Jakarta (Istimewa)

JAKARTA,NETRALNEWS.COM - Pascamudik Lebaran ini, sudah bisa dipastikan, pendatang baru terus bertambah. Dan setiap kali mudik Lebaran, para pemilik Jakarta pun berkampanye ria mencegah pendatang baru agar jangan lagi datang ke Jakarta. Jakarta sudah sangat padat, lagi pula mencari hidup di Jakarta, sulitnya bukan main, jauh dari impian. 

Namun, apakah orang-orang desa mendengar imbauan itu? Yang pasti, dan jelas tidak. Banyak pemudik yang kembali lagi ke Jakarta membawa serta gendongannya, entah saudaranya, temannya, atau kenalannya. Para warga desa yang terbius oleh mulut manisnya para pemudik, tak pikir panjang, langsung ikut ke Jakarta

Dan entah apa yang dibayangkannya tentang Jakarta oleh para pendatang baru itu misalnya, pedidikan para pendatang baru itu sangat minim, dan pengalaman kerja di kota-kota besar masih nol besar. Tetapi, itulah para pendatang baru ke Jakarta itu tetap memiliki harapan yang berbunga-bunga dan impian yang selangit untuk bisa menanklukan Jakarta.

Gula-gula, seribu janji dan sejuta mimpi

Seperti sudah saya singgung dalam beberapa tulisan sebelumnya, bahwa Jakarta selalu penuh dengan misteri dengan wajah yang paradoks, antara menyediakan segala bentuk kemewahan hidup dus kemudahan hidup dengan segala kelembutan, tetapi sekaligus menyimpan kekerasan, keganasan, misteri dan kegaiban. 

Gedung pencakar langit yang menjulang, pilar neon kerlap-kerlip yang memesona, hiburan dan kemasan artistik yang dipajang di berbagai etalase ibu kota, hiburan para artis seperti di layar kaca, hiruk pikuk dan kemacetan lalulintas yang “istimewa” adalah magnet yang jelas-jelas membius. 

Dengan semua daya tarik yang membius itu, lalu ibu kota juga ibarat gula-gula dengan semut atau madu dengan kumbangnya. Maka, di situ, Jakarta menyimpan mimpi dan memuncratkan sejumlah janji manis yang tak terlukiskan, dan hampir mustahil untuk diejewantahkan. Ia membius dan memikat, tetapi sekaligus membelenggu dan mencengkram. 

Bukankah Jakarta yang begitu menarik dan memikat itu menyimpan kengerian dan kebengisan yang membuat banyak penghuninya stres dan menjerit siang malam? 

Maka terciptalah di Jakarta ini, suatu ciri kehidupan metropolis yang anonimitas-suatu ciri kehidupan yang dilukiskan oleh kaum eksistensialis, sebagai masyarakat modern yang menunjukkan hilangnya identitas diri dan kemanusiaan warga urban yang mengalami transformasi sosok.

Kata seorang arsitek kenamaan asal Prancis, Le Corbuser, bahwa kota itu awalnya adalah terbentuk oleh hasil pembantaian terhadap alam (an assault on nature). Dan kini seolah-olah dari dalam kota, alam yagn sudah dibantai itu kembali menggeliat dengan dendam kesumat kembali menerjang dan melumat kepongahan dan kesombongan manusia.

Para penghuni Jakarta, dapat terbebaskan dari segala macam kesulitan ekonomi pasca kesuksesannya, tetapi tetapi sekaligus menjerit di tengah kesulitan-kesulitan ekonomi yang mencekiknya. Ia merasa senang karena terbebaskan dari berbagai kesulitan duniawi, tetapi sebenarnya sangat terhimpit  psikologis dan mentalnya. 

Jakarta memang ibarat segenggam gula-gula yang mengundang banyak semut atau madu bagi banyak kumbang, dan seribu janji serta sejuta mimpi, tetapi ia juga memiliki kekuatan-kekuatan tersembunyi yang dapat menghidupi, sekaligus menghancurkan kaum urban yang seolah telah meninggalkan kultur suku, adat, desa, tradisi dan lain sebagainya. 

Lalu, apa yang salah?

Tidak ada cara lain selain perlu membangun kota yang benar-benar humanis, yang berwajah manusia, bukan berwajah serigala yang ganas yang setiap saat siap menerkam para penghuninya. Jangan membangun kota yang hanya mengutamakan fisik gedungnya, yang menggiring manusia dalam kehancuran psikenya, yang akhirnya menghancurkan manusia dalam duka laranya.

Karena kehebatan kota bukan terletak pada gedung-gedung pencakar langit yang megah, perkantoran-perkantoran yang mewah dengan tembok-tembok yang kokoh-kuat, tetapi pada keberanian penghuninya. Karena seperti kata sastrawan dan dramawan kenamaan kelas dunia, Shakesperare, bahwa manusia adalah kota itu sendiri. Ia menulis, What is a city but it’s people. 

Maka, yang terpenting bagi sebuah perencanaan kota adalah bukan dengan terus-meneru menambah gedung tinggi dan menjulang ke langit biru, tetapi bagaimana menangkap relasi-relasi ruang yang hakiki yang telah menghidupkan warga urban dan menjadikannya semakin manusiawi yang bersahaja. 

Jadi, pembaruan kota yang tetap berorientasi pada memanusiakan manusia kota. Jika tidak, pembaruan kota hanya menggiring manusia urban kembali ke hutan belantara, ke mental primitif yang oleh filsuf kelas dunia Martin Heidegger, dikatakan sebagai suatu pembaruan yang menjurus kepada culture malaise, yang mengakibatkan xenophobia, psikosis, kebencian, panik, bahkan teror bagi para warganya.

Penulis, seorang esais 

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Thomas Koten