• News

  • Opini

Sakit Jiwa Sosial dan Pendidikan Moral

Iustrasi: Penyakit sosial  masyarakat yang terjadi di sekitar kita.
Istimewa
Iustrasi: Penyakit sosial masyarakat yang terjadi di sekitar kita.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Indonesia hari ini adalah Indonesia yang masih digeranyangi aneka penyakit sosial, atau dalam tulisan ini disebut sebagai sakit jiwa sosial atau patologi sosial. Korupsi,kolusi, nepotisme, politik uang, perselingkuhan ekonomi dan politik, saling menjelekkan satu sama  lain, dan lain-lain yang terus membuncah di etalase ruang publik, adalah sejumlah contoh yang paling telanjang dari sakit jiwa sosial atau patologi sosial itu.

Dan sakit jiwa sosial tersebut, tentu disebabkan oleh berbagai macam faktor, seperti  disfungsinya agama bagi kehidupan sosial, terabainya implementasi nilai-niai etika dan moral dalam kehidupan masyarakat, juga faktor sistemik di bidang politik kekuasaan baik di tingkat eksekutif, maupun di tingkat elite sosial masyarakat negara yang suka atau tidak suka terus mengintervensi di berbagai kehidupan sosial masyarakat.

Di antara sejumlah faktor yang memuncratkan sakit jiwa sosial itu, memang oleh para ahli atau para peletak dasar ilmu sosial, seperti Max Weber, Erich Fromm, dan Peter L Berger, dikatakan bahwa agama merupakan aspek yang sangat penting untuk mencegah terus lahirnya sakit jiwa sosial. 

Kenapa? Karena agama memberikan landasan moral bagi kehidupan manusia di berbagai aspek. Tetapi, perlu dicatat bahwa hidup penuh moral juga dijalankan oleh mereka yang mengakui sebagai ateis. Banyak anak muda yang mengatakan diri sebagai ateis, seperti di berbagai negara lain, begitu antusias juga dalam melakukan aksi-aksi sosial yang menakjubkan. 

Jadi, yang paling penting adalah bagaimana mengeliminasi sakit jiwa sosial itu, bukan hanya dengan jalan pembenahan dalam kehidupan agama, tetapi juga pembenahan dalam tata kehidupan moral. Penataan kehidupan masyarakat yang penuh morallah yang semestinya menjadi perhatian yang teramat penting. 

Intinya masalah moral

Menghadapi fenomena patologi sosial atau sakit jiwa sosial yang parah dimana semua orang semakin berani berbuat jahat alias kurang bermoral tersebut, membuat seruan-seruan moral tidak berdaya memperbaiki keadan. Minimal, hal itu dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, seruan-seruan dan atau imbauan tersebut bukan mustahil akan memengaruhi perilaku individu dan masyarakat. 

Itu pun harus diikuti dengan pemberian sanksi-sanksi hukum positif yang sungguh-sungguh adil, mendidik dan menjerakan perilaku tindak kejahatan. Di sini pula menjadi tantangan hukum.

Masalahnya, di mana letak daya himbauan moral dalam menghadapi masalah-masalah sosial bangsa ini? Itu terletak pada prinsip dan nilai-nilai moral  yang merupakan sesuatu yang memang diakui secara publik bangsa. Oleh, Immanuel Kant, dikatakan hukum moral merupakan  suatu hukum kewajiban dan hukum batas moral. “Duty and obligation are the only names ‘for’ our relation to the mora law.

Sebenarnya, manusia, terutama kaum terdidik menyadari dan mengetahui kewajiban itu. Tetapi, karena kelemahan mental, dan kekerdilan hati nurani dan upaya merasionalisasikan segala keadaan sosial masyarakat membuat kewajiban moral terus terabaikan dan kurang mendapat perhatian yang serius. 

Oleh Alasdair MacIntyre, dikatakan masyarakat kita masih kurang memiliki rational consensus terhadap masalah-masalah moral yang sedang terjadi. 

Tidak sedikit kaum terdidik yang menggunakan rasionya untuk melakukan tindakan-tindakan yang hakikat dasarnya melabrak nilai-nilai dan norma-norma dan hukum moral. Karena para terdidik memiliki kesanggupan untuk merasionalisasikan segala persoalan untuk membela dan mengamankan diri dari tudingan yang negatip terhadap dirinya.

Pengaguman rasionalitas melemahkan kadar moralitas dalam diri. Kadar moralitas dalam diri seseorang, betapa pun akan menentukan pola dan kandungan tindakan seseorang dalam penegakan nilai keadilan, kebenaran, dan norma-norma kebaikan dalam masyarakat. Rendahnya kadar moral akan membuat seseorang kehilangan kejelian dalam mempertimbangkan masalah-masalah nilai kebaikan.

Masalahnya, jika masyarakat bangsa ini sudah banyak yang memiliki kadar moral rendah, maka keluhuran dan kemulian bangsa menjadi terabaikan, dan dapat hancur. Padahal, keluhuran bangsa adalah landasan bagi kemuliaan, keluhuran dan keagungan polilik, ekonomi dan sosial bangsa.

Pendidikan moral

Dengan terus membuncahnya sakit jiwa sosial bangsa, maka pendidikan moral bangsa menjadi begitu penting. Pendidikan moral harus berbarengan dengan pendidikan agama dan budi pekerti. Adalah pendidikan nilai yang harus dilaksanakan dengan target pada perbaikan tingkah laku. 

Dalam pendidikan moral ini, sangat diperlukan dalam situasi yang oleh Anthony Giddens disebut sebagai pendidikan nilai yang terjadi dalam struktur sosial tertentu yang dimaksudkan sebagai proses “memaksakan” nilai dan norma sosial selaku pedoman perilaku individu atau yang “menjamin” terimplementasinya pengetahuan moral ke dalam praktek hidup moral.

Di sini dibutuhkan bukan hanya guru-guru di sekolah, tetapi juga orang tua, teman,dan anggota masyarakat, bahkan juga para penegak hukum, ikut berperan sebagai otoritas pengarah pada nilai-nilai moral yang harus ditaati.

Pendidikan moral juga harus diarahkan untuk kepekaan hati nurani para terdidik. Karena hati nurani adalah kompas kebenaran yang akan membawa setiap orang berada di jalan Tuhan. Orang yang mengingkari hati nurani, ia akan te rus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai moral. 

Maka, dengan pendidikan yang mengarah pada kepekaan hati nurani seseorang biar bagaimanapun akan berperilaku baik. 

Betapa indahnya jika semua anak didik sekarang mendapatkan pendidikan moral yang sangat baik, sehingga sekitar sepuluh tahun ke depan, akan lahir masyarakat Indonesia yang telah baik secara moral. Efeknya, dapat terbentuklah masyarakat bermoral, dan sakit jiwa sosial bangsa tidak terjadi lagi. Amiiiinnn

Penulis adalah seorang esais.

 

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Farida Denura