• News

  • Opini

Meniru Pasukan Semut dalam Membangun Bangsa

Prof Dr Haryono Suyono
Istimewa
Prof Dr Haryono Suyono

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI 72,  tahun ini,  perlu kita gali sebanyak mungkin gagasan untuk memajukan rakyat banyak. Rakyat Indonesia di desa yang keadaan ekonominya masih terbelakang, apabila terlebih dulu secara sungguh-sungguh diajak bersatu, hidup gotong royong layaknya pasukan semut, yang hidup dalam koloni yang teratur rapi, bekerja sama menyingkirkan kepentingan pribadi, barangkali bisa bertambah maju. 

Kelompok masyarakat agar bisa memiliki sifat dan budaya itu,  pertama-tama harus belajar agar dalam melaksanakan pola hidup didasarkan pada falsafah Pancasila, harus belajar menempatkan kepentingan bersama sebagai prioritas utama dan melaksanakan prioritas pilihan itu dengan ikhlas.

Bagi semut, kepentingan pribadi sebagai bagian dari sikap dan tingkah laku, rupanya berhasil dikalahkan sebagai upaya menghadapi pilihan hidup bermasyarakat, utamanya dalam membagi rezeki yang menyangkut kepentingan banyak semut.

Jaringan koloni semut yang bersatu, bersama dan saling mendahulukan kepentingan banyak semut, dalam koloni semut menjadi pilihan dibandingkan kepentingan pribadi. Setiap unsur dalam koloni semut, mulai pasukan semut yang rajin bekerja keras mencari sumber pangan dan keperluan seluruh pasukannya, termasuk kepentingan sang ratu, harus bersatu dan bekerja cerdas dan keras sesuai tugas masing-masing. 

Nun kita lihat, prajurit semut begitu mendapatkan sumber makanan akan segera mengerahkan pasukan untuk mengamankan sumber makanan itu, tidak langsung makan makanan yang tersedia beramai-ramai di tempat diketemukannya tumpukan makanan. Disiplin mengundang pasukannya untuk membawa makanan itu ke markasnya menjadi bagian dari budaya yang menjamin kesejahteraan seluruh koloni yang dipelihara bersama.

Makanan yang dibawa oleh pasukan prajurit itu ditumpuk dan disimpan dengan aman untuk persediaan makan bagi pasukannya dan seluruh warga koloni serta elite yang mendapatkan jatah sesuai bagian yang diatur bersama. Biarpun sesosok semut menemukan sumber pangannya tanpa diketahui oleh semut lainnya, tidak berarti bahwa dia berhak langsung makan penemuan itu.

Semut itu tidak akan mendapat jatah lebih banyak dari anggota lainnya, tetapi dia akan memperoleh jatah sesuai dengan jatah yang diberikan kepada anggota lain biarpun bukan penemu sumber pangan yang dibawa bersama secara beranting ke markas besarnya. 

Itu sebabnya tidak ada rasa kepingin makan lebih dulu karena pada waktunya setiap semut pasti mendapat bagian sesuai dengan keadilan yang diatur bersama pasukannya.

Rasa dan tingkah laku keadilan seperti itu sangat membudaya,  sehingga tidak ada satu semut yang berani mengingkari aturan budaya itu atau melanggar aturan yang barangkali tidak tertulis seperti di dalam masyarakat manusia. Tetapi aturan tidak tertulis itu dipatuhi lebih baik dari ratusan halaman yang kita perdebatkan dalam pertemuan yang sering tidak mencapai mufakat.

Kalau kita melihat pasukan semut yang beriringan membawa makanan hasil kerja sama, sungguh merupakan pemandangan yang sangat mengasyikkan.

Hampir pasti setiap semut yang bertemu dengan rekannya selalu memberikan salam. Seekor semut dapat mengadakan reaksi yang sangat cepat karena pada kepala semut terdapat banyak organ sensor. Seperti halnya serangga lainnya, semut memiliki mata majemuk yang terdiri dari kumpulan lensa mata yang lebih kecil dan tergabung untuk mendeteksi gerakan dengan sangat baik. 

Semut memiliki tiga oselus (bintik mata) di bagian puncak kepalanya untuk mendeteksi perubahan cahaya dan polarisasi. Semut umumnya memiliki penglihatan yang buruk, bahkan beberapa jenis dari mereka buta. 

Namun, beberapa spesies semut, seperti semut bulldog Australia, memiliki penglihatan yang baik. Pada kepalanya terdapat sepasang antena yang membantu semut mendeteksi rangsangan kimiawi. Antena semut digunakan berkomunikasi satu sama lain dan mendeteksi feromon yang dikeluarkan oleh semut lain.

Pada setiap kali bertemu semut berhenti sejenak dan sesama semut saling menebar rasa syukur bahwa koloni mereka hari itu mendapat tambahan persediaan makanan yang menjamin kehidupan anak cucu dengan lebih meyakinkan. 

Salam dan sapaan sesama semut biasanya tidak berlangsung lama, setiap semut segera memberi jalan kepada rekannya yang sarat dengan makanan untuk melanjutkan perjalanan membawa hasil jerih payah bersama. Tidak pernah terjadi perebutan makanan yang dibawa oleh seekor semut dengan temannya yang menandakan seakan akan seekor semut ingin menjadi pahlawan dan mencegat temannya di tengah jalan, membawa hasil jerih payah ke markas besarnya dan mengaku sebagai pahlawan.

Kelihatan jelas tidak ada penodong yang ingin hidup sebagai pahlawan dengan menginjak kesengsaraan kawan seperjuangan seperti yang sering terjadi dalam dunia manusia yang mestinya jauh lebih beradab. Jaringan yang tidak putus seperti ditunjukkan oleh semut biasanya akan berhenti bekerja apabila tugas mengangkut penemuan makanan selesai. 

Sehingga jelas sekali adanya efisiensi dan aba-aba bagi sesama semut agar tidak membuang waktu. Segera pekerjaan selesai, tugas baru mencari sumber makanan menjadi tugas setiap anggota pasukan semut. Mereka dengan gigih menggunakan segala kepandaiannya, alat-alat deteksinya yang canggih, mencari sumber makanan baru. Dengan gesit segera memberi tahukan kepada rekannya apabila ada penemuan baru. 

Seluruh jajaran dengan cepat mengerahkan seluruh pasukan untuk berbondong dan gotong royong mengamankan penemuan itu agar tidak hilang di ambil pihak lain yang bukan rekan penemunya, suatu kerja gesit untuk bertahan bersama.

Pada posisi mencari sumber makanan baru itu, pasukan semut tidak beriringan seperti halnya sewaktu membawa hasil makanan ke markas besarnya. Pasukan itu menyebar seakan memperluas jaringan begitu rupa agar cakupan untuk mencari sumber sangat luas.

Itu seperti halnya kalau kita sedang mulai menjajakan dagangan, tidak bergerombol, tetapi mencari peluang agar dapat diperoleh makanan yang akan menjadi persediaan di markas besarnya. Hasil perluasan jangkauan, apabila positif, dengan gesit akan segera dikomunikasikan kepada seluruh pasukan untuk ditindak lanjuti.

Suatu kerja sama gotong royong yang dinamis. Uraian tentang Semut itu menarik kita simak karena Semut, seperti juga manusia, sebagian besar dikenal sebagai serangga atau makluk sosial dengan koloni dan sarang yang teratur dan anggota dalam setiap koloni bisa berjumlah ribuan. Semut memiliki lebih dari 12.000 jenis (spesies), sebagian besar hidup di kawasan tropika. 

Yang perlu dicontoh adalah bahwa masyarakat koloni semut dengan anggota yang besar itu terbagi menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut. Ada kalanya terdapat kelompok semut penjaga. Seperti halnya wilayah kekuasaan kerajaan atau “negara”, koloni bisa menguasai wilayah yang luas guna menjamin kehidupan koloni yang aman dan tenteram.

Berbeda dengan gajah yang hanya mampu menopang bawaan sekitar dua kali berat badannya, semut yang jauh lebih kecil mampu membawa beban lebih dari lima puluh kali berat badanya. Semut dapat dikalahkan oleh kumbang badak atau oleh manusia yang mampu menopang beban dengan berat 850 kali berat badannya sendiri. 

Dalam pengamalan Pancasila, barangkali bisa juga kita belajar dari koloni Semut yang damai, hidup gotong royong dan siap bekerja cerdas dan keras.

Penulis adalah Mantan Menko Kesra dan Taskin RI.

 

Penulis : Prof Dr Haryono Suyono
Editor : Farida Denura