• News

  • Otomotif

Roland Berger: Industri Otomotif Sedang Hadapi Transformasi Radikal

Pabrik manunfaktur baru Mitsubishi di Cikarang (Netralnews/Firman Qusnulyakin)
Pabrik manunfaktur baru Mitsubishi di Cikarang (Netralnews/Firman Qusnulyakin)

SINGAPURA, NETRALNEWS.COM - Roland Berger merilis Automotive Disruption Radar pertamanya, yang mengindikasikan industri otomotif sedang menghadapi transformasi radikal. 

Digitalisasi sudah memfasilitasi ketersediaan layanan mobilitas seperti mobil dan ride sharing dan membuka saluran penjualan baru.

Pada saat yang sama, kendaraan listrik memiliki daya tarik yang lebih besar di pasar. Dan tidak ada yang dapat menghentikan majunya kemudi otomatis.

Studi perdana – yang mengumpulkan tanggapan dari 10.000 responden di seluruh dunia dan lebih dari 1.000 responden di Singapura - menemukan bahwa ada ketertarikan (51%) pada taksi kemudi otomatis untuk menggantikan mobil yang dimiliki. 

Didapatkan bahwa warga Singapura masih ragu-ragu untuk membeli kendaraan melalui internet (hanya 11% tertarik). Lebih dari separuh responden (57%) mengatakan mereka tidak akan membeli kendaraan listrik, mengutip kurangnya infrastruktur pengisian sebagai alasan utama untuk beralih. 

Secara keseluruhan, Singapura berada di peringkat kedua dalam aktivitas gangguan otomotif, hanya dikalahkan oleh Belanda, yang memiliki kombinasi unggul: penjualan kendaraan elektronik yang relatif tinggi, infrastruktur pengisian EV yang sangat bagus dan ketertarikan yang kuat pada kemudi otomatis.

Tidak mengherankan, dari sepuluh negara yang diteliti, responden Singapura paling tidak tertarik untuk memiliki mobil karena pilihan konsep mobilitas yang tersedia, dengan 84% mengatakan mereka tidak memiliki atau tidak ingin memiliki. Hal ini kontras dengan negara maju lainnya. 

Mobil dan ride sharing model sejalan dengan respon yang kurang positif di negara-negara ekonomi maju lainnya seperti Inggris (37%), Perancis (34%) dan Jepang (29%). Amerika Serikat ada di peringkat terakhir di 22%.

"Sikap konsumen telah berubah, terutama dipengaruhi oleh kecenderungan ekonomi berbagi," kata Keisuke Yamabe, Senior Partner, Roland Berger, Selasa (24/6/2017). 

"Oleh karena itu, model bisnis baru sedang mengambil momentum. Jika taksi kemudi otomatis jadi diluncurkan sebagai alternatif yang hemat biaya untuk memiliki mobil, tren ini akan mengakselerasi secara signifikan di tahun-tahun mendatang. Karena Singapura adalah pelopor regional, itu pasti bisa memiliki daya tarik di seluruh wilayah."

Dirancang untuk membantu pelaku industri otomotif membuat keputusan investasi, Automotive Disruption Radar adalah publikasi yang merupakan konsultasi reguler untuk memeriksa kemajuan dan dampak dari tren pengganggu seperti konsep-konsep baru mobilitas, kemudi otomatis, interkonektivitas dan layanan digital juga elektrifikasi. 

Analisis ini menangkap status quo dan kemajuan perkembangan di lima area yang sangat relevan: regulasi, teknologi, infrastruktur, kegiatan industri dan minat pelanggan. 

Para ahli dari Roland Berger mempertimbangkan perkembangan di 25 indeks untuk menghasilkan analisis rinci dari kategori ini. Radar ini menggabungkan pandangan lebih dari 10.000 konsumen di 10 negara: Cina, Perancis, Jerman, India Jepang, Belanda, Singapura, Korea Selatan, Inggris dan Amerika Serikat.

"Industri otomotif menghadapi berbagai tren pengganggu yang semuanya perlu untuk dikelolola secara sekaligus dan transformasi radikal ini akan memiliki konsekuensi yang signifikan di seluruh sektor," kata Martin Tonko, President Direktur, Roland Berger

"Value chain lengkap akan hilang, model bisnis baru akan muncul – OEM dan pemasok yang ada harus menghadapi peta persaingan yang berubah."

Lonjakan investasi AI, kekurangan infrastruktur

Secara global, pada tahun 2016, sebanyak USD9,3 miliar, investasi modal ventura dilakukan pada layanan mobilitas. Masing-masing sepuluh investasi teratas menyumbang lebih dari USD7,5 miliar, dipimpin oleh Didi (USD4,5 miliar), Lyft (USD1,0 miliar) dan Grab (USD0,75 miliar). 

Meskipun ini meupakan penurunan tahun-ke-tahun sebesar ~ 9% dibandingkan dengan USD10,2 pada tahun 2015, investasi modal ventura meningkat pada artificial intelligence atau AI. Pada tahun 2015, investasi hanya sebesar USD0,7 miliar, namun meningkat menjadi USD 1,6 miliar di tahun lalu, meningkat 139% dari tahun ke tahun.

Sementara Singapura memimpin di beberapa bidang kemudi otomatis – seperti infrastruktur 5G dan taksi kemudi otomatis – ada bidang yang jelas di mana Singapura kekurangan, seperti fungsionalitas dan interaksi kendaraan-ke-kendaraan, serta autonomous test roads. Untuk yang terakhir, Korea memimpin dan telah mendefinisikan semua jalan sebagai jalan uji potensial, kecuali zona sekolah dan penyandang cacat.

 

Editor : Firman Qusnulyakin