• News

  • Pendidikan

KPAI: Siswa yang Sayat Tangan di Pekanbaru Perlu Rehabilitasi

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti
NNC/Martina Rosa
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti

JAKARTA, NNC - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai harus ada langkah konkrit untuk melakukan rehabilitasi psikologis dan rehabilitasi kesehatanterhadap 56 siswa yang sayat tangan di Pekanbaru. Selain itu harus ada sosialisasi untuk mencegah dan memastikan bahwa siswa lainnya untuk tidak akan melakukan tindakan sayat tangan ketika sedang menghadapi masalah.

Seperti diketahui, viral berita 56 siswa SMP di Riau yang nekat menyayat tangannya seusai mengkonsumsi minuman kemasan merek Torpedo  telah membuat heboh, karena mengejutkan kita semua. Minuman seharga Rp 1000 itu disebut mengandung zat benzo, semacam zat anastesi (bius) yang biasa digunakan kedokteran. Berita yang dimuat media online itu menyebar dengan cepat melalui media sosial.

"KPAI akan bersurat kepada pemerintah kota Pekanbaru untuk mendorong Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan bersinergi melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah lainnya. Ini sebagai upaya mencegah anak lain di berbagai sekolah meniru adegan yang membahayakan di video tersebut dengan menyayat tangan," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti, Rabu (3/10/2018).

KPAI juga akan bersurat kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) untuk memblokir video-video sejenis yang mengandung adegan berbahaya bagi anak-anak yang menyaksikannya. Apalagi 70 persen perilaku anak adalah meniru apa yang dia lihat di lingkungannya dan di media sosialnya.

Pada kesempatan yang berbeda, Kepala Sekolah SMP Negeri 18, Pekanbaru Lily Deswita membenarkan bahwa beberapa siswa kedapatan menyayat tangannya. Namun mengenai penyebab mereka menyayat tangannya, Lily membantah karena dipicu minuman merek Torpedo. Menurut Lily, para siswa itu ketahuan menyayat tangannya karena mengikuti video viral tentang penyayatan tangan untuk melampiaskan sakit hati atas masalah yang dialaminya.

Kebanyakan siswa mengaku menggores tangan dengan benda tajam hanya karena mengikuti video viral yang dibagikan lewat aplikasi pertemanan WhatsApp dan Instagram. Tujuannya melampiaskan kekesalan dan kemarahan atas masalah yang mereka alami, dengan demikian mereka mengaku merasa tenang. Karakter anak yang dinilai masih labil dan mudah meniru disebut menjadi alasan mereka menirukan video yang dilihat di media sosial saat punya masalah.

"Fakta bahwa 56 siswa  melakukan  sayat tangan dan mempercayai hal itu tidak akan menimbulkan rasa sakit sebagaimana isi video yang disaksikannya bahkan dapat melampiaskan kemarahan yang dirasakannya. Maka fakta ini perlu ditindaklanjuti oleh instansi terkait, seperti : Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas PPPA dan P2TP2A Kota Pekan Baru," jelas Retno.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Wulandari Saptono

Apa Reaksi Anda?