• News

  • Pendidikan

Buku Ajar Kelas V SD Sebut NU Organisasi Radikal, Ini Tanggapan PBNU

Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini
NU online
Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini

JAKARTA, NNC - Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA Helmy Faishal Zaini angkat bicara terkait adanya penerbitan buku panduan belajar untuk Kelas V Sekolah Dasar (SD), yang membuat sejarah kemerdekaan dan menyebut Organisasi Kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) disebut sebagai salah satu organisasi radikal.

Meskipun frasa ‘organisasi radikal’ yang dimaksud adalah organisasi radikal yang bersikap keras menentang penjajahan Belanda. Kata Helmy, dalam konteks ini, PBNU sangat menyayangkan diksi 'organisasi radikal' yang digunakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam buku tersebut.

"Istilah tersebut bisa menimbulkan kesalahpahaman oleh peserta didik di sekolah terhadap Nahdlatul Ulama," kata Helmy, seperti dalam keterangan tertulis yang NNC terima, Kamis (7/2/2019).

Menurut Helmy, organisasi radikal belakangan identik dengan organisasi yang melawan dan merongrong pemerintah, melakukan tindakan-tindakan radikal, menyebarkan teror dan lain sebainya. Pemahaman tersebut dinilai akan berbahaya, terutama jika diajarkan kepada siswa-siswi.

Dalan buku tersebut, Helmy nilai Kemendikbud kurang jeli dan tidak pas dalam membuat fase Pergerakan Nasional dalam memperjuangkan kemerdekaan. Penulis buku menyebut bahwa setelah mengalami fase pergerakan nasional pada tahun 1900an, kemudian dilanjutkan dengan fase masa awal radikal  yang terjadi pada tahun 1920-1926.

"Istilah masa awal radikal ini yang keliru dan tidak tepat. Jika ingin menggambarkan perjuangan kala itu, yang lebih tepat frasa yang digunakan adalah masa patriotisme, yakni masa-masa menetang dan melawan penjajah," jelas Helmy.

Menanggapi hal tersebut, PBNU meminta kepada Kemendikbud untuk bertanggungjawab atas persoalan ini.  Pasalnya, potensi mudarat yang ditimbulkan sangat besar sehingga harus diambil langkah cepat untuk menyikapinya.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Wulandari Saptono