• News

  • Pendidikan

Rencana Menko PMK untuk Impor Guru, FSGI: Berbahaya Bagi Guru di Tanah Air

Wasekjen FSGI Satriwan Salim
Harian SIB
Wasekjen FSGI Satriwan Salim

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) angkat bicara terkait rencana Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani untuk impor guru ke Indonesia.

Kata Wasekjen FSGI Satriwan Salim, jika alasan impor guru adalah nilai Uji Kompetensi Guru (UKG) secara nasional yang masih rendah, di sekitar angka 67,00 (dari skala 100) pada 2017, Kemenko PMK, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag) sudah kewajibannya untuk memberdayakan dan melatih guru-guru yang ada di dalam negeri.

"Sejatinya kita tidak kekurangan jumlah guru secara nasional. Bahkan menurut data, kita sudah over supply guru," kata Satriwan, Jumat (10/5/2019).

Disebutkan Satriwan, dari sekitar 3,2 juta guru di berbagai tingkatan yang mengajar saat ini, sudah seharusnya pemerintah, termasuk Pemda, memberikan pelatihan yang bermutu dan memberikan pemberdayaan bagi guru-guru, bukan dengan berencana mengimpor guru asing.

"Jika impor guru ini benar-benar terjadi, ini akan berbahaya bagi kesempatan dan kelangsungan guru-guru di tanah air untuk mengajar dan mengembangkan dirinya," tegas Satriwan.

Menurut Satriwan, impor guru menciptakan nuansa kompetisinya tidak akan baik, sehat, dan berkeadilan. Sehingga tidak semestinya guru di tanah air menjadi tamu di rumahnya sendiri, karena perannya nanti akan digantikan guru impor.

FSGI menilai jika impor guru ini benar-benar terjadi, kebijakan tersebut merupakan bentuk keputusasaan pemerintah dalam melatih dan memberdayakan guru.

"Sepertinya pemerintah tidak percaya terhadap guru di tanah air, faktanya banyak juga yang profesional dan berkualitas. Padahal baru beberapa bulan lalu di 2019 ini, Kemendikbud mengirim ribuan guru ke luar negeri, untuk belajar dan kuliah singkat," kata Satriwan.

Kata Satriwan, belajar kepada guru-guru di luar negeri, untuk meningkatkan kompetensi pedagogisnya. Semestinya guru-guru Indonesia yang baru pulang belajar dari luar negeri inilah yang melatih guru dan mentransfer ilmunya kepada guru-guru di dalam negeri, bukan malah berniat mengimpor guru.

"Demikian catatan penting ini kami sampaikan, agar Kemenko PMK tidak gegabah dan tanpa pertimbangan yang matang dan bijak, sehingga merugikan para guru di tanah air," tegas Satriwan.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli