• News

  • Pendidikan

Dipasukha Edbert, Siswa SMAK PENABUR Peraih Nilai Sempurna di UN 2019

Dipasukha Edbert (tengah) siswa SMAK PENABUR
Istimewa
Dipasukha Edbert (tengah) siswa SMAK PENABUR

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dipasukha merupakan nama yang diperoleh dari ibunda dan memiliki arti pulau kebahagiaan, sedangkan Edbert memiliki arti murah hati. Apabila disimpulkan, Dipasukha Edbert diharap bisa menjadi "terang" dan pelita kebahagiaan bagi orang-orang disekitarnya.

Demikian dikatakan Dipasukha Edbert (17), siswa SMAK PENABUR yang raih nilai sempurna di Ujian Nasional (UN) 2019 bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Terbukti, doa dari namanya kini terealisasi melalui kesuksesan dalam mengentaskan pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), dengan merain nilai UN rata-rata 400.

"Awalnya saya tahu meraih nilai sempurna di UN 2019 dari WhatsApp (WA) Mama. Mama sendiri mendapat informasi karena di WA Kepala Sekolah PENABUR Harapan Indah," kata Edbert, sapaan akrabnya, pada Netralnews, Sabtu (11/5/2019).

Menerima informasi tersebut, Edbert mengaku awalnya tidak menyangka dan hampir tidak percaya. Edbert bahkan mengira bahwa informasi tersebut hoax (bohong), sehingga Edbert mencoba mencari tahu kebenaran melalui internet, mencari bukti foto dan kabar dari guru lain.

"Ketika benar (mendapat nilai sempurna), saya senang sekali dan bangga. Saya bersyukur sama Tuhan, bisa peroleh nilai sempurna," ujar lelaki berkacamata ini.

Ketika mau masuk ruangan UN, diakui Edbert ada rasa gugup, tapi dia menyadari bahwa gugup bisa mempengaruhi hasil yang tak sesuai harapan. Maka sebelum masuk ruangan UN, Edbert coba tenangkan diri, menarik nafas panjang, minum, menyempatkan ke toilet dan memastikan fisik fit, serta bedoa.

Lelaki yang hobi membaca ini mengatakan, dalam hadapi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), fasilitas komputer SMAK PENABUR Harapan Indah amat menunjang. Ketika ada kendala juga ditangani cepat dan ketika berlangsung ujian, amat dijaga ketenangan. Kelancaran UN juga didukung pula oleh para murid yang sadar diri dan jujur dalam menjawab pertanyaan.

"Saat mengerjakan soal, saya juga tidak lupa minta pertolongan Tuhan dan teliti. Jadi pas kerjakan soal, full konsentrasi," jelas Edbert yang hobi Sepak Bola, Bulutangkis dan Tae Kwon Do ini.

Ketika UN berlangsung, Edbert mengaku tidak ada kesulitan berarti yang dia hadapi. Namun, ada salah satu mata pelajaran yang menurutnya paling sulit, yakni Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia bahkan menjadi salah satu mata pelajaran paling ditakuti sejak UN SD dan SMP, pasalnya mata pelajaran tersebut menurut Edbert sebagian besar jawabannya subjektif.

Maka dari itu, Edbert antisipasi dengan banyak latihan soal dan diskusi bersama teman-teman. Menurut Edbert, upaya tersebut terbilang efektif karena bisa memperoleh masukan teman-teman dan menentukan jawaban mana yang tepat.

Lebih lanjut Edbert katakan tidak ada tekanan sama sekali dari orang tua untuk belajar atau dalam menargetkan memperoleh nilai bagus. Diakui Edbert, kedua orang tua telah memberikan kepercayaan penuh padanya untuk dapat mengatur waktu belajar.

"Orang tua selalu pesan, lakukan yang terbaik dan maksimal maka hasilnya akan baik. Will do the best, and God will do the rest," ujar Edbert yang hobi membaca ini.
 
Edbert juga mengaku amat diperhatikan melalui asupan gizi lewat makanan yang lezat dan bergizi oleh orang tuanya. Misalnya saja menyajikan makanan favorit Edbert yakni ikan. Ikan merupakan salah satu makanan favorit Edbert, karena selain enak, ikan juga kaya akan protein. Tidak hanya itu, orang tua Edbert juga selalu menjadi pengingat waktu istirahat yang cukup agar tubuh Edbert tetap fit.

Jauh sebelum memperoleh pengumuman UN, ternyata Edbert telah diterima di National University of Singapore (NUS), Jurusan Sains. Sepengetahuan Edbert, NUS merupakan universitas nomor 1 di Asia. Edbert juga melihat, NUS memiliki hasil penelitian-penelitian yang bagus, dosen berkualitas dan telah meraih berbagai penghargaan. Edbert bahkan telah menargetkan bisa berkolaborasi dengan salah satu dosen yang dinilai bisa menunjang mimpinya.

Di tahun kedua saat telah menempuh pendidikan di NUS nanti, Edbert mengaku akan mengambil spesifik juruan data sains dan analitik. Jurusan tersebut dipilih untuk menunjang tercapainya cita-cita Edbert, yakni sebagai profesional dan ahli di bidang administrasi aktuaris dan perencana finansial profesional.

"Sains jadi jurusan unggul di NUS dan akreditasi paling bagus, maka saya pilih kuliah di NUS. Terkait cita-cita, karena saya suka matematika dan hitungan statistik serta komputer," jelas Edbert yang akan mulai pendidikan di NUS pada pertengahan Juli 2019 mendatang.

Menjelang kepindahannya ke Singapura, Edbert mengaku tak hanya diam diri. Dia telah merancang berbagai kegiatan yang akan dia jalani beberapa waktu dekat. Beberapa kegiatan diantaranya live in oleh sekolah, camp/ret-ret oleh Vihara, hingga lomba mengarang dalam Bahasa Inggris.

Diakhir wawancara, Edbert tak lupa mengucapkan terima kasih kepada para guru dan staf BPK PENABUR karena sejak SD, SMP hingga SMA telah dibimbing. Dia juga mengatakan, memberi apresiasi pada BPK PENABUR karena sejauh ini menghasilkan anak-anak berprestasi dan berkualitas.

Edbert juga berpesan pada BPK PENABUR terus melanjutkan dan mengembangkan metode pendidikan yang fokus pada karakter anak. Selain itu motto utama BPK PENABUR, yakni BEST (Be tought, Excel wolrdwide, Share with society dan Trust in God), terus diingat dan diimplementasikan oleh siswa sebagai identitas.

Edbert juga membagikan motto hidupnya, bahwa ada dua hal yang tidak bisa ditunda yakni berbakti pada orang tua dan berbuat kebajikan. Kata Edbert, motto ini diambil dari pernyataan seorang tokoh agama terkenal dari Taiwan, Master Cheng Yen.

"Di dunia ini manusia adalah makhluk sosial yang saling membutukan satu sama lain, sehingga diharap bisa tebarkan pesan positif dan buat dunia lebih baik daripada dipenuhi perang dan kebencian. Kedamaian dunia kini adalah dambaan sebagian besar orang di dunia. Jadi kebajikan hal penting dalam kehidupan sosial," tutup anak sulung dari dua bersaudara ini.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya