• News

  • Pendidikan

Peraih Nilai Sempurna di UN 2019 dari SMAK PENABUR Bagikan Tips Belajar

Siswa SMAK PENABUR, Dipasukha Edbert (17) peraih nilai 400 Ujian Nasional
Dokumen Netralnews/Martina Rosa Dwi Lestari
Siswa SMAK PENABUR, Dipasukha Edbert (17) peraih nilai 400 Ujian Nasional

JAKARTA, NETRALNEWS.COM -  Siswa SMAK PENABUR, Dipasukha Edbert (17), berhasil meraih nilai sempurna di Ujian Nasional (UN) 2019 bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Edbert, nama sapaannya, berhasilkan mengentaskan pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), dengan meraih nilai UN rata-rata 400.

Tak mau pelit ilmu, Edbert yang gemar Matematika ini membagikan tips belajar yang selama ini dia terapkan. Tips ini lantas disampaikan Edbert kepada Netralnews, Sabtu (11/5/2019).

Menurut Edbert, hal pertama yang harus diterapkan apabila ingin menjadi murid berprestasi adalah komitmen dengan diri sendiri. Komitmen memang tidak bisa langsung tumbuh didalam diri seseorang, menurut Edbert, komitmen harus dibangun seiring berjalannya waktu. Komitmen ini dibutuhkan dalam membagi waktu, memanfaatkan kesempatan dan menggapai peluang yang ada.

"Kalau belajar juga yang enjoy, jangan dijadikan beban. Jadikan belajar sebagai tantangan yang harus dilalui sebagai bagian hidup," kata Edbert saat dihubungj Netralnews.

Edbert juga pesan, selain belajar, seimbangkan juga dengan istirahat dan memperhatikan asupan makan. Seperti pernyataan "mens sana in corpore sano", yang berarti, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

"Seimbangkan antara tiga itu. Jadi menunjang pelajaran. Rutin juga beribadah, berdoa," kata Edbert yang gemar sepak bola, bulutangkis dan Tae Kwon Do ini.

Dijelaskan Edbert, dia biasanya sekolah pukul 06.30 WIB hingga 15.20 WIB. Apabila ada ekstrakulikuler, maka dia akan pulang sekolah pada pukul 16.30 WIB. Edbert juga mengaku biasanya ada kesibukan kursus bahasa asing, yakni Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin, hingga belajar kelompok.

"Setelah pulang sekolah, saya juga manfaatkan waktu untuk kerjakan tugas yang diberikan guru. Saya juga tidak mengulur waktu, tidak SKS (Sistem Kebut Semalam), karena waktu itu amat berharga," kata Edbert yang sudah diterima di National University of Singapore (NUS) Jurusan Sains ini.

Semangat Edbert ini juga tidak lepas dari nasihat pada buku yang pernah dia baca. Buku tersebut menuliskan: "Kita harus melakukan serangan terbaik kita, sebelum lawan menyiapkan diri". Maka dari itu, apabila ingin selangkah lebih maju maka kita harus mendapatkan peluang yang baik dan menyelesaikan tanggung jawab sesuai prioritasnya, yakni pekerjaan sekolah dan tak lupa pekerjaan rumah.

"Saya juga tipe orang yang tidak suka tidur malam-malam, jadi fresh di pagi hari. Seperti kertas kosong, putih belum diisi dan diinput materi pelajaran bisa efektif, diingat satu harian dan jangka panjang," jelas anak sulung dari dua bersaudara ini.

Dikatakan Edbert, dirinya biasa tidur pukul 21.00 WIB atau jam 22.00 WIB. Edbert lantas bangun pukul 04.00 WIB atau 04.30 WIB, lalu melakukan review materi pelajaran.

Diakui Edbert, pola belajar setiap orang berbeda. Misalnya, mungkin saja ada yang tidur di sore hari dan bangun tengah malam untuk belajar. Tetapi diakui Edbert, pola belajar di tengah malam tidak sesuai dengan dirinya.

Selain belajar, setiap akhir pekan Edbert juga menyediakan waktu untuk kegiatan sosial. Kegiatan sosial dilakukan, karena memberikan keseimbangan antara aktivitas akademik dan spiritual.

Dalam menyalurkan kegiatan sosial, Edbert tergabung dalam Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia sejak 10 tahun lalu dan dalam dua tahun terakhir, dia telah menjadi relawan. Sedangkan di sekolah, dia juga aktif dalam panitia komite, bakti sosial (baksos) dan tutor.

"Kalau ada beberapa kesempatan hang out, dimanfaatkan seperti biasa anak jaman sekarang, misalnya makan di luar. Tapi saya selalu prioritaskan hal yang harus dikerjakan dulu, seperti tugas sekolah dan pekerjaan rumah serta kegiatan sosial," jelas Edbert yang hobi baca artikel dan berita.

Diakhir wawancara, Edbert berpesan bagi teman-teman yang memiliki kendala kurang motivasi belajar. Hal yang jadi penting adalah bisa tetapkan pola belajar dengan tepat. Selain itu, pisahkan ruangan belajar dengan berbagai alat elektronik, termasuk gawai. Apabila tanpa gangguan alat elektronik, proses belajar dan hasilnya akan efektif. "Saya dan teman saya sendiri sudah membuktikannya," sambung dia.

"Belajar, jangan ditekan terus-terusan. Setiap 20-30 menit sekali istirahat. Tapi manfaatkan belajar 20-30 menit dengan sebaik mungkin," pesan Edbert.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli