• News

  • Pendidikan

Lembaga Pendidikan Katolik Terguncang, Guru Senior di SD St Lukas Pademangan Dipecat

Fransisca Tri Susanti sewaktu masih mengajar siswa kelas VI SD St Lukas
Netralnews/Dok.Pribadi
Fransisca Tri Susanti sewaktu masih mengajar siswa kelas VI SD St Lukas

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dunia pendidikan, khususnya sekolah formal di salah satu yayasan Katolik di Jakarta terguncang. Seorang guru yang telah mengabdikan diri selama 33 tahun di SD St Lukas, Pademangan, Jakarta Utara mengaku dipecat tanpa alasan yang jelas.

Ia adalah Fransisca Tri Susanti Koban. Kasusnya viral di media sosial setelah nasib buruk yang dialaminya ditulis dalam akun Facebook atas nama Birgaldo Sinaga. Berbagai komentar netizen turut bersimpati kepada Fransisca.

Fransisca menolak dan melawan keputusan pemecatan yang dikeluarkan yayasan. "Saya ingin kembali mengajar. Menjadi guru lagi. Bisa bertemu dengan anak murid saya lagi," tuturnya.

Pemecatan berawal dari munculnya tuntutan THR sesuai ketentuan di Yayasan St. Lukas pada akhir tahun 2017. Fransisca selaku wakil kepala sekolah dan dua orang temannya mengirim surat ke pihak Yayasan St Lukas.

Yang ingin mereka tanyakan adalah persoalan besaran THR yang dituangkan dalam Peraturan Umum Kepegawaian (PUK) yayasan SD St Lukas yang tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja.

Dalam Permenaker Nomor 6 Tahun 2016, besarnya THR adalah sebesar gaji pokok ditambah tunjangan tetap. Namun di Yayasan St. Lukas, THR tidak mengikuti ketentuan yang seharusnya. Bahkan beberapa tahun lalu THR di sana disebut hadiah hari raya dan besarannya sesuai kemampuan Yayasan.

Setelah PUK disahkan, besarnya THR adalah sebesar gaji pokok tanpa tunjangan tetap. Bahkan dua tahun terakhir, pihak Yayasan mengeluarkan surat edaran dan berdalih bahwa Pengurus Yayasan adalah pekerja sosial dan mendapat THR yang besarnya sesuai kebijakan Yayasan.

Fransiska (empat dari kiri) bersama rekan-rekannya di depan ruang sidang PHI

Merasa haknya dan hak-hak teman-teman sesama pegawai di SD St Lukas tidak dipenuhi, Fransisca melaporkan masalah itu ke Sudin Tenaga Kerja DKI Jakarta. Pada tanggal 21 Februari 2018, pihak Sudin Tenaga Kerja DKI memanggil pelapor dan pihak yayasan.

Atas arahan mediator Sudin Tenaga Kerja DKI Pak Ahmad Hazairin, pihak yayasan diminta mematuhi peraturan kementerian tenaga kerja tentang THR.

Hasil mediasi itu berbuntut panjang. Pihak yayasan merasa dipermalukan. Pada akhir Maret 2018, keluarlah SK pemberhentian dari jabatan wakil kepala sekolah SD kepada Fransisca.

Selanjutnya pada bulan April 2018 dimutasikan ke unit SMA (non job) dan ditempatkan di ruang BK SMA. Sebelumnya ia adalah guru SD kelas VI.

Fransiska saat berada di ruang BK unit SMA

Keputusan mutasi  berdampak pada hilangnya tunjangan sertifikasi dari pemerintah yang sebelumnya rutin diterima oleh Fransisca. Walaupun begitu, keputusan itu berusaha ia terima dengan ikhlas.

Namun tidak hanya sampai di situ, pada tanggal 1 Oktober 2018 keluar keputusan pemutusan hubungan kerja (PHK). Fransisca tidak terima karena alasan pemecatan tidak dilandasi alasan yang jelas.

Kasus yang dialami Fransisca juga membuat Pengacara Azas Tigor Nainggolan dan sejumlah advokat ikut prihatin. Kasus tersebut bisa mencoreng citra lembaga pendidikan Katolik.

“Saya sudah mendorong agar terjadi mediasi tetapi pihak Yayasan St Lukas tetap mem-PHK Bu Sisca. Selanjutnya kasus kami bawa ke Disnaker dan konsultasi dengan anggota DPRD DKI Jakarta,” tutur Tigor kepada Netralnews.com, hari Rabu (19/6/2019).

Hasil mediasi di Kantor Sudin Tenakertrans Jakarta Utara menganjurkan agar Bu Sisca dipekerjakan kembali dan hak-haknya dibayarkan. Pihak Yayasan St Lukas menolak anjuran tersebut dan melayangkan gugatan ke PHI PN Jakarta Pusat.

“Saya dan teman-teman advokat mendampingi Bu Sisca sejak awal. Sebaiknya pihak yayasan mau menerima anjuran Sudin Tenakertrans Jakarta Utara agar memperkerjakan kembali Bu Sisca dan membayar hak-haknya yang belum dibayar pihak Yayasan,” tegas Tigor.

Kasus pemecatan guru SD St Lukas tersebut juga mendapat perhatian dan simpati dari banyak sekali alumni.  Fransisca sudah mengajar selama 33 tahun dan sudah pasti tak sedikit jumlah generasi yang pernah diajarnya.

Salah satu alumni yang bernama Sesilia Bloom Blossom menulis di akun FB Birgaldo Sinaga, katanya, “Tolong diperjuangkan bang...ini guru sy di kelas 5 SD tahun 1990. Sy berani menjamin bahwa beliau guru yg sangat sangat baik dan disiplin dalam mendidik dgn dedikasi yg tinggi.”

Ia juga menegaskan bahwa Fransisca bukanlah guru bermasalah. “Beliau org jujur disiplin kreatif dan tegas tapi bukan guru killer yg ditakuti melainkan DISEGANI. Mknya kami sangat suka dan terkesan dgn cara beliau mendidik. Tolong diperjuangkan bang. Tuhan memberkatimu.”

Netralnews.com telah berusaha menghubungi salah satu pimpinan di Yayasan St Lukas Pademangan. Namun, dari nomor yang dihubungi, tidak pernah diangkat.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?