• News

  • Pendidikan

Kasus Viral Pemecatan Guru SD St Lukas yang Guncang Yayasan Katolik Kembali Memanas

Fransisca Tri Susanti sewaktu masih mengajar (kiri) dan cover PUK Yayasan Santo Lukas
Netralnews/dok.pribadi
Fransisca Tri Susanti sewaktu masih mengajar (kiri) dan cover PUK Yayasan Santo Lukas

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kasus Fransisca Tri Susanti Koban (53), guru SD St Lukas Pademangan, Jakarta Utara, yang dipecat oleh pihak yayasan tempat ia mengabdi selama 33 tahun masih terus berlanjut. Kasus yang dialami Fransisca viral di media sosial setelah nasib buruk yang dialaminya ditulis dalam akun Facebook atas nama Birgaldo Sinaga.

Kasus pemecatan berlarut karena Fransisca menolak dan melawan keputusan PHK yang telah dikeluarkan yayasan. "Saya ingin kembali mengajar. Menjadi guru lagi. Bisa bertemu dengan anak murid saya lagi," tuturnya.

Kasus pun kemudian bergulir dan masuk dalam ranah hukum. Sementara itu, di medsos berbagai tanggapan muncul sehingga kasus beredar luas. Banyak pihak merasa peduli dan menganggap kasus tersebut dapat mempengaruhi citra lembaga pendidikan Katolik.

Netizen yang memberikan komentar di antaranya adalah para alumni SD St Lukas. Banyak di antara mereka memberikan semangat kepada Fransisca agar memperjuangkan keadilan atas nasib yang dialaminya.

Hari Kamis (20/6/2019), beredar pesan melalui Whatsapp (WA) yang konon merupakan klarifikasi pihak yayasan atas beredarnya pemberitaan yang dianggap oleh pihak yayasan hanya berasal dari satu pihak.

Netralnews.com telah berulangkali menghubungi para pengurus yayasan untuk sekadar minta klarifikasi atas berita itu namun jawaban yang diberikan tidak menyatakan secara tegas atas kebenaran isi WA tersebut.

Salah satu anggota Dewan Pembina Yayasan, Joko Mulyadi, menjawab, “Maaf, silakan tanya kepada penasehat hukum atau pengacara Yayasan. Terima kasih.” Sementara nomor kontak pengacara yayasan  yang diberikan adalah nomor telepon sekolah Santo Lukas tidak diangkat.

Salah satu Pastor yang juga menjadi anggota dewan pembina, ketika dihubungi juga menyatakan agar Netralnews.com menanyakan kasus itu kepada pengurus yayasan (lainnya?).

Mengenai isi pesan WA yang konon berasal dari yayasan menyatakan bahwa mengenai “Kasus Fransiska” (disalin sesuai apa adanya seperti pesan yang beredar di WA):

1- Dia bukan Guru SD tapi SMA.

2- Dia dimutasi karena Ijazahnya tdk linier.

3- Sebetulnya sejak ada Peraturan Pemerintah Guru SD harus PGSD. Jadi tdk berhak atas Sertifikasi. Dan yg terima sejak Th 2010 harus mengembalikan sebesar Rp 150 juta.

4- Setelah dimutasi sebelum mendapat Uang sertifikasi ditanggung Yayasan. (Diberikan juga bagi yg lain yg dimutasi)

5- Dia mengucapkan banyak terima kasih (juga dia mengatas namakan Bernadet & Ferdiana).

6- Soal THR dia buat Surat ke Depnaker lalu dia cabut kembali.

7- penurunan murid kita yg dulu tiap kelas ada 7 paralel. Menurun tinggal 3 paralel, maka perlu penghematan agar Sekolah bisa terus berjalan.

8- Oleh karena itu Asuransi kita putuskan (sesuai rapat gabungan Pembina, Pengurus, Pengawas) hanya ikut Pemerintah BPJS.

9- Kasus sdh di pengadilan kita hormati Keputusan Pengadilan.

10- Kita sdh Mediasi hampir 10x tampa hasil.

11- Bagi yg ingin tau lbh jelas bisa diskusi dng Yayasan. Semua bukti2 bisa kami tunjukan,

11- Kami menyesalkan berita yg tdk berimbang hanya mendengar satu pihak.

12- Kami duga Kasus ini dimulai waktu Pengurus menetapkan keuangan Satu Pintu (yg selama ini setiap Guru bisa menjual Seragam, Buku, Kertas Ulangan dll. Menetapkan Uang pungutan kepada murid oleh masing2 Unit).

Di sisi lain, Fransisca juga memberikan tanggapan atas beredarnya WA tersebut. Fransisca menyatakan bahwa:

1. Saya Guru SD sesuai perjanjian kerja di awal tahun 1985. Sesuai ijazah dan sertifikat pendidik saya adalah guru SD.

2. Saya dimutasi ke SMA atas dasar yang tidak sesuai ketentuan PUK dan UU Ketenagakerjaan. Dan tidak sesuai dengan sertifikat pendidik saya. Dan saya yakin mutasi saya hanya berdasar dendam Ketua Umum Yayasan (Saya bisa membuktikan).

3. Ini peŕnyataan yang SANGAT TIDAK BENAR. Bisa diklarifikasi ke Pengawas (Bapak Ismu Wiyono). Saya punya bukti kuat bahwa itu alasan mengada ada.

4. Ini pernyataan BOHONG. Yayasan tidak pernah memberikan uang sertifikasi untuk guru yang dimutasi. Bahkan ketika saya menagih janji itu, Pengurus Yayasan tidak bersedia membayar dengan alasan saya sudah di PHK. Saya punya bukti untuk ini.

5. Iya betul. Saya mengucapkan terima kasih kepada Indradi Kristianto melalui japri whatsApp. Itu sesuai dengan saran Pak Tjandra Putra (Ketua Tim Hukum MPK KAJ). Katanya untuk membuka komunikasi dengan Indradi. Meskipun sesungguhnya saya sangat berat hati.

6. Ini betul. Saya membuat laporan ke Sudin Tenakertrans Jakarta Utara menanyakan masalah THR yang tidak sesuai ketentuan pemerintah dan sudah disepakati dalam penyusunan PUK. Tetapi ada oknum pihak Yayasan yang mengubah pasal THR tsb.

Saya mencabut surat laporan itu karena Indradi Kristianto mengancam dalam pertemuan guru/karyawan bahwa Yayasan tidak akan memberi Gaji Ke-13 kalau surat laporan itu tidak dicabut. Demi kepentingan teman2, saya terpaksa mencabut laporan tsb. Saya punya bukti untuk ini.

7. Penurunan murid harus menjadi introspeksi bersama. Perlu dicari penyebabnya bersama dengan guru2/karyawan. Dibicarakan dan dicari solusi bersama. Bukan dijadikan alasan penghematan. Faktanya awal tahun 2019 Yayasan bisa membawa guru/karyawan jalan2 ke Singapura. Bisa melakukan pembangunan yang sebenarnya tidak penting. Justru fasilitas belajar banyak yang diabaikan.

8. Yadapen dan Asuransi Bumi Putera diputuskan sepihak. Tidak ada musyawarah atau win win solution. Bahkan di depan rapat guru/karyawan, Indradi Kristianto menjelek2an Lembaga Yadapen. Mengatakan bahwa manajemennya amburadul dan hampir bangkrut. Guru/Karyawan diancam2 untuk segera ttd surat pernyataan bermeterai yang menyatakan keluar dari Yadapen. Untuk ini saya bisa menjelaskan dan punya bukti2.

9. Ini betul. Kasus sudah di Pengadilan. Dan Yayasan menggugat saya dengan tuduhan yang tidak terbukti. Yayasan memakai pengacara dari anggota Tim Hukum MPK KAJ (B. Woeryono). Yang seharusnya menjadi mediator internal di LPK.

10. Mediasi bipartit 2x. Mediasi tripartit 3x. Tidak ada titik temu karena tuduhan Yayasan terhadap saya TIDAK BENAR. Kalau saya dituduh melakukan pelanggaran berat, harusnya Yayasan melaporkan saya ke pihak yang berwenang. Kalau sudah ada keputusan tetap baru bisa digunakan untuk dasar melakukan PHK. Itu pun harus ada putusan terlebih dahulu dari PHI.

11. Sebaiknya dipertemukan 2 belah pihak dengan mediator internal. Bukan lagi klarifikasi satu per satu. Beberkan bukti2 di depan pihak2 yang berselisih dan mediator. Bukti2 saya sudah ada di MPK dan di Bapak Uskup. Silakan dibuka kembali.

12. Kebijakan Satu Pintu sebenarnya diterima oleh semua guru. Tetapi Yayasan terlalu otoriter dalam menerapkannya. Saya punya bukti untuk ini.

"Demikian tanggapan saya atas argumen Yayasan Pendidikan Umum Santo Lukas," tutur Fransiska.

Ia juga menegaskan selalu siap membuka diri untuk bermusyawarah. Ia mengaku sudah tiga kali bertemu Romo Pembina Yayasan, yakni Romo Yoseph Waryadi SVD. Fransisca menulis surat kepada beliau sudah 3 kali.

Ia juga sudah menulis surat kepada Pengawas Yayasan. Dua kali sudah bertemu dengan Pengurus MPK dan satu kali bertemu Bapak Uskup. Ia bahkan mengaku pernah dihakimi oleh Pengurus MPK satu kali di kantor Yayasan Santo Lukas.

“Jalur internal sudah saya tempuh. Tapi tidak membawa hasil. Karena Sang Ketua Umum Yayasan selalu berkelit bertemu dengan saya,” pungkas Fransisca.

Kasus yang dialami Fransisca memang miris. Fransisca merasa di-PHK secara tidak adil sementara ayah kandungnya yang bernama Michael Bala Koban bersama Pastor Opzeeland sebenarnya merupakan perintis Paroki Santo Alfonsus dan Sekolah Santo Lukas.

Ayah kandung Fransisca dahulu bekerja di Sekretariat, membantu Pastor Opzeeland membangun Paroki Santo Alfonsus dan Sekolah St Lukas.

“Bagai kacang lupa akan kulitnya, kini anak kandung Pak Bala yang telah mengabdi 33 tahun sebagai guru SD dibuang begitu saja tanpa alasan yang jelas oleh Yayasan St Lukas. Sekolah yang dulu dirintis oleh ayah Bu Sisca,” tulis Birgaldo Sinaga di akun Facebook yang membuat kasus ini menjadi viral.

“Seperti kata Bung Karno Jas Merah, Jangan sekali kali meninggalkan sejarah. Ingatlah pengorbanan mereka yang dulu berjuang hingga dirimu bisa seperti sekarang ini,” tambah Birgaldo.

Editor : Taat Ujianto