• News

  • Pendidikan

Khawatir Koteka Punah, Kemendikbud: Guru Perlu Integrasikan Kurikulum Kontekstual Papua

Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Pusat dan Daerah Kemendikbud RI, James Modouw
foto: antara
Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Pusat dan Daerah Kemendikbud RI, James Modouw

JAYAPURA, NETRALNEWS.COM - Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto meminta kepada warga di wilayah pegunungan tengah agar melestarikan koteka dengan cara mengajarkannya di sekolah

Koteka adalah pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki dalam budaya sebagian penduduk asli Pulau Papua. Koteka terbuat dari kulit labu air, Lagenaria siceraria. Isi dan biji labu tua dikeluarkan dan kulitnya dijemur. Secara harfiah, kata ini bermakna "pakaian" berasal dari bahasa salah satu suku di Paniai

"Salah satu cara untuk melestarikan koteka adalah dengan mengajarkannya di sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar hingga tingkat menengah di daerah Pegunungan Tengah Papua," kata Hari di Jayapura, Minggu (28/7/2019).

Wilayah Pegunungan tengah Papua meliputi sepuluh kabupaten yaitu Jayawijaya, Puncak Jaya, Pegunungan Bintang, Tolikara, Yahukimo, Nduga, Yalimo, Lani Jaya, Mamberamo Tengah, dan Puncak.

Hari menyebutkan, koteka dapat dimasukan sebagai bahan ajar muatan lokal di sekolah-sekolah yang ada di daerah pegunungan tengah Papua. Untuk mendukung ini maka perlu dibuat buku muatan lokal koteka serta perlu disusun kurikulum muatan lokal koteka.

"Dengan mengajarkannya pada generasi muda, diharapkan agar budaya koteka tidak hilang karena jumlah pemakai koteka di Papua semakin menurun," ujarnya.

Terobosan Kemendikbud

Sementara Hari Suroto mengusulkan agar koteka masuk dalam materi pembelajaran di sekolah. ternyata pihak dinas pendidikan pun sedang melakukan upaya-upaya yang sepertinya tidak bertentangan dengan harapan Hari agar kebudayaan di Papua tidak hilang.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI mendorong guru-guru di Bumi Cenderawasih khususnya di Kabupaten dan Kota Jayapura agar lebih kreatif dan adaptabilitas dalam mengintegrasikan kurikulum berkontekstual Papua-Papua Barat dengan materi konservasi alam serta budaya.

Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Pusat dan Daerah Kemendikbud RI, James Modouw di Jayapura, Senin (29/7/2019), mengatakan mengintegrasikan kurikulum konservasi alam dan budaya tekniknya sama dengan teknik pendekatan penerapan kurikulum kontekstual Papua dan Papua Barat.

"Kurikulum kontekstual pendekatannya bersifat integrasi materi, gambar dan ilustrasi yang bersumber dari lingkungannya namun cocok dengan target pencapaian kompetensi dasar yang dianjurkan dalam kurikulum 2013," tambahnya.

Menurut dia, demikian juga bahasa dan sastra daerah, menggunakan kosa kata bahasa lokal untuk pengenalan dan penyebutan objek dari berbagai materi belajar, dimana juga menggunakan berbagai materi sastra lokal seperti lagu rakyat, puisi, legenda, cerita rakyat dan mencapai kompetensi yang disyaratkan.

"Pola interaksi pembelajaran antara guru dan anak juga mengalami perubahan, pembelajaran lebih diutamakan pada penumbuhan sikap, kepribadian dan kemampuan berpikir kreatif, inovatif, kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan yang bersifat saintifik, yakni ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai media atau wacananya di mana jadwal pembelajaran disusun dalam bentuk tema-tema belajar, jadi bukan lagi pada mata pelajaran," jelasnya.

Dia menerangkan untuk kegiatan integrasi awalnya disusun oleh para guru instruktur di Kabupaten Jayapura sebanyak tujuh orang mulai dari TK sampai SMP, bagi yang mencoba mengintegrasikan berbagai materi konservasi dan budaya lokal serta mempresentasikan kepada yang hadir di antaranya para widyaswara, kepala seksi kurikulum, mulai dari proses integrasi pada bahan pembelajaran TK, kelas awal SD, kelas atas SD dan tiga mata pelajaran SMP yaitu, matematika, IPS dan Bahasa Indonesia.

"Kabupaten Jayapura akan memulai pelatihan kepada guru-gurunya melalui penerapan kurikulum kontekstual Papua dan Papua Barat dengan melakukan integrasi materi konservasi alam dan budaya pada Agustus 2019 sekaligus dicanangkan oleh Bupati Jayapura sebagai gerakan konservasi alam Gunung Cycloop hutan, laut dan Danau Sentani serta bahasa dan sastra daerah Kabupaten Jayapura," lanjutnya.

Dinukil Antara, Dia menambahkan Kabupaten dan Kota Jayapura baru saja diperkenalkan kurikulum kontekstual yang prinsipnya sama dengan kurikulum 2013 tetapi adaptasi materi dengan lingkungannya yang sangat ditekankan di mana proses ini akan diperkenalkan juga di Kabupaten Biak pada 29 hingga 31 Juli 2019.

Editor : Taat Ujianto