• News

  • Pendidikan

Ini Kunci Sukses Kepsek TKK Kotwis Sri Lestari

   Paparkan Best Practice 3D'sE, hantarkan Kepsek TKK Kotwis Juara I Kepala TK Berprestasi Tingkat Nasional.
Dok: Humas PENABUR
Paparkan Best Practice 3D'sE, hantarkan Kepsek TKK Kotwis Juara I Kepala TK Berprestasi Tingkat Nasional.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kepala Sekolah (Kepsek) TKK PENABUR Kota Wisata (Kotwis), Sri Lestari, SPd, MM berhasil meraih Juara I Kepala TK Berprestasi Tingkat Nasional. Dia menjadi juara setelah menjadi salah satu dari 34 perwakilan tiap provinsi dan dengan percaya diri memaparkan best pratice atau praktik terbaik dihadapan para tim juri dan rekan seperjuangan lainnya.

Best practice yang dipaparkan Lestari adalah 3D’sE, yakni akronim dari Discover, Design, Do, dan Evaluate, yang telah konsisten dilakukan selama dua tahun terakhir dan diimplementasikan kepada kelompok bermain, kelas TK A, serta TK B.

Siapa sangka, 3D'sE jadi salah satu langkah yang menghantarkannya menjadi Juara I Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional 2019 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal GTK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Diceritakan Lestari, perjuangan mengikuti lomba berjenjang berawal pada Juni hingga Agustus 2019, dimulai dari Kecamatan, Kabupaten, Provinsi, hingga maju ke babak seleksi nasional. Pada rangkaian tahapan seleksi, Lestari harus melalui berbagai tes seperti memenuhi administrasi, tes akademik, tes kompetensi, tes psikologi, tes wawancara, hingga pemaparan program.
Sistem 3D’sE sendiri dilaksanakan per satu term, yang berlangsung selama tiga bulan lamanya dengan sebuah proyek besar. Sekolah lantas telah mendesain tema dari setiap term dan timeline waktu tahapan 3D’sE yang ditotal berlangsung sebanyak empat kali dalam satu tahun.

Discover

Pada tahap ini, Guru dan Tenaga Kependidikan memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada anak pendidik dan anak didik akan memperoleh informasi sebanyak mungkin melalui guru mereka. Anak didik bisa mendengar, melihat, merasa, memegang materi pembelajaran.

"Contoh ketika kami memiliki proyek tentang kesehatan, maka kami punya tema tentang rumah sakit, proyeknya kesehatan. Jadi bagaimana supaya anak-anak punya informasi yang banyak tentang rumah sakit," jelas Lestari saat dihubungi Netralnews, Selasa (20/8/2019).

Para guru lantas membacakan berbagai buku tentang rumah sakit, menghadirkan dokter untuk menjelaskan tugasnya. Anak juga diperlihatkan video rumah sakit, bagaimana fungsinya, siapa saja yang ada di rumah sakit, beserta tugas dan kesibukkannya, bahkan anak didik juga bisa berkunjung ke rumah sakit.

"Jadi di tahap ini anak memperoleh informasi yang banyak sekali," ujar Lestari penuh semangat.

Desain

Pada tahap Desain, anak didik akan dikenalkan pada suatu masalah, misal apabila anak didik berada di posisi tenaga kesehatan seperti dokter atau perawat.

"Kalau kamu (anak didik) jadi perawat, kamu akan membuat seperti apa?, kalau ada orang sakit kamu harus bagaimana?. Jadi anak mulai menuangkan ide mereka untuk menjawab pertanyaan tadi," jelas dia.

Anak didik juga bisa menuangkannya dalam bentuk gambar dan tulisan. Misalkan anak yang ingin menjadi dokter, namun rumah sakit begitu terkesan menakutkan karena berwarna putih dan anak didik menuangkan ide agar rumah sakit didesain lebih menarik dan lebih indah, dan posisi guru di tahap ini adalah memotivasi dan memfasilitasi anak.

"Kalau anak mulai susah untuk menggambarkan ide, guru mulai bantu tanya lewat bercakap-cakap, lewat apa bagaimana, dan siapa, sampai muncul ide anak didik," ujar dia.

Do

Pada tahap Do, anak didik akan menterjemahkan ide tersebut dan mewujudkannya dalam bentuk nyata. Apabila pada tahap Desain hanya sekedar ide, gambar dan tulisan tetapi saat tahap Do, anak didik akan mewujudkan ide sebelumnya bisa bersama teman di kelas atau dengan orang tua di rumah.

"Kalau yang mau membuat di rumah dengan orang tua, kita (guru) membuat pengumuman kepada orang tua bahwa anak didik memiliki ide dan gagasan lantas minta untuk mewujudkan dari rumah. Namun ketika mereka bekerja di rumah, kita minta untum tolong di sy
shooting supaya anak-anak tahu apa yang dia lakukan," jelas Lestari.

Pada tahapan ini anak didik boleh menempel, melipat, menggunting, membuat kolase atau pentas.
Evaluasi

Di saat tahap evaluasi, hasil ide anak yang telah menjadi produk dan dibuat saat bersama teman di sekolah atau bersama orang tua di rumah akan di presentasikan. Tak hanya di depan teman-teman, presentasi ini juga ditampilkan di hadapan para orang tua yanh diundang. Hasil karya anak didik ini bisa dalam bentuk pagelaran, pameran hasil karya atau pentas drama, dan lainnya.

"Jadi dalam satu term, ada satu goal dan di tiga bulan akhir, kita pasti tampilkan hasil karya anak dengan mengundang orang tua. Jadi orang tua bisa datang ke program sekolah empat kali dalam satu tahun.

Anak Didik dengan Sistem Belajar Sistem 3D’sE

Menurut Lestari sistem belajar 3D'sE diterapkan untuk membekali dan membentuk anak siap bersaing 35 tahun mendatang diusia produktif. Menurut Lestari, 35 tahun mendatang ada kemungkinan terjadi perubahan yang semakin cepat sehingga diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kreatif berpikir, kritis, serta mampu berkolaborasi dengan orang lain melalui kemampuan komunikasi yang baik.

"Ide dari anak memang harus dikembangkan, bagaimana anak itu memiliki keberanian untuk mengungkapkan ide. Itu jadi pembelajaran yang sekarang terjadi di TKK PENABUR Kota Wisata sehingga anak didik siap menghadapi era globalisasi dan menghadapi pembelajaran abad 21," harap dia.

Diakui Lestari, kelancaran program ini juga tak lepas dari keterlibatan dengan orang tua yang membimbing anak di rumah. Sekolah juga memberikan jembatan antara orang tua dan guru serta tenaga kependidikam melalui Program School of Parents yang dilaksanakan selama sebulan sekali sebagai upaya menyamakan persepsi antara orang tua anak didik dan sekolah.

"Jadi bagaimana kita menjalin kerjasama dengan orang tua dan bermitra dengan orang tua. Anak ini kan dititipan orang tua dan kita selalu bilang ke orang tua bahwa kita saling bersahabat, bisa ngobrol dari hati ke hati," kata dia.

Lestari juga yakin, Program School of Parents mampu menjawab kebutuhan orang tua dibanding sekedar pelatihan atau seminar.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani