• News

  • Pendidikan

Buka InCob 2019, Menristekdikti Ingin Tingkatkan Ekosistem Riset di Indonesia

Menristekdikti Mohamad Nasir dan  Rektor Universitas Yarsi, Prof dr H Fasli Jalal, PhD (kiri).
BKKP Kemenristekdikti
Menristekdikti Mohamad Nasir dan Rektor Universitas Yarsi, Prof dr H Fasli Jalal, PhD (kiri).

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) terus melakukan upaya untuk meningkatkan ekosistem riset di Indonesia. Saat ini ada empat kebijakan Pemerintah untuk memastikan penelitian di Indonesia menjadi lebih produktif.

"Pemerintah baru saja menerbitkan kebijakan fundamental untuk meningkatkan ekosistem nasional terkait research and development, mencakup Peraturan Pesiden tentang lelang barang dan jasa yang mendukung penelitian dan pengembangan, Rencana Induk Riset Nasional atau RIRN 2017 hingga 2045, supertax deduction (pengurangan pajak) bagi sektor swasta hingga 300 persen apabila mereka mengalokasikan anggaran untuk penelitian dan pengembangan, serta Undang-undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nomor 11 Tahun 2019," jelas Menristekdikti Mohamad Nasirsaat membuka International Conference on Bioinformatics (InCoB) di Universitas YARSI, Jakarta pada Selasa (10/9/2019)

InCoB 2019 memiliki tema “Bioinformatics for Precision Medicine”, berlangsung pada tanggal 9-12 September 2019 di gedung Universitas YARSI, Jakarta. 

Di hadapan puluhan peneliti multidisiplin dalam negeri dan luar negeri pada bidang bioinformatika, Menteri Nasir mengatakan potongan pajak hingga 300 persen bagi perusahaan yang menginvestasikan anggaran bagi penelitian dan pengembangan atau ‘research and development’ dapat menjadi stimulan bagi dunia industri meningkatkan riset dan inovasinya. Dunia industri dapat menggandeng peneliti dan perekayasa dari perguruan tinggi dan instansi riset lainnya untuk kerja sama penelitian dan pengembangan yang dibutuhkan.

Kerja sama riset antara peneliti dalam negeri dan peneliti luar negeri juga sangat penting sebagai bagian dari transfer ilmu pengetahuan. Kemenristekdikti telah melakukan reformasi kebijakan untuk penyederhanaan dan percepatan izin bagi peneliti asing dengan tetap memperhatikan aspek kepentingan dan keamanan nasional.

"Terakhir kami mampu menyingkat proses izin dari 28 hari menjadi lima hari. Bahkan untuk izin meneliti tsunami di Palu, Sulawesi Tengah kami dapat selesaikan izin riset asingnya hanya dalam dua hari," ungkap  Mohamad Nasir.

InCoB merupakan flagship conference dari APBioNet, yang diinisiasi di Bangkok, Thailand pada tahun 2002. Selama 18 tahun, IncoB telah diselenggarakan setiap tahun di berbagai negara di Asia Pasifik dan telah berkembang menjadi salah satu konferensi bioinformatika terbesar yang menargetkan para praktisi yang berasal dari latar belakang biologi maupun komputer. Namun, Indonesia belum pernah sekalipun mendapatkan kepercayaan sebagai tuan rumahnya. 

Sejak tahun 2016, Pusat Penelitian Genetik Universitas YARSI telah mencoba mengajukan bidding kepada APBioNet untuk membawa InCoB ke Indonesia. Akhirnya perjuangan tersebut membuahkan hasil dengan ditunjuknya Indonesia melalui Universitas YARSI sebagai tuan rumah InCoB 2019. 

"Hal ini merupakan hal yang patut disyukuri dan disambut dengan baik oleh pemerintah dan komunitas ilmiah di Indonesia, karena dunia internasional mulai mengenali dan mengapresiasi perkembangan bioinformatika di Indonesia," ucap Rektor Universitas Yarsi, Prof dr H Fasli Jalal, PhD.

International Conference on Bioinformatics (InCoB) ini diselenggarakan bersama dengan Annual General Meeting of the Global Organisation for Bioinformatics Learning, Education and Training (GOBLET), Genomic Medicine Conference (GMC), dan South East Asian Pharmacogenomics Research Network (SEAPharm) Meeting. Turut hadir dalam kesempatan ini Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati, Kepala Yayasan YARSI Jurnalis Uddin, Rektor Universitas YARSI Fasli Jalal, Presiden Asia Pacific Bioinformatics Network (APBioNet) Mohammad Asif Khan, Kepala Pusat Penelitian Genetik/Genomik Universitas YARSI Rika Yuliwulandari, serta puluhan peneliti dari dalam dan luar negeri. 

Editor : Nazaruli