• News

  • Pendidikan

Mendikbud Ungkap Penangkal Ancaman dari Luar dalam Hadapi Revolusi Industri 4.0

Mendikbud ungkap penangkal ancaman dari luar dalam hadapi Revolusi Industri 4.0.
Ilustrasion
Mendikbud ungkap penangkal ancaman dari luar dalam hadapi Revolusi Industri 4.0.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, kebudayaan nasional salah satu pemegang peran penting sebagai alat penangkal berbagai ancaman dari luar. Khususnya dari pengaruh ideologi dan pemikiran yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

"Jadi untuk menangkal ancaman-ancaman dari luar, terutama pemikiran dan ideologi dari luar itu tidak harus dengan kekerasan, tetapi dengan soft approach atau pendekatan budaya," kata Muhadjir.

Pernyataan tersebut disampaikan Mendikbud saat Pekan Kebudayaan Nasional Tahun 2019 yang dibuka oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin (7/10/2019).

Mendikbud menegaskan kembali bahwa cita-cita kemerdekaan Indonesia bukan hanya menghadirkan kesejahteraan yang dicapai melalui pembangunan ekonomi saja. Tetapi memerlukan pembangunan yang lebih komprehensif dan secara mendasar menyentuh dimensi manusia.

Mendikbud menegaskan kembali bahwa visi besar berbangsa dan bernegara terkandung di dalam alinea pertama Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yakni “Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”. Jika dirumuskan lebih singkat, maka visi tersebut sesuai dengan lirik pada stanza kedua Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, yakni "Indonesia bahagia".

"Karena itu, sudah tepatlah bila Pekan Kebudayaan Nasional ini mengangkat tema 'Ruang Bersama Indonesia Bahagia',” tutur Mendikbud.

Muhadjir mengingatkan bahwa pembangunan manusia pada hakikatnya merupakan pembangunan yang berbasiskan kebudayaan.

"Dalam menghidupkan kreativitas dan keanekaragaman ekspresi budaya, kita memerlukan ruang interaksi yang inklusif. Tidak ada keanekaragaman budaya tanpa interaksi yang melibatkan semua golongan," tuturnya.

Agar tetap menjaga kebinekaan, maka menurut Muhadjir, interaksi sosial di masyarakat yang multikultural wajib diberikan ruang. "Di sinilah Pekan Kebudayaan Nasional memainkan peranan penting," sambung Mendikbud.

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid melaporkan setidaknya terdapat 245 kegiatan dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Nasional selama tujuh hari penyelenggaraannya. Terdapat empat kompetisi permainan tradisional, enam kompetisi karya budaya, 27 konferensi kebudayaan, 120 pertunjukan, 17 pameran budaya, 10 lokakarya warisan budaya, 50 ragam kuliner tradisional, dan sebuah pawai budaya yang akan dilaksanakan pada tanggal 13 Oktober 2019.

"Keseluruhan rangkaian kegiatan ini dibangun atas dasar gotong-royong dengan para pemangku kepentingan, para pelaku dan pegiat budaya, serta berbagai unsur kementerian/lembaga lain dan pemerintah daerah," ujar Hilmar Farid.

Berbagai pihak yang terlibat dalam gotong royong penyelenggaraan Pekan Kebudayaan Nasional meliputi 58 sanggar dan komunitas, 31 seniman dan musisi, serta lebih dari 3.500 peserta pawai budaya dari 26 provinsi dan komunitas budaya.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani