• News

  • Pendidikan

Guru Dianggap Mencoreng Nama Baik Sekolah

Sekjen FSGI Retno Listyarti (bantenpos.co)
Sekjen FSGI Retno Listyarti (bantenpos.co)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, menegaskan guru yang memberi nilai nol di rapor justru mencoreng nama baik sekolah dan guru di Indonesia. Pasalnya, tidak mungkin di Semester II siswa mendapatkan nilai nol, karena ketentuan penilaian rapor di Kurikulum 2013 adalah nilai semester ganjil dan genap diakumulasi.

"Guru yang memberi nilai nol di rapor, mencoreng nama baik sekolah dan guru di Indonesia," ujarnya, saat mendampingi keluarga Dvijatma Puspita Rahmani mengadu ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Senin (5/9/2016).

Dvijatma Puspita Rahmani, atau yang akrab dipanggil Puspita, merupakan murid kelas X SMAN 4 Bandung. Dia tidak naik kelas karena mendapatkan nilai nol di rapor untuk mata pelajaran matematika. Guru beralasan Puspita malas mengikuti pelajaran karena tiga pekan tidak masuk sekolah. Sedangkan orang tua Puspita mengatakan Puspita tidak mengikuti kegiatan sekolah karena sakit dan mengikuti Olimpiade Biologi.

"Jika setelah proses ini guru tersebut dinyatakan bersalah, maka perlu dihukum, dengan melaporkan ke pihak berwenang karena memberi nilai nol pada murid, bisa diajukan pidana untuk mendapatkan hukuman tahanan selama 3,5 tahun dan adanya hukum perdata, karena pihak keluarga telah dirugikan baik secara materi selama proses pendidikan dan mencoreng nama baik Puspita. Tapi ini baru awal, tapi kedepannya diusahakan adanya upaya musyawarah," kata Retno.

Menurutnya, tidak hanya mata pelajaran Matematika, Puspita juga mendapatkan nilai rendah di mata pelajaran Bahasa Indonesia, yakni nilai 38.

"Ini namanya tidak ada penghargaan sama sekali kepada anak. Padahal di Semester I, Puspita mendapatkan nilai 50, masa di rapot nilainya nol, seperti yang kita ketahui kalau nilai rapor itu, nilai semester I dan II dijumlah dan dibagi dua, seharusnya Puspita dapat nilai 25, tidak mutlak nol saja," kata dia.

Selain ke KPAI, kasus ini juga sudah dilaporkan ke Gubernur Jawa Barat dan Dinas Pendidikan Kota Bandung serta Inspektur Jederal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Lince Eppang