• News

  • Pendidikan

Mahasiswa Indonesia Harus Tingkatkan Daya Saing

mahasiswa (thejournalatecu)
mahasiswa (thejournalatecu)

BATAM, NETRALNEWS.COM - Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri mengajak mahasiswa meningkatkan kemampuan agar bisa memenangkan kompetisi di era persaingan bebas.

"Indonesia jangan hanya jadi penonton, tapi harus jadi pemain dan sekaligus pemenang. Generasi muda harus bekerja dan belajar keras untuk tingkatkan daya saing itu," kata Menteri Hanif Dhakiri saat mengisi kulaih umum di Batam Tourism Polytechnic, Kota Batam Kepulauan Riau, Jumat (14/10/2016).

Saat ini Indonesia berhadapan dengan persaingan yang ketat dengan negara-negara berkembang lainnya. Hal itu menjadi tantangan bersama demi memastikan Indonesia memiliki daya saing tinggi.

Ia menjelaskan, ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk meningkatkan daya saing diri, yaitu penguatan karakter, kompetensi, dan inovasi.

Menurut dia, dari ketiga potensi itu, karakter adalah hal yang terpenting bagi tenaga kerja di bidang apapun.

"Mau di industri apapun, karakter nomor satu. Ke dua kompetensi, ini harus diperkuat. Dan ketiga inovasi, kreativitas, kaitannya dengan produktivitas. Produktivitasnya harus digenjot terus," tuturnya.

Menteri juga mengingatkan mahasiswa untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya utk mendidik diri sendiri secara keras.

"Keraslah pada diri sendiri. Bila tidak keras pada diri sendiri maka kenyataan yang akan keras pada diri kita," pesan Menteri.

Sementara itu, demi meningkatkan daya saing masyarakatnya, pemerintah menggenjot kualitas pendidikan dan pelatihan vokasi.

Ia percaya, dengan pendidikan dan pelatihan vokasi yang bermutu, maka masyarakat Indonesia mampu bersaing dengan tenaga kerja negara lain.

"Strategi pemerintah adalah dengan menggenjot pendidikan dan pelatihan vokasi. Seperti Poltek, program D1, D2, dan seterusnya. Yang intinya pembentukan kompetensi profesional siswa atau calon tenaga kerja," ujar Menteri.

Jumlah masyarakat terdidik di Indonesia nisbi meningkat, seiring menjamurnya perguruan tinggi. Namun, angka pengangguran dari lulusan perguruan tinggi dan SMK juga banyak.

"Ini artinya ada masalah. Ini jadi tantangan pendidikan formal kita," ucap Menteri.

Menurut dia, lulusan perguruan tinggi dan SMK belum menjawab kebutuhan industri, sehingga belum dapat dipekerjakan.

Karenanya, pemerintah akan fokus pada bidang-bidang tertentu yang hendak dikompetisikan.

"Dan masif dari jumlahnya sehingga bisa penuhi kebutuhan tenaga kerja yang berdaya saing," imbuh Hanif.

Editor : Lince Eppang
Sumber : Antara