• News

  • Pendidikan

Anak SD Mulai Tawuran, Ini Tanggapan Kak Seto

Tawuran pelajar (kaskus)
Tawuran pelajar (kaskus)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Ketua Umum Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto, menegaskan tawuran yang dilakukan anak usia sekolah dasar (SD) disebabkan karena anak usia SD memiliki pribadi untuk meniru, kurangnya perhatian orang tua pada penyaluran agresifitas anak-anak secara positif, dan tuntutan yang tinggi terhadap nilai akademik anak-anak sehingga mendorong anak untuk memberontak.

Kak Seto mengomentari tawuran yang sekarang ini sudah mulai dilakukan anak usia SD, seperti yang baru-baru ini terjadi di Semarang.

“Kami menyadari bahwa anak merupakan peniru terbaik di dunia,” ujarnya, di Jakarta, Jumat (25/11/2016).

Usia remaja memiliki karakter yang suka tantangan, berontak terhadap kemapanan, senang mencoba-coba, memiliki perilaku yang berisiko dan seringkali terjebak pada penghakiman benar-salah yang tidak tepat.

Kak Seto juga menyampaikan beberapa faktor yang kemudian mengakibatkan terjadinya tawuran yakni karena anak itu meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya, sehingga mereka meniru hal-hal negatif seperti merokok, tindak kekerasan pemerkosaan maupun tawuran.

Tawuran ini, sambungnya, dapat terjadi karena kurang perhatian atau abainya orang tua dan pendidik pada penyaluran agresifitas anak-anak secara positif. Selain itu pegharagaan atas kecerdasan setiap anak yang saling berbeda dan kadang anak dituntut sekedar sukses di bidang akademik .

“Mereka yang sukses di bidang akademik adalah anak yang cerdas, tetapi orang yang sukses di bidang kesenian, di bidang olahraga dan lainnya seolah kurang mendapat perhatian,” tutur Kak Seto.

Tuntutan tersebut juga dinilai dapat menjadi salah satu penghambat sehingga aak-anak tertekan, trauma, kemudian meyalurkan segala agresivitasnya melalui perilaku agresivitas negatif para seniornya.

Kak Seto juga menyatakan bahwa hal ini merupakan perhatian bagi LPAI, salah satu upaya menanggulangginya adalah dengan menyelenggarakan anjangsana (roadshow), pelatihan para orang tua dan guru dengan beberapa materi diantarannya mengenai cara mendidik, bagaimana cara menghargai potensi akan yang saling berbeda, sehingga anak percaya diri dan bisa bekerjasama dengan pemangku pendidikan.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Lince Eppang