• News

  • Pendidikan

Indonesia Menyelamatkan Penyelenggaraan Olimpiade Sains Internasional

Sains menyatukan perbedaan (SHSNet)
Sains menyatukan perbedaan (SHSNet)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Presiden Olimpiade Sains Junior Internasional (International Junior Science Olympiad-IJSO) Paresh K Joshi mengatakan, Indonesia berjasa atas niat baik dan pertolongan untuk mengambil alih dan menyelamatkan nasib penyelenggaraan IJSO ke 13.

Pasalnya, usai penyelenggaraan Olimpiade Sains Junior Internasional ke-12 di Korea Selatan, Kamboja yang ditunjuk sebagai tuan rumah Olimpiade Sains ke-13 mengundurkan diri di tahun ini.

Karena banyak ketidakpastian, Presiden IJSO menyampaikan ke pemerintah Indonesia melalui Kemendikbud untuk bersedia sebagai tuan rumah. Permohonan itu pun disambut baik oleh pemerintah Indonesia.

Terkait parhelatan Olimpiade Sains ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, Olimpiade Sains selain sebagai ajang kompetisi sains, juga untuk bermusyawarah dan menemukan strategi mengembangkan pendidikan melalui kreativitas dan keanekaragaman global dalam ilmu sains.

Muhadjir menegaskan, Indonesia merasa terhormat menjadi tuan rumah Olimpiade Sains ini. Olimpiade Sains diikuti oleh 48 negara dan digelar di Nusa Dua, Bali. Penyelenggaraan Olimpiade ini untuk yang ke-13 kali dan tahun ini mengangkat tema Science for Creative Innovation.

“Sungguh kehormatan bagi kami menjadi bagian dari komunitas acara IJSO. Kami merasa terhormat bahwa para peserta berkenan mengunjungi Indonesia tidak hanya untuk bersaing dalam kompetisi, tetapi juga untuk bermusyawarah dan menemukan strategi untuk mengembangkan pendidikan melalui kreativitas daan keanekaragaman global dalam ilmu sains,” ujar Mendikbud dalam sambutan tertulis yang dibacakan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad, Sabtu (3/12/2016).

Olimpiade yang diseleggarakan pada 2-11 Desember 2016 akan mempertandingkan mata pelajaran Fisika, Biologi, dan Kimia untuk siswa yang berusia 15 tahun ke bawah atau jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), dimana Tes Olimpiade terdiri dari tiga jenis yakni pilihan ganda (MCQ), teori, dan tes praktek (Experimental Test).

Olimpiade diikuti oleh 276 siswa, 123 pendamping, 8 visitors, 25 observers, dan 5 executive members, dengan total peserta yang akan ikut sebanyak 437 orang. Peserta dari Indonesia sendiri diikuti oleh 12 siswa dan 6 pendamping.

Peserta dari Indonesia tersebut yakni Albert Sutiono, Aditya David Wirawan, Wiston Cahya, Nixon Widjaja.

Selanjutnya Raymond Valentino, Arkananta Rasendriya, Tomotius Jason, Tanya Nuhaisi Wulandari, Epafroditus Kristiadi Susetyo, Gede Aryana Saputra, Haniif Ahmad Jauhari, dan Joan Nadia.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Ditjen Dikdasmen Supriano mengatakan, Indonesia telah melakukan persiapan pelaksanaan IJSO ke-13 ini selama 8 bulan.

“Pasca pengunduran diri negara Kamboja sebagai tuan rumah IJSO tahun 2016, Indonesia melalui Kemendikbud menyatakan siap menjadi tuan rumah IJSO ke-13,” jelas Supriano.

Ia mengatakan, penyelenggaraan IJSO dipandang sangat penting dilaksanakan untuk mempromosikan minat atau gemar terhadap sains kepada peserta didik khususnya siswa Sekolah Menengah Pertama. Selain itu juga memiliki potensi untuk mempromosikan perdamaian dan kesepahaman global.

“Hal tersebut ditunjukan bahwa dalam pelaksanaan IJSO tidak boleh ada negara yang delegasinya dikeluarkan dari keikutsertaannya karena alasan latar belakang politik, ketiadaan hubungan diplomatik, kurangnya penghargaan dari negara penyelenggara IJSO, pemberlakuan embargo, atau alasan lainnya,” jelas Supriano.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Lince Eppang

Apa Reaksi Anda?