• News

  • Pendidikan

FSGI Dukung Mendikbud Moratorium UN

Sekretaris Jenderal FSGI Retno Listyarti menegaskan perlunya moratorium UN (Martina Rosa)
Sekretaris Jenderal FSGI Retno Listyarti menegaskan perlunya moratorium UN (Martina Rosa)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mendukung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy untuk merealisasikan moratorium Ujian Nasional (UN) yang telah diperjuangan FSGI sejak dulu.

Setelah pernah melakukan Walk Out (WO) pada konferensi UN pada tahun 2013, akhirnya FSGI kembali melanjutkan perjuangan untuk mendukung program usulan Mendikbud yang rencananya akan dilakukan Rapat terbatas (ratas) dengan Presiden Joko Widodo dalam waktu dekat.

Maka dari itu, FSGI melakukan pertemuan dengan Mendikbud untuk mengadakan dialog mengenai moratorium UN.

"Yang penting kita moratorium dulu, setelahnya nanti kita pikirkan bersama-sama, kalau ada evaluasi diperbaiki. Kita punya menteri yang memiliki program seperti itu kita dukung," ujar Sekretaris Jenderal FSGI Retno Listyarti saat ditemui redaksi ketika akan melakukan dialog dengan Mendikbud, Selasa (13/12/2016).

Retno menyampaikan ada dua hal pokok yang akan dipaparkan kepada Mendikbud sebagai pernyataan dukungan, yakni UN melanggar hukum sesuai dengan pasal-pasal yang sebelumnya telah ia nyatakan yang terdapat pada Peraturan Pemerintah (PP) No.19 Tahun 2005.

Selain itu pendagogis UN, membuat pelajaran 'kering', UN juga yang bertujuan pemetaan tidak berfungsi. "Contoh SMK, bidang keahliannya berbeda, penentu kelulusan UN Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris. Kalau tidak lulus bukan berarti tidak berkualitas, padahal ujian sekolah lulus. Ini salah kaprah," jelas Retno.

Anggaran yang dikeluarkan dalam pelaksanaan UN juga terbilang sangat besar dan Retno nilai terkesan sia-sia. Maka dari itu, ia menyarankan dana anggaran UN lebih baik digunakan untuk membangun dan memperbaiki fasilitas, sarana/prasarana penunjang pendidikan dan untuk pelatihan sebagai peningkatan kualitas guru yang saat pelaksanaan UN hanya sekedar mengajarkan soal-soal ujian saja kepada murid, sehingga murid tidak mampu menganalisa permasalahan.

"Guru sekolah tidak serendah itu, hanya mengajar untuk kerjakan soal," tegas Retno.

"UN seharusnya tidak menentukan kelulusan, jika seharusnya murni pemetaan, tidak dilakukan tiap tahun, tidak tiap sekolah, tidak tiap anak dan tidak di akhir proses pembelajaran. Saya rasa permasalahan akan kepotret, dengan moratorium benahi semua,"tambah Retno.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Lince Eppang