• News

  • Pendidikan

FSGI: Ujian Nasional Tak Memotret Persoalan SMK

SMK (katariau.com)
SMK (katariau.com)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mendukung diperolehnya keadilan bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melalui moratorium UN, pasalnya SMK yang mempelajari bidang tertentu disamaratakan untuk melaksanakan UN dengan menghadapi soal Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris.

Demikian dikatakan Sekretaris Jenderal FSGI Retno Listyarti saat menyampaikan salah satu alasan UN harus di moratorium, Rabu (14/12/2016).

Perjuangan Retno bagi SMK juga bukan tanpa alasan, pasalnya ia mengetahui target program pencanangan 70 persen sekolah akan berbasis vokasi di tahun mendatang, maka dari itu ia menyampaikan beberapa pandangan terkait pemetaan pedidikan sebagai salah tujuan UN yang diharapkan pemerintah saat ini.

"Menurut saya UN tidak memetakan masalah, tidak memotret persoalan SMK. Di Indonesia Timur, di Jawa bahkan, mereka hanya belajar teori, tetapi tidak dapat praktek karena tidak ada laboratorium," jelas Retno saat ditemui redaksi ketika akan melakukan dialog dengan Mendikbud,

Ia juga melihat, jika peserta didik SMK dapat melakukan praktik ketika sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) saja dan tidak pernah melakukan praktik di sekolah.

"Maka kami menyebutnya SMK sastra, karena yang dipelajari hanya teori karena tidak terpotret permasalahanya. Ketika SMK lulusannya jelek dan industri mengeluh, apa itu didapat dari pemetaan hasil UN?, kan tidak mengukur itu," ujar Retno.

Maka dari itu Retno mengusulkan salah satu rekomendasi ketika UN telah di moratorium, anggaran yang begitu besar yang digelontorkan pemerintah, lebih baik digunakan sebagai dana perbaikan dan pembangunan sarana prasarana fasilitas sekolah dan pembekalan sebagai peningkatan kualitas guru.

"Misalnya lihat di SMK ini, kok hasil pelajaran ini nya jelek ya, apa ya yang salah?. Owh, ternyata tidak ada bengkel. Maka dibuatlah bengkel. Tiga tahun dilihat lagi, pasti hasilnya meningkat. Jadi anggaran lebih baik di alokasikan ke sarana prasarana," jelas Retno.

Retno juga mengatakan, memang kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh sarana prasarana semata, tetapi hal tersebut menjadi salah satu faktor pula untuk mendukung peningkatan kualitas peserta didik

Retno kembali menegaskan, UN seharusnya tidak menentukan kelulusan, jika seharusnya murni pemetaan, tidak dilakukan tiap tahun, tidak tiap sekolah, tidak tiap anak dan tidak di akhir proses pembelajaran.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Lince Eppang